Penelitian | April-Juni 2020

Dampak Ekonomi Terhadap Pemanasan Bumi

Ada hubungan signifikan antara pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan pemanasan global. Semakin tinggi pertumbuhan, semakin rendah emisi karbon yang dihasilkannya—dengan syarat indeks pembangunan manusianya sejalan.

Muhammad Mulya Tarmizi

Peneliti Inter CAFE IPB

DALAM beberapa tahun terakhir, perubahan iklim dan pemanasan global menjadi isu internasional yang dihadapi semua negara. Kegiatan manusia secara jelas berdampak pada perubahan iklim serta peningkatan emisi gas rumah kaca di bumi sehingga menjadi konsen semua negara menanggulanginya hari ini. Degradasi lingkungan, atau menurunnya kualitas lingkungan, juga semakin terasa dalam beberapa dekade ini.

Dampak peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer bumi ini akan memerangkap radiasi panas matahari dan secara langsung meningkatkan suhu bumi yang dipastikan mengganggu iklim secara global.

Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan manusia secara garis besar terdiri dari gas karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, dan gas fluor (Edgar, 2016). Komposisi penyusun gas rumah kaca dunia terbesar pada 2016 merupakan gas karbon dioksida sebanyak 73%, diikuti emisi gas metana sebesar 18%, nitrogen dioksida sebesar 6%, dan emisi gas fluor sebanyak 3%.

Ada banyak faktor yang membuat emisi naik dan bumi memanas. Tapi, variabel utama yang diduga memiliki relasi kuat mengenai degradasi lingkungan adalah pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi (Zhu, 2016). Pertumbuhan ekonomi yang berasal dari naiknya produksi barang dan jasa akan meningkatkan konsumsi energi penghasil gas karbon dioksida.

Menurut teori Environmental Kuznets Curve (EKC), kerusakan lingkungan yang parah banyak ditemukan di negara-negara berkembang, mayoritas memiliki pendapatan per kapita yang rendah (Lau, 2014). Teori ini menjelaskan bahwa pada negara-negara praindustri atau negara agraris, yang secara bertahap akan mengadopsi mekanisasi pertanian dan industri, jumlah pemakaian sumber dayanya meningkat karena adanya teknologi. Akibatnya, polusi meningkat.

Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan degradasi lingkungan juga membuat negara tersebut sadar akan ekspektasi harapan hidup, air yang lebih bersih, peningkatan kualitas udara dan habitat yang lebih bersih, sehingga perbaikan lingkungan menjadi prioritas dalam pembangunan ekonomi. Transisi dari negara praindustri menuju industrial economies dan post-industrial economies akan membentuk hubungan dalam kurva yang membentuk huruf U terbalik antara pendapatan per kapita suatu negara dengan degradasi lingkungan (Fodha, 2015).

Kurva Kuznets

Penelitian ini mengukur dampak pertumbuhan ekonomi dalam lingkup kluster pendapatan per kapita negara-negara di dunia terhadap tingkat emisi karbon dioksidanya. Sehingga akan menjadi gambaran bagaimana respons dari setiap kelompok negara atas pertumbuhan ekonomi dengan dampaknya terhadap lingkungan, khususnya tingkat emisi karbon dioksida.

Jenis dan Sumber Data
Penelitian memakai data sekunder yang bersifat kuantitatif, berupa data panel yang merupakan data time series dan cross section. Data time series adalah data selama 26 tahun dimulai dari tahun 1992 hingga 2017. Sedangkan data cross section adalah data dari lima negara dari masing-masing kelompok pendapatan per kapita negara menurut pengklasifikasian dari world bank.

Sampel dibagi dalam empat kelompok: negara berpenghasilan rendah, berpenghasilan rendah-menengah, menengah-atas, dan atas. Pemilihan sampling negara ini berdasarkan tingkat emisi gas karbon dioksida per kapita tertinggi di masing-masing kelompok negara serta ketersediaan data yang dimiliki di masing-masing kelompok negara.

Daftar klasifikasi negara yang digunakan dalam penelitian

Klasifikasi negara.

Dalam penelitian ini, ada dua model yang akan diestimasi melalui analisis panel data dengan variabel-variabel yang digunakan sebagai berikut:

Model empiris 1 dan 2

Hasil Estimasi Model Empiris 1

***) Signifikan pada 0.01 level; **)Signifikan pada 0.05 level ; *)Signifikan pada 0.10 level; NB: (Angka dalam tanda kurung merupakan nilai p-value)

Hasil Estimasi Model Empiris 2

***) Signifikan pada 0.01 level; **) Signifikan pada 0.05 level ; *) Signifikan pada 0.10 level; Angka dalam tanda kurung merupakan nilai p-value.

 

Hasil Estimasi Variabel Endogen (PDB Per Kapita)

Hasil estimasi variabel endogen.

Variabel Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita dalam model empiris 1 dan model empiris 2 menunjukkan bahwa tingkat pendapatan kelompok negara berpenghasilan rendah hingga menengah ke atas memiliki dampak positif dan signifikan terhadap emisi gas karbon dioksida. Sebaliknya, negara dengan penghasilan tinggi punya dampak negatif terhadap jumlah emisi gas rumah kaca. Artinya, semakin maju sebuah negara, yang ditunjukkan oleh PDB yang tinggi, produksi emisinya semakin rendah. Konsistensi hasil estimasi ini menunjukkan bahwa karakteristik pendapatan suatu negara akan mempengaruhi perubahan tingkat emisi gas karbon dioksida.

Dari variabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai proksi pengetahuan, dalam model empiris 2, terlihat bahwa IPM berperan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di seluruh kelompok negara. Dalam model empiris 1 terlihat bahwa IPM berperan menurunkan tingkat emisi gas karbon dioksida di kelompok negara berpendapatan menengah ke atas dan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi IPM, yang berperan mendorong pertumbuhan ekonomi, semakin rendah emisi karbon yang diproduksinya.

Sementara populasi urban dalam model empiris 1 dan model empiris 2 menunjukkan adanya dampak positif di kelompok negara berpendapatan rendah, tinggi, dan panel keseluruhan kelompok negara, baik pada model empiris 1 maupun model empiris 2. Artinya, urbanisasi meningkatkan emisi gas karbon dioksida karena populasi perkotaan meningkat di suatu wilayah yang berdampak pada peningkatan produksi dan konsumsi suatu barang (Kasman & Duman, 2015).

Adapun konsumsi energi terbarukan memiliki dampak negatif dan signifikan terhadap emisi gas karbon dioksida baik dalam model empiris 1 maupun model empiris 2. Konsumsi energi terbarukan merupakan sumber energi sebagai substitusi konsumsi energi fosil yang menghasilkan emisi gas karbon dioksida (Zoundi, 2017). Semakin tinggi jumlah dan proporsi penggunaan konsumsi energi terbarukan maka semakin menurun emisi gas karbon dioksida di suatu wilayah/negara (Menyah & Wolde, 2010; Leitao et al, 2013); Jebli et al, 2015); Liu, 2016); Nguyen et al, 2019)

Variabel Dummy Kyoto atau variabel dummy antara sebelum dan sesudah penandatanganan Protokol Kyoto—yang menandai kepedulian negara-negara terhadap pemanasan global pada 1997—hanya direspons signifikan oleh kelompok negara berpendapatan menengah ke atas dan tinggi merupakan bentuk komitmen kedua kelompok negara tersebut dalam menjalankan protokol Kyoto. Kebijakan-kebijakan pemerintah negara maju bukan hanya melakukan ratifikasi Protokol Kyoto namun memiliki target dan langkah mitigasi terhadap pemanasan global yang nyata dan terukur seperti pada negara-negara Eropa (Galderisi & Erica, 2018).

Kesimpulan
Estimasi kedua model empiris ini menunjukkan hasil yang konsisten terhadap teori yang dikemukakan oleh Greiner (2004) mengenai hubungan antara emisi gas karbon dioksida dalam model teori pertumbuhan ekonomi endogen. Variabel Indeks Pembangunan Manusia yang berperan sebagai abatement activities terhadap tingkat emisi karbon memiliki nilai koefisien negatif pada negara berpendapatan menengah ke atas dan negara berpendapatan tinggi.

IPM, yang menjadi proksi variabel pendidikan dan pengetahuan masyarakat mengenai kesadaran terhadap lingkungan, akan menurunkan emisi gas karbon dioksida karena pengetahuan lingkungan mendorong mereka memakai teknologi ramah lingkungan atau teknologi yang menekan emisi gas buang karbon dioksida.

Peran IPM dalam teori Greiner itu menjadi sangat signifikan dalam menurunkan emisi gas karbon dioksida suatu negara, sedangkan variabel kapital akan sangat tergantung terhadap nilai indeks teknologi (α) terhadap emisi gas karbon dioksida. Nilai α diartikan sebagai besaran efisiensi penggunaan kapital suatu negara untuk peningkatan produksi melalui penggunaan mesin yang menghasilkan emisi gas karbon dioksida. Semakin efisien mesin-mesin atau teknologi suatu negara, emisi gas karbon dioksida yang dihasilkannya cenderung menurun.

Hubungan negatif antara penggunaan energi terbarukan dengan tingkat emisi gas karbon dioksida menunjukkan bahwa energi terbarukan merupakan opsi utama dalam menurunkan emisi karbon. Efisiensi penggunaan energi ini mendorong inovasi teknologi yang lebih maju.

Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia merupakan kunci yang berdampak pada dua output: naiknya pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi emisi karbon. Caranya adalah dengan menguatkan sektor pendidikan. Investasi pendidikan menjadi celah dan solusi bagi negara-negara yang sedang mengejar pertumbuhan seraya menghindari degradasi lingkungan.

*) Penelitian ini merupakan tesis di Departemen Ekonomi dan Manajemen IPB, 2019.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain