Penelitian | April-Juni 2019

Bagaimana Memberantas Polusi Sampah Elektronik?

Indonesia menjadi negara ke-10 penghasil sampah elektronik terbesar di dunia. Perlu penanganan serius.

Pranandya Wijayanti

Komunitas E-waste RJ Jakarta

KEHIDUPAN modern membuat kita sulit lepas dari berbagai jenis perangkat elektronik untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Perangkat elektronik pun makin canggih dan dalam pelbagai fitur dan harga kian terjangkau. Pertumbuhan ekonomi membuat daya beli masyarakat membeli produk elektronik semakin naik. Menurut buku “Sampah Elektronik” (Rafa Jafar, 2015) dari100 responden, 44% di antaranya memiliki gawai lebih dari 3 buah. 

Elektronik merujuk pada produk yang memiliki sirkuit atau komponen listrik dengan pasokan listrik atau baterai. Setiap perangkat elektronik memiliki batas waktu pemakaian dan akan menjadi sampah elektronik. Sampah elektronik atau dikenal juga dengan istilah e-waste (electronic waste) adalah perangkat yang sudah tidak dapat digunakan/rusak, tidak diminati lagi, disingkirkan oleh pemiliknya dan menjadi barang bekas, baik dalam keadaan utuh maupun tidak.

Sejumlah peneliti mengemukakan ketika konsumen memiliki elektronik rusak, ia memilih membeli barang baru karena harga produk baru lebih murah daripada biaya reparasi (Arora, 2008; Tiep, Kin, Ahmed, & Teck, 2015). Peneliti lain memaparkan konsumen membeli barang elektronik baru karena adanya keinginan mengikuti teknologi atau desain terbaru, sekalipun elektronik sebelumnya masih bisa beroperasi (Osibanjo & Nnorom, 2008). Temuan-temuan ini tidak jauh berbeda dengan hasil survei Komunitas E-waste RJ (2014) yang menanyakan alasan masyarakat membeli gawai baru: 58% responden menyatakan membeli baru karena yang sebelumnya rusak, 17% mengaku untuk hobi dan hiburan, sisanya karena tuntutan pekerjaan.

Di Indonesia, jumlah sampah elektronik meningkat drastis dalam waktu dua tahun, yakni dari 2014 hingga 2016. Dalam laporan “The Global E-Waste Monitor 2014” terlihat ada 745 juta kilogram sampah elektronik di Indonesia, angka ini naik hingga 71% pada 2016 atau mencapai 1.274 juta kilogram (Baldé, Forti, Gray, Kuehr, & Stegmann, 2017). Angka tersebut membawa Indonesia berada di urutan ke-10 sebagai negara penghasil sampah elektronik terbesar di dunia.

Sampah elektronik dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3) karena mengandung logam berat yang membahayakan kesehatan manusia, antara lain merkuri, timbel, kadmium, arsenik, PVC (polyvinyl chloride) dan senyawa berbahaya PBDE (polybrominated diphennylethers). Merkuri terdapat dalam baterai dan lampu pijar yang dapat menyebabkan gangguan otak dan ginjal. Bayangkan jika sampah elektronik dibuang sembarang ke sungai, bahan-bahan berbahaya dan beracun yang terkandung di dalam sampah elektronik bisa mencemari sungai. Dari sungai, air terus mengalir dan berujung ke laut sehingga mengontaminasi ikan yang hidup di dalamnya. Bila kita mengonsumsi ikan yang terkontaminasi bahan berbahaya dan beracun, berdampak pula pada kesehatan manusia.

Di samping sifatnya yang beracun, sampah elektronik memiliki nilai ekonomi. Sampah elektronik mengandung material bernilai tinggi di antaranya adalah logam besi dan baja, logam mulia (perak, emas, platina, tembaga), dan logam tanah langka (skandium, serium, neodimium). Material berharga seperti emas, perak, dan paladium merupakan hasil ekstraksi alam, oleh karena itu daur ulang sampah elektronik bisa mengurangi jumlah energi, polusi, dan emisi yang dihasilkan dari proses penambangan bahan baku. Daur ulang sampah elektronik sebaiknya dilakukan perusahaan yang memiliki izin lingkungan, menjalankan ketentuan izin mengolah limbah B3, memiliki TPA khusus residu sampah elektronik, dan berlokasi di zona industri.

Sebagian besar sampah elektronik dihasilkan oleh konsumen di skala rumah tangga (Wirawan & Budhi, 2017) yang pengelolaannya masih didominasi sektor informal (Andarani & Goto, 2012). Sulit bagi perusahaan legal untuk mengumpulkan satu per satu sampah elektronik yang dihasilkan rumah tangga. Sampah elektronik rumah tangga hampir seluruhnya diserap sektor informal karena mereka berani membayarnya dengan harga tinggi.

Kemampuan membayar dengan harga tinggi dikarenakan mereka bisa menekan biaya produksi daur ulang sampah elektroniknya dengan memakai teknologi sederhana dan tidak memperhatikan dampak lingkungan dan kesehatan (Wahyono, 2013). Setidaknya ada tiga teknik pengolahan sampah elektronik yang umum dilakukan sektor informal yakni dilelehkan (dipanaskan), dibakar, atau diekstraksi dalam larutan yang sangat asam (Rohman dalam Susila, Magdalena, & Sihombing, 2013; Yoshida et al., 2016). Pengoperasian tersebut sering kali mengabaikan prosedur keselamatan dengan tidak menggunakan perlengkapan pelindung dan tidak memperhatikan polusi yang ditimbulkan (JICA, 2014).

Pada tahun 2010, Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) bersama organisasi lingkungan berbasis di Amerika Serikat, Blacksmith Institute, melakukan penelitian di salah satu area pabrik peleburan aki informal di Cinangka, Bogor. KPBB dan Blacksmith Institute melakukan tes darah kepada 40 siswa di tiga sekolah dasar negeri di daerah Cinangka dan hasil tes menunjukkan bahwa rata-rata siswa memiliki kadar timbel di dalam darah (BLL) sebesar 24 μg/dL. Bahkan beberapa siswa yang kediamannya berdekatan dengan pabrik terkontaminasi hingga 65 μg/dL. Padahal, batas normal timbel dalam tubuh manusia menurut Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maksimal 10 μg/dL. Kadar timbel melebihi batas dapat berdampak pada penurunan kemampuan otak (IQ) serta mengancam keberlangsungan hidup (Utami, 2015).

Kasus lain terjadi pada Januari 2004 di Cisitu, Banten. Seorang anak berinisial S terlahir cacat dari orang tua yang mengais rezeki dengan cara mengambil emas dari sampah elektronik. Saat S dalam kandungan, Ibunda S bekerja memeras batu menjadi emas termasuk membakar amalgam bermerkuri jadi butiran emas.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa daur ulang sampah elektronik sebaiknya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki izin lingkungan, menjalankan ketentuan izin mengolah limbah B3, memiliki TPA khusus residu sampah elektronik, dan berlokasi di zona industri.

Tahun 2016, Komunitas E-waste RJ menyebarkan kuesioner untuk mengetahui cara-cara penanganan sampah elektronik yang umumnya dilakukan masyarakat dan berikut adalah hasil dari 158 responden.

Penanganan sampah elektronik, hasil penelitian RJ Waste.

Selain 6 cara tersebut, masyarakat masih memiliki alternatif penanganan untuk mencegah peningkatan kasus pencemaran lingkungan yang ditimbulkan sampah elektronik. Masyarakat bisa menyerahkan sampah elektroniknya kepada Komunitas E-waste RJ yang berfokus pada pengumpulan sampah elektronik masyarakat untuk diserahkan pada perusahaan pengolah khusus sampah elektronik yang sudah terdaftar dan tersertifikasi untuk melakukan pembongkaran, pemilahan dan daur ulang.

Dalam hal ini, Komunitas E-waste RJ menyerahkan sampah elektronik yang sudah terkumpul kepada PT Teknotama Lingkungan Internusa (PT TLI), yaitu perusahaan berstatus legal yang tersertifikasi sebagai pengolah khusus sampah elektronik. Sampah elektronik akan dipilah oleh PT TLI berdasarkan jenis materialnya, antara lain kaca, plastik, metal, dan PCB. Material yang masih dalam kondisi baik akan digunakan kembali sedangkan material yang sudah rusak akan diolah untuk menciptakan produk baru. Bahan berbahaya dan beracun yang terkandung dari sampah elektronik akan ditimbun dalam lahan timbus.

Saat ini, Komunitas E-waste RJ memiliki agen di 14 kota/kabupaten dengan lebih dari 20 titik yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Agen E-waste RJ bertindak sebagai pengumpul sampah elektronik di kota/kabupaten masing-masing kemudian sampah yang terkumpul nantinya akan dikirimkan ke sekretariat pusat di Jakarta untuk diserahkan ke PT TLI. Dengan demikian, masyarakat bisa lebih mudah mengumpulkan sampah elektroniknya dan bisa mengurangi potensi pencemaran lingkungan di wilayahnya. Jika di kota/kabupatennya belum terdapat titik pengumpulan, masyarakat bisa mengirimkan sampah elektroniknya ke sekretariat E-waste RJ melalui pos.

Gabriel Eriviany berkontribusi dalam laporan ini.

Foto: Republika

_____

Untuk mengetahui titik pengumpulan sampah elektronik di kotamu dapat dilihat melalui instagram @ewasterj. Jika belum ada agen di kota/kabupatenmu, dapat dikirimkan ke alamat Sekretariat Pusat E-waste RJ, Jl. Jatipadang Poncol 19, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 

DAFTAR PUSTAKA

Andarani, P., & Goto, N. (2012). Preliminary assessment of economic feasibility for establishing a households’ e-waste treating facility in Serang, Indonesia. International Journal of Environmental Science and Development, 3(6), 562-568. doi:10.7763/IJESD.2012.V3.286

Arora, R. (2008). Best practices for e-waste management in developing nations. Diakses dari https://smallb.sidbi.in/sites/default/files/knowledge_base/bestpracticesforEwasteManagement-developingnations.pdf.

Baldé, C. P., Forti, V., Gray, V., Kuehr, R., & Stegmann, P. (2017).  The global e-waste monitor – 2017. Diakses dari https://www.itu.int/en/ITU-D/Climate-Change/Documents/GEM%202017/Global-E-waste%20Monitor%202017%20.pdf.

Jafar, R. (2015). E-waste = sampah elektronik. Tangerang, Indonesia: Penerbit Buah Hati.

Japan International Cooperation Agency [JICA]. (2014). Data collection survey on e-waste management in Malaysia and surrounding countries. Diakses dari http://open_jicareport.jica.go.jp/pdf/12154589.pdf.

Osibanjo, O., & Nnorom, I. C. (2008). Material flows of mobile phones and accessories in Nigeria: Environmental implications and sound end-of-life management options. Environmental Impact Assessment Review, 28(2-3), 198-213. doi:10.1016/j.eiar.2007.06.002

Susila, I. M. A. D., Magdalena M., & Sihombing, A. L. (2013). Potensi limbah lampu hemat energi di Indonesia. Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan, 12(2), 103-112.

Tiep, H. S., Kin, T. D. Y., Ahmed, E. M., & Teck, L. C. (2015). E-waste management practices of households in Melaka. International Journal of Environmental Science and Development, 6(11), 811-817. doi:10.7763/IJESD.2015.V6.704

Utami, R. (2015). Kemenkes didesak perhatikan korban pencemaran timbel. CNN Indonesia. Diakses dari http://bit.ly/2pA0hwh

Wahyono, S. (2013). Kebijakan pengelolaan limbah elektronik dalam lingkup global dan lokal. Jurnal Teknologi Lingkungan, 14(1), 17-24. doi:10.29122/jtl.v14i1.1437

Wirawan, J., & Budhi, O. (2017). Setelah tak dipakai, bagaimana nasib barang elektronik bekas?. BBC Indonesia. Diakses dari http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39728967

Yoshida, A., Terazono, A., Jr., F. C. B., Nguyen, D., Sukandar, S., Kojima, M., & Sakata, S. (2016). E-waste recycling processes in Indonesia, the Philippines, and Vietnam: A case study of cathode ray tube TVs and monitors. Resources, Conservation and Recycling, 106, 48-58. doi:10.1016/j.resconrec.2015.10.020

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain