Penelitian | April-Juni 2019

Pohon Pelindung Mata Air

Tak semua jenis pohon bisa hidup di sekitar mata air. Harus tahan tumbuh di batu kapur.

Dody Yuliantoro

Teknisi Penelitian Rekayasa Penyelia pada Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelola DAS Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

SETIAP orang membutuhkan rata-rata 2-4 liter air per hari untuk keseimbangan tubuhnya. Dari seluruh air bersih di dunia, diperkirakan hanya 0,3% yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia (Agnika, 2016) 

Sumber air yang ada di muka bumi salah satunya dapat dipenuhi dari keberadaan mata air. Masalahnya, mata air di Indonesia saat ini mengalami penurunan, baik dari segi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Setiap tahun ada bencana kekeringan di berbagai wilayah di Indonesia. Berdasarkan pengamatan di daerah Solo Raya (Wonogiri, Klaten, Sragen, Boyolali, Karanganyar dan Surakarta) penurunan jumlah mata air di wilayah ini sebesar 54%.

Salah satu upaya perlindungan dan pelestarian mata air tersebut dapat dilakukan dengan teknik vegetatif atau menanam pohon di sekitarnya, terutama di area imbuhan (recharge area). Keberadaan pohon sebagai ekosistem hutan, selain sebagai perlindungan mata air juga dapat berfungsi sebagai penyanggga tanah dari bahaya erosi dan tanah longsor.

Untuk itu diperlukan pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan kondisi fisik lapangan diantaranya adalah jenis batuan induk dan tinggi tempat (elevasi). Hal ini perlu diperhatikan karena tidak semua jenis pohon dapat tumbuh pada setiap batuan induk, dan memiliki persyaratan tumbuh yang spesifik.

Apa itu mata air?

Mata air secara bahasa memiliki arti tempat air yang mengalir dari batuan atau tanah ke permukaan tanah secara alamiah (KBBI, 2016). Dalam ilmu hidrogeologi, mata air adalah suatu titik atau kadang-kadang suatu areal kecil tempat air tanah muncul dari suatu akuifer (atau pelepasan air dari akuifer) ke permukaan tanah (Bear, 1979 dalam Kodoatie, 2012). Secara umum mata air dapat diartikan sebagai aliran air yang keluar dari dalam tanah menuju ke permukaan tanah. 

Aliran tersebut bisa bersumber dari air tanah dangkal maupun dari air tanah dalam. Proses terjadinya mata air dimulai dari peresapan air permukaan ke dalam tanah menjadi air tanah, selanjutnya air tanah mengalir melalui retakan dan atau celah di dalam tanah sehingga membentuk aliran bawah tanah. Mata air bisa muncul ke permukaan tanah akibat terbatasnya akuifer karena mengalami tekanan.

Diagram pengelompokan jenis pohon berdasarkan tinggi tempat dan jenis batuan induk.

Pada prinsipnya proses terjadinya mata air ini terdiri atas tiga tahap, yaitu adanya air permukaan, meresapnya air ke dalam tanah menjadi air tanah, dan yang terakhir adalah air yang memancar ke permukaan tanah dari dalam tanah. Sebab memancarnya air tanah dari dalam tanah menuju ke permukaan tanah karena terbatasnya akuifer, dan juga karena permukaan air tanah berada di elevasi yang lebih tinggi dari tempat keluarnya air. Sehingga di permukaan bumi akan terlihat air yang memancar dari dalam tanah. Inilah yang disebut dengan mata air.

Munculnya air dari dalam tanah ke permukaan tanah tersebut dipengaruhi beberapa faktor, antara lain curah hujan, kemiringan lereng, kondisi geomorfologi, formasi litologi, struktur geologi, topografi, permeabilitas, besarnya daerah imbuhan dan jenis tanah setempat termasuk kondisi vegetasinya. Hal ini yang menyebabkan banyak klasifikasi jenis mata air yang ada di muka bumi ini.

Pentingnya perlindungan mata air

Perlindungan mata air tidak hanya dilakukan pada mata air (spring protection), tetapi juga pada area sekitar mata air (springshed protection) yang merupakan daerah imbuhan air tanah. Penamanaman pohon sebagai salah satu upaya untuk perlindungan dan pelestarian mata air memiliki tujuan untuk melindungi titik mata air (spring) dari semua zat pencemar dan kerusakan akibat adanya aktivitas manusia/binatang. Sedangkan penanaman di area imbuhan air tanah diharapkan membantu meresapkan air hujan ke dalam tanah yang dalam jangka  panjang dapat  mengisi  akuifer, sebagai salah satu sebab lestarinya mata air. 

Pengaruh pohon

Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan menjadi sumber bagi terisinya akuifer. Pengisian air tanah pada akuifer sangat dipengaruhi oleh vegetasi atau tutupan lahan di atasnya. Keberadaan pohon atau suatu vegetasi akan memberikan pengaruh yang menguntungkan terhadap proses meresapnya air ke dalam tanah (infiltrasi). Pohon beserta ekosistemnya memiliki lapisan tajuk yang berstrata, serta ekosistem lantai hutan (serasah, tanaman bawah dan lapisan humus), akan kondusif bagi air hujan untuk meresap ke dalam lapisan tanah. 

Tajuk pohon berfungsi menahan air hujan yang jatuh ke permukaan tanah (presipitasi) melalui proses intersepsi. Proses ini dapat melindungi permukaan tanah dari energi kinetis butir air hujan yang dapat menyebabkan erosi percik. Setelah tajuk jenuh air, air hujan akan menetes sebagai air lolosan dan sebagian mengalir melalui batang pohon sampai ke tanah (aliran batang). Selanjutnya air akan meresap ke dalam tanah secara perlahan-lahan melalui akar pohon dan pori-pori tanah menjadi air simpanan. Pada proses ini serasah mempunyai peranan penting dalam mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi (suplesi air).

Lahan dengan pohon-pohon yang memiliki kanopi rimbun dan rapat bisa menurunkan suhu dan meningkatkan kelembaban daerah sekitarnya (iklim mikro). Di bawah tajuk pohon yang rimbun, umumnya dipenuhi tumbuhan bawah dan serasah. Serasah pohon memiliki fungsi menyimpan air sementara dan secara berangsur melepaskannya ke tanah bersama dengan bahan organic yang larut untuk perbaikan struktur tanah dan menaikkan kapasitas peresapan.

Apabila lapisan serasah tidak ada, tetesan air hujan akan memadatkan tanah dan kapasitas peresapan berkurang. Dengan demikian ada keseimbangan yang diperoleh dari keberadaan pohon, meskipun sesungguhnya aliran air total berkurang akibat proses intersepsi dan besarnya penguapan air melalui proses evapotranspirasi. Berbeda halnya dengan lahan kritis atau tanah kosong, pengisian air tanah lebih kecil sebagai akibat dari besarnya air larian. Laju penguapan air tanah pada tanah kosong juga tidak sebanding dengan laju naiknya air dari bawah, sehingga tanah menjadi lebih cepat kering. 

Di mata air yang mati biasanya tak ditemukan lagi pohon di sekitarnya, meskipun tidak menjadi satu-satunya alasan penyebab kekeringan mata air, dikarenakan ketiadaan pohon pada daerah sekitar mata air masih sangat diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ketiadaan pohon tersebut dikarenakan beberapa hal di antaranya adanya konversi lahan menjadi lahan pertanian dan tanaman mati karena umur yang sudah tua.

Grafik nilai INP (Indeks Nilai Penting) tiap jenis pohon pelindung mata air

Pemilihan jenis pohon mata air

Dalam menentukan dan memilih jenis pohon untuk perlindungan mata air, sebagai upaya perlindungan dan peletarian mata air harus memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Faktor lingkungan di antaranya tinggi tempat (elevasi), curah hujan, suhu dan kelembaban.
  2. Faktor edafik kawasan mata air, berupa: jenis tanah, tekstur dan struktur tanah, unsur hara dan kandungan air tanah serta jenis batuan induk penyusunnya 

Faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh dalam pemilihan dan penentuan jenis pohon pelindung mata air. Faktor edafik jenis batuan induk sangat menentukan dalam pemilihan jenis. Di antara jenis batuan induk yang umunya ada di area mata air adalah batuan induk vulkan dan kapur. Masalahnya, tidak semua jenis pohon dapat tumbuh pada semua jenis batuan induk.

Selain itu tinggi tempat suatu wilayah juga memberikan pengaruh untuk tumbuh dan berkembangya pohon secara optimal. Tinggi tempat yang dimaksud adalah ketinggian dari permukaan laut (elevasi). Tinggi tempat ini akan mempengaruhi suhu udara, penyinaran matahari dan kelembaban udara. Tinggi tempat berpengaruh terhadap suhu udara dan intensitas cahaya. Pemilihan dan penentuan jenis pohon yang akan ditanam di sekitar mata air harus diperhatikan untuk pertumbuhan secara optimal.

Pohon-pohon di sekitar mata air pada umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: akar tunggang kuat dan dalam, akar serabut banyak, tajuk lebar dan rimbun, tanaman berumur panjang, daun selalu hijau idak menggugurkan daun), mempunyai stomata lebih sedikit, percabangan simpodial dan banyak, batang cenderung lunak. Jenis-jenis dari famili Moraceae merupakan jenis yang paling banyak dijumpai pada kawasan sekitar mata air, terutama pada daerah dengan jenis batuan induk vulkan. Sedangkan untuk pohon yang banyak ditemukan di daerah kapur adalah jenis dari famili Fabaceae.

Berdasarkan ciri-ciri dan frekuensi ditemukannya pohon di sekitar mata air, berikut ini daftar pohon yang berpotensi untuk mengkonservasi mata air:

Jenis Tanaman Sekitar Mata Air berdasarkan Sebaran Bahan Batuan Induk (Sumber: penelitian Dody Yuliantoro)

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.