Surat dari Darmaga | 21 Juni 2020

Mengapa Saya Mencintai Pohon?

Kita acap abai oleh hal-hal sederhana yang menopang hidup kita. Misalnya, fungsi pohon yang menyediakan udara dan keindahan suara burung.

Wiene Andriyana

Rimbawan tinggal di Kanada

SUATU pagi pertengahan tahun lalu saya mengantar anak ke halte pemberhentian bus yang akan membawanya ke sekolah. Berjalan kaki di Ottawa, ibu kota Kanada, amat menyenangkan. Kami menikmati pepohonan, dengan daun yang berwarna-warni musim peralihan dari dingin ke panas. Burung-burung bernyanyi di pohon-pohon itu.

Anak saya yang sebelas tahun tiba-tiba bertanya. Sebuah pertanyaan dalam bahasa Inggris yang membangunkan pikiran saya tentang pohon dan burung-burung itu. “Mama, apakah kamu mencintai pohon?” Pertanyaan biasa saja sebenarnya, tapi pagi itu jadi agak tak biasa karena ia bertanya sesuatu yang jarang mengisi percakapan kami.

“Tentu saja mama suka dengan pohon,” jawab saya. “Adek tahu, kan, mama dulu sekolah di Fakultas Kehutanan.”

“OK, Ma. Tapi mengapa kamu mencintai pohon?”

Saya melirik. Ia tetap berjalan dengan langkahnya yang biasa. Bagaimana ia punya pertanyaan seperti itu? Apakah itu pertanyaan yang sudah ia siapkan?

Sebagai rimbawan, tentu saya mencintai pohon. Kami dulu belajar bagaimana mengidentifikasi pohon dalam mata pelajaran dendrologi. Saya juga belajar silvikultur dan manajemen hutan agar pengelolaan hutan bisa lestari, seraya tak mengesampingkan aspek ekonomi hutan. Maka, pertanyaan “Mengapa saya mencintai pohon” amat mudah dijawab. Saya bergumul dengan pohon dan segala ekosistem hutan karena belajar mengenai mereka. Saya mencintai mereka karena syarat belajar adalah menyukai objeknya terlebih dahulu.

Tapi ternyata saya tak menemukan jawaban meyakinkan atas pertanyaan itu. Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan sebagai jawaban. Dan, rupanya, pertanyaan sederhana itu menuntut jawaban yang panjang, kompleks, dan tak cukup waktu menjelaskannya kepada anak yang sudah ditunggu bus sekolahnya di halte itu.

Maka, saya menjawab ketika ia berbalik untuk berpamitan, “Well, simply too many reasons, son. But I can give you one for now. Do you hear that sounds of the bird singing?” Ia mengangguk. “Do you like that sounds son?” Ia mengangguk lagi. “Also, do you like to see squirrels playing and eat fruits from our tree? Ia mengangguk lagi. “Well, son, none of this amazing sounds nor the cute squirrels will come to our home, if we don’t have these trees in our neighbourhood!

Ia tersenyum. Kami tos dan ia berlari menuju pintu bus yang terbuka.

Sambil berjalan pulang, saya memikirkan pertanyaan itu dengan agak serius. Saya jadi ingat masa orientasi di tingkat I ketika baru masuk Fakultas Kehutanan IPB University pada 1996. Tak akan pernah lupa, ketika mandi lumpur di hutan di belakang kampus di Darmaga itu, para senior meminta saya memeluk dan menciumi sebatang pohon sambil berteriak “Aku cinta kamu, pohon!” Saya berteriak dan menciumi pohon itu sepuluh kali!

Dua-puluh tiga tahun kemudian, anak saya mempertanyakan alasan mengapa saya mencintai pohon.

Ya, mengapa saya mencintai pohon? Saya tak ingin mereka ditebang. Saya menanam pohon karena mereka punya hak hidup yang sama dengan manusia. Lebih dari itu, kita membutuhkan pohon. Pohon akan hidup tanpa manusia. Tapi manusia tak akan survive tanpa pohon. Bumi akan panas karena karbon dioksida yang kita lepaskan dari napas, dari aktivitas kita sehari-hari, tak akan ada yang menyerapnya jika tak ada pohon. Manusia akan merana tanpa pohon. Sementara pohon akan tumbuh subur tanpa manusia. Maka sudah seharusnya, kita mencintai mereka.

Dalam The Hidden Life of Trees, Peter Wohlleben menjabarkan rahasia kehidupan pohon, bagaimana mereka berkomunikasi dan bersosialisasi, bagaimana sebenarnya pohon-pohon yang membentuk ekosistem hutan itu saling berbagi nutrisi, bertahan hidup, dan menopang planet ini. Di artikel ini bahkan dijelaskan bagaimana pohon mengasuh anak mereka dengan berbagi karbon.

Buat saya, buku ini menarik. Sebagai rimbawan saya mencintai pohon tanpa syarat, dengan pikiran sederhana, padahal tak diajari di bangku sekolah apa yang dirumuskan Wohlleben ini. Guru-guru kita hanya mengatakan bahwa pohon berguna bagi hidup manusia. Maka cintai mereka. Saya tak pernah bertanya mengapa, seperti pertanyaan anak saya itu.

Barangkali karena pendekatan pendidikan kehutanan di Indonesia masih menggunakan pintu masuk scientific atau natural science; sehingga pendekatan filosofis tak dipakai dalam belajar ilmu kehutanan. Seharusnya, jika memang pohon berguna untuk kita, setiap orang belajar tentang “filosofi pohon” agar kita paham untuk apa menanam pohon, untuk apa menebangnya, dan mengapa kita harus bersahabat dengan mereka. Tapi mungkin sekarang dipelajari di sekolah karena ada pelajaran etika lingkungan.

Burung di pohon di Ottawa, Kanada (Foto: Wiene Andriyana)

Suami saya belajar ilmu sosial. Sewaktu kami sekolah di Australia, ia mendapat pelajaran “Peace and Conflict Study”. Salah satu mata kuliahnya Poetry and War! Saya tertawa mendengarnya. Apa hubungan perang dan puisi? Rupanya, perang yang keras memang perlu dilembutkan dengan puisi jika kita belajar agar dunia ini damai. Para juru damai harus belajar keduanya agar punya perspektif yang berimbang. Ada falsafah yang harus kita pahami untuk mempelajari keduanya.

Jadi, mengapa saya mencintai pohon? Jika ada yang bertanya seperti ini lagi, saya akan menjawab dengan kalimat pertama, “Mengapa tidak?” Setelah itu ada penjelasan panjang soal pohon, seraya mengutip referensi, dari yang teknis hingga filosofis. Ah, rupanya pertanyaan sederhana tak cukup dengan jawaban sederhana.

Barangkali karena saya belum mengenal pohon sehingga tak punya jawaban tunggal yang tepat. Saya, mungkin juga kita, lama mengabaikan hal penting yang sederhana yang ada di sekeliling kita dan manfaatnya kita rasakan tiap detik. Kita jarang memikirkan sebuah alasan mengapa kita merasa damai tiap mendengar suara burung. Atau bersyukur masih bisa bernapas tiap bangun tidur. Keduanya ada karena ada pohon.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain