Kabar Baru

Merdeka Belajar ala Petani Hutan Sosial

Jumat, 15 Mei 2020 13:49 WIB

Petani hutan sosial mengamalkan konsep merdeka belajar selama pelatihan virtual. Bisa menjadi alat baru dalam memonitor dan evaluasi kebijakan besar perhutanan sosial.

Rakhmat Hidayat

Bekerja di World Resources Institute. Anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial

SETELAH Pelatihan Pendampingan Perhutanan Sosial Pasca Izin jarak jauh secara elektronik gelombang I hingga III sebanyak enam angkatan selesai, saya mencatat banyak cerita luar biasa, dengan peserta yang sangat beragam. Dari latar belakang pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, sosial budaya serta lokasi belajarnya.

Belajar online mungkin akan jadi kebiasaan baru kita, seperti diprediksi banyak ahli sebagai akibat pandemi virus corona covid-19. Tanpa dibatasi ruang belajar, meja belajar, maupun tumpukan buku ajar yang harus dibaca, kita masih bisa tetap menyerap ilmu pengetahuan. Belajar konvensional satu arah akan berubah menjadi belajar secara egaliter, berupa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Bahkan bisa dikatakan, caru baru ini sebagai implementasi gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam konsep “merdeka belajar”.

Belajar jarak jauh perhutanan sosial dan cara peserta berpartisipasi beraneka ragam. Materi ajar mesti menyatu dengan pengalaman peserta dan bisa diimplementasikan dalam pengelolaan perhutanan sosial secara riil. Karena itu belajar jarak jauh butuh beberapa prasyarat dasar, yaitu:

  1. Suasana pembelajaran harus dibangun senyaman mungkin sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan peserta, sehingga memungkinkan para pembelajar bisa leluasa bergerak dan berinisiatif dalam belajar. Sambil belajar, mereka juga bisa mengasuh anak, memasak, menggembala ternak dan lainnya,
  2. Pembelajar terlibat dalam proses penjajakan kebutuhan belajar, termasuk apa yang mereka harapkan dari pelatihan ini dan apa persoalan yang harus dibahas. Dalam proses ini, sebelum sesi pembelajaran, peserta sehari sebelumnya mengisi formulir yang menggambarkan apa yang sudah dan belum mereka pahami untuk menjadi bekal bagi narasumber, widyaiswara serta tutor dalam menyiapkan dan memberikan materi ajar dan berbagi pengalaman praktis,
  3. Proses pembelajaran mutlak harus melibatkan partisipasi aktif para peserta, sehingga materi lebih banyak fokus pada jawaban atas persoalan lapangan serta apa yang ingin diketahui peserta. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran yang dilakukan para narasumber dan tutor lebih banyak memberikan waktu untuk berbagi pengalaman serta diskusi. Memang, lebih banyak untuk materi-materi yang teknis seperti penandaan batas,
  4. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap hari, baik terkait dengan materi maupun tutor dan narasumber. Dengan proses ini, penyelenggara pelatihan akan terus menerus membuat perbaikan metode ajar, bahan ajar maupun cara narasumber dan tutor belajar bersama. Para tutor dan narasumber juga selalu mengadakan rapat pembelajaran periodik sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi belajar yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai Pendidikan dan Latihan,
  5. Penilaian akhir proses belajar tidak hanya difokuskan pada kecakapan akademis yang dilakukan harian berupa ujian penguasaan materi. Perlu juga mencakup keaktifan peserta saat belajar, penyelesaian tugas mandiri maupun keaktifan berkomunikasi dan berbagi pengetahuan dalam grup WhatsApp tiap angkatan. Grup WhatsApp ini sangat penting dalam proses saling belajar antar peserta, juga tutor dan narasumber selain yang sudah disiapkan secara formal LMS e-learning Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sehingga penilaian akhir untuk kelulusan menggabungkan pengetahuan akademis, pengalaman lapangan, proses berbagi pengetahuan dan tingkat partisipasi peserta dalam pembelajaran.

Jaringan Perhutanan Sosial Nasional
Durasi 25 jam pelajaran yang dibagi ke dalam empat hari, menurut saya, mampu membangun hubungan emosional para peserta. Semua peserta terasa ingin mendapatkan manfaat dari implementasi perhutanan sosial di wilayahnya, baik manfaat ekologi, ekonomi, sosial budaya, terselesaikannya konflik, adanya dukungan para pihak juga promosi potensi. Hubungan emosional jika dikelola serius akan menjadi “Jaringan Masyarakat Pembelajar Perhutanan Sosial Indonesia” yang akan menjadi “mata, telinga, tangan, dan kaki” dalam memantau implementasi perhutanan sosial yang di lapangan.

Artinya, jaringan para peserta yang dimulai dari belajar jarak jauh ini bisa menjadi medium perkembangan hutan sosial di lapangan, pembaruan data dan informasi untuk Sistem Navigasi Perhutanan Sosial, jaringan pasar produk perhutanan sosial, juga menciptakan “pendamping rakyat” yang berkualitas dan berkapasitas. Sampai hari ini, saya mengikuti enam grup WhatsApp tiap angkatan, dan materi yang didiskusikan di sana cukup bernas bahkan melampaui pembelajaran daring.

“Para alumni” lebih terbuka dalam diskusi, termasuk mengungkapkan persoalan dasar yang mereka hadapi di lapangan, tak segan meminta input dan pengalaman kelompok lain yang dianggap lebih maju, saling menyemangati, promosi produk bahkan mengajak untuk investasi bersama. Seandainya saja kekuatan ini bisa dijadikan alat untuk evaluasi program perhutanan sosial sekaligus menjadi media untuk menentukan program apa yang harus dilakukan serta kelompok mana yang akan didukung, niscaya ini bisa menjadi sumber informasi yang akurat dalam tata kelola hutan sosial ke depan.

Andragogi Sebuah Keniscayaan
Belajar jarak jauh ini dalam proses belajar disebut andragogi atau Pendidikan Orang Dewasa (POD). Saya merasakan proses ini, karena sejak 1990 ikut pelatihan WALHI, PKBI, maupun Yayasan Bina Desa. Saya juga terlibat dalam proses pendampingan masyarakat, baik untuk pengembangan masyarakat dalam dan sekitar kawasan konservasi, mendorong inisiatif hutan adat, perhutanan sosial, resolusi konflik, pencegahan kebakaran hutan, maupun inisiasi jasa lingkungan.

Dalam andragogi, para peserta belajar merupakan orang-orang yang telah memiliki kematangan diri, banyak pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan kemampuan mengatasi persoalan secara mandiri. Sehingga partisipasi dalam proses pembelajaran akan memberikan dampak positif dalam melakukan perubahan tata kelola dan tata usaha perhutanan sosial ke arah yang lebih baik.

Karena itu, pelatihan virtual ini tidak cukup hanya memberi pengetahuan akademis pengelolaan hutan saja, tetapi harus melampaui itu. Butuh bekal penguatan semangat, meningkatkan rasa percaya diri yang tinggi dalam diri para peserta. Selain itu juga penghargaan terhadap pengetahuan dan praktik-praktik terbaik peserta sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan moril atas inisiatif cerdas mereka.

Misalnya, beberapa kelompok perhutanan sosial maupun kelompok usaha perhutanan sosial tidak runtuh ketika badai wabah covid-19 menghantam seluruh sendi kehidupan. Para peserta memberikan pembelajaran bahwa kreativitas bisa mengalahkan tekanan wabah.

Kelompok Tani Hutan (KTH) Sungai Telang dan Sungai Pua di Kabupaten Kerinci, Jambi, yang mampu menyiasati rendahnya harga kayu manis dan kopi dengan mengoptimalkan produksi pangan dan sayur mereka untuk kebutuhan kampung dan lokal. Atau KTH Harapan Sukses di Kota Batam yang kehilangan pendapatan akibatnya ditutupnya obyek ekowisata Puncak Beliung dengan memproduksi belimbing super di sebagian kawasan HKm seluas 20 hektare mereka lalu diolah menjadi aneka produk seperti jus, sirup, kerupuk, dodol dan dijual segar sehingga menjadi potensi pendapatan alternatif.

Karena belimbing merupakan salah satu sumber vitamin C yang baik dan bagus untuk meningkatkan imunitas tubuh, sehingga produk ini diterima dengan baik di pasar. Bahkan pengelola Hutan Nagari Taram di Sumatera Barat yang juga kehilangan pendapatan dari ekowisata, mengembangkan produk alternatif berupa minyak atsiri, telur ayam dan rendang (jamur, telur maupun daging) yang juga diterima pasar saat Ramadan seperti ini.

Memang orientasi pembelajaran berpusat pada kehidupan KPS/KUPS, sehingga mereka belajar dengan kerangka pengetahuan teknis dari narasumber dan tutor. Proses pembelajaran ini akan menjadikan kasus lapangan sebagai laboratorium belajar yang akan terus dilakukan walaupun pelatihan telah usai.

Kelak, peran narasumber dan tutor bisa diambil alih oleh para pendamping maupun jaringan alumni pelatihan ini. Sehingga proses pelatihan tidak hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus akan tetapi untuk meningkatkan taraf hidup melalui perbaikan tata kelola kelembagaan, tata kawasan, dan tata usaha produk perhutanan sosial. Dengan pembelajaran ini peserta akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak lagi, sehingga pembelajaran akan berfokus pada peningkatan pengalam dan pengetahuan tidak hanya pada pencarian sertifikat saja. Makin kaya akan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari pelatihan ini, akan kian meningkatkan motivasi peserta untuk perubahan kehidupan dan pengelolaan hutan yang lebih baik.

“Saya Mendengar, Maka Saya Lupa”
Keberadaan tim yang solid di tiap wilayah belajar jarak jauh sangat menentukan keberhasilan program ini. Salah satu yang terpenting adalah ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan pendekatan pembelajaran orang dewasa, juga para narasumber yang mempunyai pengalaman fasilitasi lapangan dan kerja-kerja kongkret perhutanan sosial.

Sehingga sangat penting bagi yang terlibat dalam belajar jarak jauh ini memahami  berbagai aspek yang berhubungan dengan teknik membantu peserta belajar menemukan sendiri tindak lanjut penyelesaian problem mereka. Proses penemuan diri ini sangat penting agar peserta juga memahami bagaimana cara mengaplikasikannya di lapangan, mengukur keberhasilan, menentukan waktu pencapaian, menentukan aktor yang terlibat, hingga mencari dukungan.

Dalam andragogi ada kredo yang sangat dikenal: “Saya mendengar, maka saya lupa. Saya melihat, maka saya ingat. Saya melakukan, maka saya akan paham.”

Partisipasi aktif peserta dalam pembelajaran ini sangat terlihat selama tiga gelombang pelatihan karena tim sudah menemukenali dan mampu menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Hal ini dibuktikan dengan adanya komitmen dan kedisiplinan peserta. Baik berhubungan dengan waktu mulai pembelajaran, penyerahan penugasan belajar mandiri, evaluasi, ujian dan lainya yang mempunyai batasan waktu. Namun para peserta berusaha sekuat tenaga dan upaya maksimal untuk memenuhi hal tersebut.

Juga terbangunnya hubungan antara para narasumber, widyaiswara, tutor, dan peserta, yang akrab, terbuka, terarah, saling menghargai, saling membantu dan saling belajar. Selain itu ada proses pembelajaran yang setara: para pengajar juga bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang berasal dari pengalaman peserta dan juga peserta dapat menyerap pengetahuan, keahlian, dan pengalaman pengajar.

Kunci utama soliditas tim adalah kesadaran bahwa pelatihan ini sebagai tugas mulia, niat yang tulus untuk berbagi pengetahuan kepada peserta, saling respek dan menerima kekurangan dan kelebihan anggota tim, empati terhadap peserta ajar, berpandangan positif serta percaya penuh akan potensi mereka untuk bisa berkembang.

Dengan kesadaran itu hubungan antar sesama narasumber, widyaiswara, tutor dan panitia akan berjalan dengan harmonis dan punya tekad bersama agar pelatihan ini bermanfaat. Sehingga saat pembelajaran para narasumber, widyaiswara, dan tutor tidak akan mempermasalahkan saat dalam proses belajar tiba-tiba ada anak atau cucu peserta menangis minta susu atau bahkan ikut mengambil kertas dan pena untuk menggambar saat ayah atau ibunya sedang mencatat poin penting pembelajaran. Segala keterbatasan menjadi termaklumi karena yang terpenting adalah hasil akhir berbagi pengetahuan.

Pada akhirnya, model pelatihan seperti ini bisa menjadi alternatif pelatihan mendatang yang diselenggarakan KLHK. Selain bisa menjangkau masyarakat sampai seluruh sudut Nusantara, juga bisa menjadi model belajar langsung jarak jauh untuk mengatasi persoalan-persoalan lapangan. Sehingga saat ada persoalan lapangan yang mendesak bias disampaikan dan dibahas secara langsung, tanpa harus menunggu persoalan menjadi besar.

Belajar jarak jauh juga bisa menjadi kanal komunikasi bagi peraturan-peraturan dan kebijakan baru di KLHK agar sampai dan dipahami masyarakat di level tapak. Metode ini juga bisa menjadi alat monitoring dan evaluasi pelaksanaan perhutanan sosial di lapangan secara periodik.

Terlepas dari kendala teknis, pelatihan ini juga bisa menghapus stigma bahwa masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan hutan, dengan pendidikan yang mayoritas rendah, petani miskin, gagap teknologi, hingga prasangka orang kota yang menganggap mereka tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Terbukti para peserta mampu berpartisipasi maksimal selama belajar jarak jauh, dengan segala usaha dan kerja kerasnya serta fasilitasi dari para pendamping.

Bagi saya ini membuktikan bahwa jika diberikan peluang, dukungan, dan penghargaan, para petani hutan sosial bisa maju.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain