Buku | Januari-Maret 2020

Asal-Usul Perhutanan Sosial

Buku yang berisi pemikiran Jack Westoby tentang “hutan untuk rakyat” yang menjadi asal usul “perhutanan sosial”. Hutan tak semata kayu.

Mardiyah Chamim

Wartawan

JACK Westoby, seorang ahli statistik dan ekonomi, menjadi petinggi yang membidangi persoalan kehutanan di Organisasi Pangan Sedunia (FAO) pada 1952-1974. Dia adalah ikon penting di balik konsep “social forestry”, yang di Indonesia sempat diterjemahkan sebagai “kehutanan masyarakat” lalu kini “perhutanan sosial".

Westoby, yang wafat pada 1988 pada usia 76, terkenal dengan ucapannya: “Forest is not about trees, it is about people. And it is only about trees insofar as it serves the needs of people.” Kemunculannya dalam Kongres Kehutanan Sedunia di Gedung Manggala Wanabakti di Jakarta pada 1978 menjadi tonggak penting pembuat kebijakan kehutanan di Indonesia. Tahun 1978 selalu diingat sebagai tahun penanda perhutanan sosial.

Tapi Indonesia mencari dan menempuh jalan lain dari yang dianjurkan Westoby. Atau menafsirkan lain dengan apa yang dimaksudkan Westoby.

Hutan untuk rakyat memang terdengar berhaluan sosialis. Indonesia yang sedang menyingkirkan gulma ideologi ini lalu menjauh dari konsep “forest for people” dan patuh pada konsep teknokratis multiflier effect ekonomi yang diresepkan para ekonom lulusan Berkeley yang berhaluan liberal. Hutan pun dibagi ke pengusaha dengan harapan dampak ekonominya akan memberi kemakmuran kepada masyarakat melalui tenaga kerja, melalui setoran pajak.

Para teknokratis itu benar separuh. Kroniisme Orde Baru menghancurkan konsep kapitalisme itu. Akibatnya, alih-alih menjadi efek pengganda, hutan dikuasai segelintir orang untuk memupuk kekayaan sendiri. Keserakahan semacam itu membuat hal buruk lain segera terjadi: ketidakpedulian pada konsep manajemen hutan yang lestari. Orde Baru jatuh salah satunya karena kroniisme yang akut dan kerusakan lingkungan yang dahsyat.

Pertanyaannya, apa yang terjadi seandainya Indonesia tak tergoda pada anjuran-anjuran Mafia Berkeley dalam kabinet Soeharto dan tunduk menjalankan apa yang dianjurkan Westoby?

Dipicu rasa penasaran, saya mencari bukunya. Saya ingin tahu terutama landasan pemikiran Pak Westoby. Buku Introduction to World Forestry ini terbit pada 1989. Sudah tak dicetak lagi. Saya membelinya di toko online Amazon. Stok tinggal dua buku dengan harga lumayan, Rp 958 ribu, plus ongkos kirim.

Seperti tampak dalam buku ini, Westoby orang yang cukup dalam dan luas perspektifnya tentang kehutanan. Dia menyodorkan kritik bahwa ilmu kehutanan termasuk yang “underdeveloped”, tidak berkembang, dan fokusnya cenderung cuma pada kayu. Padahal, hutan adalah rangkaian ekosistem yang kompleks dan punya relasi yang canggih dengan manusia di sekitarnya.

Menurut Westoby, pendekatan yang lebih komprehensif, melibatkan berbagai ilmu sosial (antropologi, sosiologi, ekonomi) harus dilakukan untuk memahami hutan. Belakangan, saya tahu dari seorang dosen IPB bahwa universitas ini tengah mengembangkan studi transdisiplin dalam setahun terakhir untuk memahami persoalan hutan.

Dalam buku ini Westoby dengan rinci mengisahkan bagaimana hutan dari masa ke masa, di berbagai tempat di dunia. Salah satu benang merah penting yang dicatat Westoby adalah bahwa eksploitasi hutan yang kian parah bukan karena ledakan dan tekanan populasi manusia, tetapi lebih karena ada kelompok kepentingan (penguasa, pengusaha, elite) yang sedang melakukan ekspansi perluasan kuasa--persis dengan yang terjadi selama Orde Baru.

Westoby seorang futuristik. Sejak 1960-an dia sudah mengatakan bahwa produk hutan yang paling penting di masa depan bukanlah kayu, tetapi air. Ya, air bersih! Prediksinya benar. Hutan kita yang rusak atau terkonversi menjadi permukiman atau industri membuat ketersediaan air absolut Indonesia, terutama di Jawa, menjadi minus. Air Jawa akan mati pada 2045.

Hanya hutan dengan kerapatan pohon, tanah yang penuh humus, ekosistem yang sehat yang bisa menjalankan tugas dalam siklus hidrologi. Manajemen air, manajemen tanah mengelola dan menampung hujan, dan aktivitas fotosintesis dedaunan dan pohon-pohon adalah kunci keseimbangan iklim—yang sekarang jadi persoalan besar di tengah krisis iklim.

Saya sambungkan poin Westoby tentang air itu dengan pengalaman berkunjung ke berbagai lokasi hutan desa atau nagari di Jambi dan Sumatera Barat. Di Rantau Kermas, Jambi, mata air yang melimpah telah menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air 40 Mega Watt. "Kami jago rimbo supaya air terus melimpah. Rimbo terjago, listrik nyalo," begitu semboyan orang Rantau Kermas.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain