Kabar Baru | 06 Febuari 2020

Menangani Sampah Plastik: Dari Mana Mulainya?

Kesadaran masyarakat akan penanganan sampah plastik sudah tinggi. Belum jadi aksi nyata.

Dewi Rahayu Purwa Ningrum

Alumni Fakultas Kehutanan IPB

SAMPAH plastik masih jadi momok lingkungan kita. Sebagai produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina, lingkungan Indonesia menjadi rentan dengan ancaman sampah jenis ini. Berdasarkan data Bank Dunia, sekitar 400.000 ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia setiap tahun yang menjadi pemicu kerusakan ekosistem laut dan meningkatnya derajat toksisitas hewan laut, terutama pada rantai makanan mereka.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengusung lima strategi pengurangan sampah laut sebesar 70% pada 2025 dengan patokan data 2019 sebesar 0,27-0,59 juta ton. Strateginya dimulai dengan “Gerakan Nasional Peningkatan Kesadaran Para Pemangku Kepentingan”, pengelolaan sampah terestrial, hingga inovasi penanganan sampah, yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 83/2018 tentang penanganan sampah laut.

Sampah terestrial jadi problem lain karena tak kunjung beres. Tiap daerah seolah tak berdaya dengan kian menumpuknya sampah di tempat pembuangan akhir. “Hampir 80% pengurusan sampah masih terfokus di TPA,” kata Ujang Sodikin Sidik dari Direktorat Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam diskusi Pojok Iklim 5 Februari 2020.

@ForestDigest

Dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen tertuang target pengurangan sampah oleh para pembuat plastik sebesar 30% pada 2029. Target ini berdasarkan data EN Environment: Single-use Plastics Roadmap for Sustanainability yang menyebutkan bahwa hanya 9% sampah didaur ulang, 12% dibakar, dan sisanya yang terbanyak ditumpuk di TPA yang berpotensi mencemari lingkungan.

BACA: Indonesia Darurat Sampah

Dalam diskusi itu mengemuka bahwa penanganan limbah industri harus menjadi bagian penting pengurangan sampah. Industri atau produsen produk mesti mejadi pihak yang ikut memiliki kewajiban karena produk mereka masih dikemas dengan plastik, bahkan sejak proses di pabrik. “Kami sedang bekerja sama dengan toko ritel ramah lingkungan dalam memasarkan produk tanpa kemasan,” kata Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs and Sustainability Unilever, yang menjadi pembicara diskusi itu.

Menurut para pembicara, kerja sama itu penting karena konsumen kini juga sudah sadar dengan problem kemasan plastik dari toko ritel. Kampanye gencar tentang bahaya sampah plastik membuat kesadaran masyarakat Indonesia tumbuh signifikan. Survei Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan terhadap 10.044 responden menghasilkan data bahwa 91,6% masyarakat bersedia membawa kantong belanja sendiri dari rumah.

Indeks kepedulian sampah penduduk tiap provinsi

Menurut jajak pendapat Kompas sebanyak 97,9% masyarakat berkeinginan mengurangi penggunaan plastik dalam aktivitas sehari-hari. Namun, para pembicara diskusi menilai, angka itu masih sebatas pengetahuan dan kesadaran, belum mencapai aksi nyata. Karena itu, kebijakan dan komitmen pemerintah pusat dan daerah harus digencarkan untuk mewujudkan kesadaran itu menjadi laku sehari-hari.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain