Reportase | Oktober-Desember 2019

Perempuan Penjaga Burung Mbeliling

Burung-burung Mbeliling kembali setelah masyarakat menjaga bentang alam ini. Mereka bahkan mahir mengidentifikasi burung liar.

Asep Ayat

Pemerhati burung liar di Burung Indonesia

BABAK baru Labuan Bajo dimulai ketika Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Komodo pada 2015. Ini nama baru bandar udara di Nusa Tenggara Timur setelah meninggalkan nama lama Bandara Mutiara II. Bandara ini terkoneksi langsung ke lain negara sebagai bandar internasional. “Sehingga secara langsung turis-turis akan datang kesini,” kata Jokowi waktu itu.

Namanya pun unik. “Bandara Komodo”. Satu-satunya bandara di Indonesia dengan ikon satwa purba. Tidak hanya nama, tampilan bangunan bandara dirombak menyerupai sosok komodo, hewan endemik Pulau Komodo.

Sudah lama saya ingin ke sana. Maka ketika  menginjakkan kaki di bandar baru itu saya bungah. Di Bandara Komodo, Programme Manager Burung Indonesia untuk Folres Tiburtius Hani memberi salam, “Selamat datang di tanah Flores, Om Bos.” Sapaan “Om Bosmerupakan sebuah penghormatan kepada setiap tamu yang datang ke pulau indah ini.  

Tanpa canggung, Tibur bercerita tentang Labuan Bajo dengan segala karakteristiknya sambil mengarahkan pengemudi menuju suatu desa di sekitar Mbeliling. Tibur juga memaparkan kini Labuan Bajo ramai oleh wisatawan. Serangkaian tawaran paket destinasi wisata tersedia di Pulau yang indah ini.  Menurut dia, selain melihat atraksi satwa purba komodo di Taman Nasional Komodo, pengunjung dapat menikmati budaya bahkan keunikan bentang alam. 

Selama ini turis mancanegara maupun domestik cenderung menyukai wisata laut dan jarang menyentuh wisata darat seperti hutan, gunung, danau, atau obyek wisata pegunungan lainnya. Padahal obyek wisata darat di Manggarai Barat dan Flores pada umumnya tidak kalah dalam menawarkan keindahan serta keunikan.

Sesungguhnya, hiruk-pikuk Labuan Bajo bergantung pada keberadaan Bentang Alam Mbeliling. Sebanyak 28 sungai utama mengalir melalui bentang alam ini dan menopang kehidupan bagi sekitar 34.000 jiwa (7.000 keluarga) di 27 desa di sekitar Bentang Alam Mbeliling, termasuk kota Labuan Bajo. Tak heran, air menjadi barang yang mahal dan sangat berharga.

Bentang alam Mbeliling di Nusa Tenggara Timur

Mbeliling terbentang seluas 94.000 hektare. Nama Mbeliling diambil dari nama gunung tertinggi di Manggari Barat, Nusa Tenggara Timur, yang menjulang 1.300 meter dari permukaan laut. Bentang alam tersebut terdiri atas Gunung Mbeliling, hutan Mbeliling, padang semak, dan beberapa desa di sekitarnya. Sebanyak 73% masih berupa hamparan hutan (hutan semi awet hujan, hutan luruh daun, dan hutan campuran) dan 27% meliputi areal bukan hutan yang termasuk di dalamnya persawahan, sabana, dan perdesaan di sekitar bentang alam.

Selama perjalanan, Tibur menuturkan bagaimana Mbeliling sangat penting bagi kekayaan flora dan fauna endemik di Flores. Hamparan hutan ini menjadi kawasan prioritas tertinggi untuk konservasi keanekaragaman hayati karena kawasan ini Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (Key Biodiversity Area/KBA) termasuk di dalamnya fauna dan flora endemik di Flores. Dari 356 KBA di kawasan Wallace, 5 di antaranya berada di Bentang Alam Mbeliling.

Burung Indonesia mencatat sekitar 272 jenis burung di Flores dan 171 (63%) jenis di antaranya hidup di kawasan Mbeliling. Dari temuan tersebut, lima di antaranya termasuk jenis endemik dan terancam punah di kawasan ini, yakni serindit flores (Loriculus flosculus), kehicap flores (Monarcha sacerdotum), gagak flores (Corvus florensis), celepuk Flores (Otus alfredi) dan elang flores (Spizaetus floris).  Selain itu rumah bagi kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea) yang saat ini masuk kategori kritis (critically endangered).

Hasil rekam kamera jebak (camera trap) dari tim survei Burung Indonesia mencatat Komodo (Varanus komodoensis) hidup di kawasan hutan Mbeliling. Temuan ini menyimpulkan bahwa komodo hidup di daratan Flores Bgian Barat selain Taman Nasional Komodo yaitu Golo Mori dan Tanjung Kerita Mese. Kedua lokasi tersebut merupakan bagian dari bentang alam Mbeliling, yang meliputi kawasan di sekitar hutan Mbeliling dan Sesok, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Hutan Mbeliling juga rumah badi ular buta (Typlops schmutzli) dan pohon narep (Sympetalandra schmutzli) yang kian terancam punah.

Saking asyik Tibur bercerita, tak terasa mobil yang membawa kami sudah sampai di kampung yang berada di wilayah hutan Mbeliling. Cukup tiga jam perjalanan menuju Golo Damu yang penduduknya menjaga kelestarian hutan Mbeliling sampai saat ini. 

Kami disambut dengan salam penghormatan oleh Erimina Skolastika, ketua kelompok masyarakat. Sesuai adat Manggarai Barat, kami disodorkan segelas sofi, minuman penghormatan sebagai welcome drink. Minuman ini berasal dari pohon Nira telah diproses higienis melalui penyulingan dan fermentasi. Terasa manis menyegarkan serta menghilangkan rasa dahaga selama perjalanan.

Para ibu sedang melakukan pemantauan hutan di bentang alam Mbeliling. (Dok. Asep Ayat)

Kemudian kami disuguhkan “tarian caci” yang memainkan peranan penting sebagai lambang seni dan budaya Manggarai, NTT, sebagai ritual mendalam bagi masyarakat, juga menjadi atraksi pertunjukan dan menarik.

Eriminia lalu bercerita bagaimana penduduk desa menjaga Mbeliling. Menurut dia, tidak mudah membangun pemahaman masyarakat agar peduli terhadap hutan dan sekelilingnya. Dulu masyarakat kesulitan mendapatkan air. Sejak fasilitasi Burung Indonesia pada 2007, masyarakat diberikan pemahaman peduli terhadap hutan, cara bercocok tanam, beternak dan tidak berburu satwa terutama burung.

Setahun kemudian, Eriminia berserta beberapa anggota berhasil membentuk kelompok pengembangan konservasi di tingkat desa dengan nama Kelompok Kembang Mekar.  Kelompok ini bertujuan melakukan pengawasan kawasan hutan dari praktik-praktik yang tidak berkelanjutan seperti penebangan liar, perburuan dan kegiatan ilegal lainnya. Selanjutnya kegiatan ini dinamakan “laat puar” yang berarti pemantauan layanan alam. Pemantauan ini dilaksanakan setahun dua kali dengan swadaya.

Menurut Erminia, nama Kembang Mekar diambil karena 80% anggota adalah ibu rumah tangga. Di luar urusan domestik, ketika para suami bekerja di ladang, perempuan-perempuan di desa ini secara rutin menembus hutan desa untuk memantau kondisi mata air yang menyokong penghidupan masyarakat di desa, serta memantau kondisi hutan dan habitat satwa.

Kesadaran masyarakat mengenai kelestarian alamnya terbilang tinggi. Bahkan sejumlah kelompok masyarakat secara swadaya rutin melakukan aktivitas pemantauan layanan alam.  Secara berkala mereka memantau, mencatat, dan mendokumentasikan perubahan yang terjadi di sekitar kawasan hutan adat, sumber air, juga pertanian untuk mencegah kerusakan.

Perlahan tapi pasti, anggota Kembar Mekar saat ini sudah mahir melaksanakan Pemantauan Layanan Alam, termasuk mampu mengidentifikasi jenis burung termasuk jenis endemik dan dilindungi. Bahkan bila ada turis yang datang, mereka tak lagi canggung memandu pengamatan burung. Kegiatan ini selanjutnya menjadi paket birdwatching yang dikelola kelompok masyarakat.

Hal terpenting bagi mereka adalah menyadari pentingnya peran burung bagi alam sekitar. Burung berperan dalam membantu penyebaran biji sehingga pepohonan bisa tumbuh secara alami. Pada akhirnya membantu regenerasi hutan menuju keseimbangan hayati.

Berkat kesadaran masyarakat itulah, kini Erminia dan masyarakat Golo Damu tidak kesulitan sumber air dan mendapatkan banyak manfaat dari menjaga hutan Mbeliling. Secara ekologis Mbeliling merupakan hulu bagi sungai-sungai yang mengalir ke arah barat dan selatan di Manggarai Barat. Tidak hanya sekitar Mbeliling, masyarakat di Labuan Bajo bergantung kebutuhan air minum mereka dari kawasan ini. Dengan demikian, ekosistem Mbeliling tidak hanya penting bagi aksi konservasi keragaman hayati, tetapi juga menjadi kawasan yang penting sebagai daerah tangkapan air.

Kakatua-kecil jambul kuning hidup di hutan Mbeliling yang saat ini masuk kategori kritis (critically endangered) 2012. (Dok. Asep Ayat)

Tibur menambahkan, saat ini telah ada 16 desa yang melakukan Pemantauan Layanan Alam ini secara swadaya. Masyarakat desa juga didorong merumuskan kesepakatan tentang pengurusan dan pengaturan sumber daya penghidupan mereka melalui Kesepakatan Pelestarian Alam Desa (KPAD). KPAD ini merupakan cikal bakal rencana pengelolaan bentang alam pada tingkat desa yang salah satu di dalamnya adalah pemantauan layanan alam.

Ke depan kegiatan ini akan disinergikan dalam rencana pembangunan desa agar pemerintah desa dapat mengalokasikan anggaran rutin untuk mendukung kegiatan Pemantauan Layanan Alam.  Alokasi dana tersebut dapat berasal dari APBD II atau dana desa yang bersumber dari APBN—merujuk pada Peraturan Menteri Desa Nomor 19 tahun 2017 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa.

Selain sisi konservasi, masyarakat pun dilatih bercocok tanam melalui sistem wana tani, persawahan dan peternakan. Melalui kegiatan ini masyarakat mendapatkan diversifikasi pendapatan. Petani di Mbeliling memproduksi beberapa komoditas pertanian unggulan seperti kemiri, kopi, cengkeh, kakao, mete dan komoditas kayu seperti jati dan mahoni.

Guna menambah pendapatan, masyarakat difasilitasi mendapat kredit mikro melalui koperasi. Modal koperasi semakin berkembang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain