Profil | Oktober-Desember 2019

Leony Aurora: Karena Rimba Terlalu Berharga

Turut mendirikan perkumpulan Hutan Itu Indonesia, ia ingin memberi pemahaman kepada orang kota tentang pentingnya hutan. Pemahaman orang banyak masih rendah.

Mustofa Fato

Mahasiswa program master Fakultas Kehutanan IPB. Penyuka kopi dan fotografi.

PENGALAMANNYA menjadi wartawan energi dan kuliah di jurusan lingkungan dan pembangunan membuat Leony Aurora paham planet ini tak sedang baik-baik saja. Ia menjadi reporter The Jakarta Post pada 2003-2006 lalu Bloomberg News kemudian melanjutkan kuliah master di University of Cambridge jurusan Environment Society and Development pada 2008.

Keinginannya meneruskan belajar soal lingkungan itu terutama setelah ia meliput The 13th Session of the Conference of the Parties (COP) to the UNFCCC di Bali pada 2007. Di sana ia melihat satu isu lingkungan yang membutuhkan sinergi banyak pihak: perubahan iklim. “Semua negara harus bekerja sama untuk menuntaskan isu ini, baik negara maju maupun negara berkembang,” kata perempuan 41 tahun ini pada September 2019.

Ada satu momen di konferensi itu yang terus diingatnya, yakni ketika utusan Amerika Serikat disoraki oleh banyak negara termasuk negara berkembang karena kebijakan negara ini mengabaikan isu perubahan iklim. Di acara itu pula Leony mengenal apa itu pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi (REDD+). Menurut dia, konsep negara maju membayar emisi kepada negara berkembang sudah tepat. “Karena negara berkembang yang menjaga hutan sudah berkontribusi untuk dunia,” katanya.

Dari situ ia tertarik ingin mempelajari lebih jauh soal lingkungan dan pembangunan. Setahun di Cambridge membuat Leony kian tertarik pada isu perubahan iklim, yang di Indonesia erat kaitannya dengan hutan karena sumber emisinya adalah perubahan tata guna lahan. Ia ingin menyambungkan isu lingkungan, terutama pemanasan global dengan pengalamannya menjadi wartawan, dalam tugas akhir. “Sejauh mana isu deforestasi dibicarakan di media,” kata dia.

Pulang dari Inggris, Leony tak kembali ke dunia media. Ia diterima di Center for International Forestry Research di Bogor sebagai Communication Specialist for Asia. Satu-setengah tahun di CIFOR, ia kian paham bagaimana menulis isu kehutanan berbasis data. Pengalamannya di Bloomberg kian matang karena CIFOR memadukan isu lingkungan yang berat dengan gaya populer agar mudah dipahami orang awam.

Dari CIFOR ia bergabung dengan Daemeter Consulting. Di sini perspektifnya kian luas karena sering berinteraksi dengan perusahaan. “Praktik tata guna lahan yang baik ternyata tidak segampang yang kita pikir, sangat kompleks,” katanya. Di Daemeter juga ia pernah membuat survei tentang persepsi orang Indonesia terhadap minyak sawit pada 2015 untuk Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Survei itu membuat ia masygul. Hanya 4% masyarakat yang menganggap kelapa sawit berdampak buruk bagi lingkungan, 22% menganggap ada dampak positif dan negatif, dan sekitar 30% menganggap dampak positif sedangkan lainnya menjawab tidak tahu. Audiensnya konsumen perempuan dewasa karena, menurut Leony, mereka yang memegang keputusan belanja rumah tangga. Dari situ ia baru sadar ternyata banyak orang tidak paham soal hutan. Sekitar 5% responden mengatakan dampak negatif kelapa sawit adalah hilangnya hutan, tapi 5% responden pula yang bilang dampak positif kelapa sawit adalah penghijauan. “Kelihatannya orang underestimate pentingnya hutan dan overestimate kontribusi sawit terhadap lahan,” kata dia.

Ia jadi makin tertarik pada urusan komunikasi dan persepsi. Beberapa bulan setelah keluar dari Daemeter, pada 2016 ia membuat proyek Youth Camp, berupa mengajak anak muda berkeliling di berbagai tempat untuk bercerita soal hutan. Tetapi klien dia yang sebelumnya mau membiayai terpaksa membatalkan diri. Leony harus putar otak mencari sponsor baru karena tim sudah terbentuk. “Padahal acara ini cukup menarik dan banyak orang mau bantu,” katanya.

Bersama 13 orang lain, acara itu jalan terus dan berubah menjadi perkumpulan. Bertepatan dengan Hari Bumi pada 22 April 2016, Leony bersama teman-temannya itu mendirikan Hutan Itu Indonesia. “Mereka yang bergabung bukan hanya dari orang lingkungan atau kehutanan saja. Ada desainer grafis, musisi, videografer, dan lainnya,” tutur Leony. Menurut Leony, orang-orang dapat tergerak untuk terlibat membantu walaupun tidak terlalu mengerti isu lingkungan dan kehutanan.

Leony Aurora

Menurut Leony, hutan Indonesia yang luasnya nomor 3 di dunia acap dilupakan orang. Masyarakat akan ingat Brasil jika membicarakan Amazon. Sementara hutan Indonesia tak punya ikon yang melekat dan diingat sebagai persepsi terhadap hutan hujan tropis Indonesia. Padahal hutan Indonesia menyangga hidup orang Indonesia. Hutan hilang, katanya, bencana akan datang bahkan budaya Indonesia akan hilang juga.

Dengan kekuatan media sosial, Hutan Itu Indonesia segera punya pengikut yang banyak. Selain acap menggelar ajang masuk hutan bagi pengikutnya, Hutan Itu Indonesia juga membuat kegiatan-kegiatan off line sebagai gerakan. Pada 17 dan 23 Agustus 2019 lalu, misalnya, para relawan Hutan Itu Indonesia membagikan 10.000 masker kain gratis di kampus Universitas Katolik Atmajaya dan Universitas Indonesia.

Kegiatan ini berlanjut pada 25-28 Agustus. Puluhan relawan membagikan masker di stasiun kereta dan moda raya terpadu di Jakarta. Total masker bertuliskan “Hutanku Napasku” itu terbagi sebanyak 30.000 unit. “Tujuan kampanye ini untuk mengajak anak muda menyadari pentingnya hutan yang menyediakan udara bersih untuk Indonesia,” kata Riry Silalahi, Koordinator Kampanye Hutanku Napasku. Riry adalah mantan gitaris band SHE, kakak kandung Leony.

Fokus kampanye Hutan Itu Indonesia, kata Leony, memang menyasar anak muda perkotaan. Target itu bukan tanpa data. Dari studi yang ia lakukan, orang yang tinggal di perkotaan lebih rendah persepsinya tentang pentingnya hutan bagi hidup mereka. Hutan sudah tidak pada radar orang kota, bahkan di kota yang berdekatan dengan hutan seperti Pontianak, Manokwari, dan Banyuwangi.

Menurut Leony, jika masyarakat kota tidak mendukung lingkungan hidup di luar kota, semua kampanye akan sia-sia. Soalnya, jumlah penduduk perkotaan di Indonesia lebih dari setengah jumlah total penduduk Indonesia. “Pembuat keputusan di lembaga pemerintah dan perusahaan pasti pernah sekolah atau berkembang di kota,” katanya.

Selain itu, orang kota jauh lebih berisik dari pada orang di luar kota sehingga akan lebih mudah mengamplifikasi sebuah isu. Alasan lain: “Masyarakat kota adalah masyarakat yang paling saya kenal,” kata perempuan yang lahir dan bersekolah di Teknik Sipil Universitas Parahyangan Bandung ini.

Penyebaran masker di Unika Atma Jaya Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, 17 Agustus 201

Survei itu juga menghasilkan hal lain yakni orang kota lebih mudah terpapar oleh isu korupsi, kemacetan, sampah, bahkan politik. “Sementara isu kehutanan hanya dibahas oleh sedikit orang saja,” ujarnya. Dengan persepsi seperti itu, Leony cemas pembangunan tak memperhatikan lingkungan.

Bagi Leony, pembangunan tidak harus selalu bertentangan dengan lingkungan hidup. Pengalaman atas kejadian-kejadian lingkungan harusnya dapat dijadikan sebagai pembelajaran yang baik untuk melakukan pembangunan. Kini ada narasi salah kaprah di masyarakat seperti “pro hutan berarti antisawit”, atau narasi yang jarang diperbincangkan semacam “hutan penting bagi kita semua”.

Karena itu misi utama Hutan Itu Indonesia adalah narasi kebanggaan akan hutan Indonesia. Anak muda perkotaan akan lebih bangga terhadap hutan Indonesia sebagai salah satu hutan terluas di dunia. Narasi semacam itu, kata Leony, akan mendorong kebanggaan yang menggugah masyarakat untuk lebih peduli kepada hutan dibandingkan narasi semacam isu pemanasan global.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain