Profil | April-Juni 2018

Teladan dengan Contoh

Alumnus jurusan Teknologi Hasil Hutan angkatan 22 ini berkarier di luar kehutanan. Menjadi panglima bea cukai, dengan tantangan memperbaikinya, hingga dimusuhi bos serta anak buahnya.

Fahmi Alby

Rimbawan penyuka desain

TAHUN 2011 merupakan tahun lompatan Agung Kuswandono. Ia masih ingat tanggal, hari, dan jamnya ketika protokoler Menteri Keuangan Agus Martowardojo memanggil untuk menghadapnya. Waktu itu hari Rabu pukul 9.30 pertengahan April 2011. “Pak Menteri mengatakan track record saya bagus dan akan mendapat tugas baru,” kata Agung kepada Forest Digest dua bulan lalu.

Ternyata tugas baru itu menduduki kursi Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Waktu itu ia masih Direktur Fasilitas Kepabeanan. Maka sejak 25 April 2011 itu Agung menggantikan Thomas Sugita yang pensiun dan tercatat sebagai Direktur Jenderal termuda. Usianya ketika itu masih 44. “Geger seluruh Indonesia,” katanya.

Soal usia ini menjadi problem krusial semasa Agung menjadi Dirjen Bea Cukai. Orang yang dulu adalah bosnya, kini menjadi anak buahnya. Orang yang dulu memanggilnya, kini bisa ia panggil. “Tentu saja saya shocked,” kata Agung. Ia menghadapi problem internal mendisiplinkan anak buahnya, juga tekanan dari luar memperbaiki lembaga ini.

Sebetulnya posisi barunya itu sesuai dengan pencapaian Agung. Lima tahun sebelum dilantik menjadi Dirjen, ia dinobatkan Majalah Tempo sebagai tokoh antikorupsi 2007. Agung dianggap berani dan bersih dalam melawan situasi bobrok di tempatnya bekerja. Salah satu kejadian yang membuat Tempo kesengsem pada prestasi Agung adalah ketika ia berani menahan helikopter milik perusahaan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang didatangkan dari Jerman.

Waktu itu Agung masih memimpin bea cukai Bandar Udara Soekarno-Hatta. Ia menyegel 12 helikopter impor milik PT Air Transport Services karena perusahaan milik Bukaka Grup ini belum menyertakan sertifikat kelayakan dan izin dari TNI/Polri. Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemilik Bukaka, pun dikabarkan sempat marah. Tapi penyegelan itu jalan terus.

20180905214211.jpg

Lima bulan di Cengkareng, Agung pindah ke Tanjung Priok. Rupanya drama pengiriman heli itu masih berlanjut dan kini melalui pelabuhan. Agung pun bertemu lagi dengan heli-heli itu dan menyegelnya lagi karena izin yang menjadi syarat heli bisa masuk wilayah Indonesia lalu dipakai di udara Indonesia tetap belum ada. “Aturannya harus selesaikan administrasi dengan militer dulu,” kata dia.

Keberanian Agung itu mencuri perhatian Menteri Keuangan sehingga ia dipanggil dan diperintahkan duduk di kursi panas Direktur Jenderal. Tekanan kini tak hanya datang dari luar, berupa ancaman teror dari pengusaha yang terusik oleh reformasi birokrasi yang ia lakukan, tapi dari anak buahnya sendiri. Resistensi memuncak karena para pejabat senior itu menganggap Agung sebagai “anak kecil yang tak tahu apa-apa.”

Untuk mencairkannya, Agung memetakan anak buahnya dari segi usia. Ternyata dari 12.000 pegawai bea cukai, separuh adalah generasi tua dan separuhnya lagi generasi anak muda. Agung menilai generasi tua adalah generasi masa lalu yang terlena oleh sistem lama, sementara anak-anak muda masih penuh idealisme.

Agung menata bea cukai dengan memilih anak-anak muda untuk naik pelan-pelan menggantikan orang-orang tua yang pensiun. Ini pun banyak pertentangan karena pegawai di bea cukai punya korsa yang tak mudah diubah. Tiap angkatan masuk ingin punya perwakilan di tiap jenjang. Agung jalan terus dengan mengubah sistemnya pelan-pelan.

Karena anak-anak muda mulai banyak ia pertama-tama menerapkan kerja paperles atau bekerja tanpa kertas karena sistemnya diubah menjadi daring. Pemakaian teknologi ini kemudian merembet ke dalam sistem besar pelayanan bea cukai di semua bandara dan pelabuhan.

Karena sasarannya adalah mengubah citra buruk bea cukai, Agung mesti mengubah dengan memberi contoh. Ia dirjen baru yang tak bermain golf. Padahal dirjen-dirjen terdahulu dan pejabat Keuangan tak ada yang tak bermain golf. Pikiran Agung sederhana saja: justru saat main golf itulah lobi-lobi pengusaha yang ingin dimudahkan barangnya masuk acap terjadi. “Saya dikucilkan,” katanya. “Tapi enggak apa-apa, wong saya juga tak bisa main golf.”

Sasaran berikutnya adalah mengubah seragam. Agung melihat di bandara semua pegawai terlihat sama karena seragamnya tak jauh beda. Akibatnya, penumpang pesawat menyangka semua orang yang wara-wiri di bandara adalah pegawai bea cukai. Agung mengubah seragam bea cukai dari biru menjadi putih.

Pergantian seragam ini rupanya berdampak lumayan besar. Mereka jadi terlihat sedikit di bandara. Atas dasar itu Agung lalu melapor ke Menteri Keuangan agar diizinkan menambah pegawai bea cukai. Ia berhitung pegawai bea cukai untuk seluruh Indonesia minimal 20 ribu. Dengan mencicil tiap tahun menerima tambahan 1.500, Agung meminta 5.000 pegawai selama ia menjabat. “Supaya strukturnya kuat,” katanya.

***

 MASUK ke bea cukai tak pernah terbayangkan oleh Agung, apalagi menjadi orang nomor satu di sana. Selepas lulus dari jurusan Teknologi Hasil Hutan Institut Pertanian Bogor pada Juli 1990, Agung tak cepat bekerja. Ia lempar banyak surat lamaran ke pelbagai instansi dan pemerintah. Sambil menunggu panggilan, Agung dagang kaset di pinggir jalan di Bogor.

 Dagang kaset bertahan dua minggu karena ia dipanggil magang sebuah perusahaan AMDAL. Di sini ia bekerja lima bulan. Selama magang ia terus mengirimkan surat lamaran. Suatu kali ia dipanggil untuk tes. Pesaingnya 9.000 orang. Agung bahkan tak tahu untuk lembaga apa tes yang ia tempuh. “Setelah lulus tes baru tahu itu bea cukai,” katanya.

 Agung adalah angkatan baru ketika Kementerian Keuangan membuka lowongan bagi sarjana non Sekolah Tinggi Administrasi Negara. Ini kebijakan baru sebagai imbas kebijakan tahun 1985 ketika pemerintah menyewa lembaga swasta dari Denmark memeriksa barang di bandara. Akibatnya, ketika banyak yang pensiun, mahasiswa STAN belum siap mengisi posisi madya. Pemerintah lalu membuka lowong untuk lulusan sarjana dari universitas lain.

Agung mengikuti pelatihan dan tinggal di asrama bea cukai selama 1,5 tahun bersama 126 orang lain yang lulus tes. Di sana ia digembleng ala militer. Namun, karena terbiasa di Fahutan, gemblengan itu ia jalani dengan suka cita. Setelah selesai Agung mendapatkan surat keputusan sebagai calon pegawai negeri sipil. “Saya kira ini sudah jalan hidup saya, jadi saya melamar pacar,” katanya.

Pacar Agung adalah mahasiswa GMSK angkatan 23, lebih muda setahun. Mereka bertemu tahun 1987 karena kos bersebelahan di Jalan Perwira Dramaga, di seberang kampus. Waktu itu menaklukkan mahasiswi GMSK adalah sebuah prestasi karena pesaingnya dari Fakultas Teknologi Pertanian. Semacam witing tresno jalaran suko kulino, Agung melamar gadis Rembang itu dan mereka menikah 11 Juli 1993. Mereka dikaruniai satu anak laki-laki, yang sedang studi master di Glasgow University Skotlandia, dan anak perempuan yang kuliah di Universitas Indonesia.

Menjadi pelita di tengah dunia hitam bea cukai ancaman dan teror tak hanya diterima Agung, melainkan keluarganya. Suatu kali ia menerima pesan berisi foto istri dan anak-anaknya serta foto kuburan. Para peneror mendapatkan foto-foto itu dengan menyamar menjadi agen asuransi dan mewawancarai Agung serta keluarganya.

Kali lain ada karangan bunga duka cita yang ditaruh di jalan masuk perumahan. Karuan saja satu kompleks geger dan istri serta anak-anaknya jadi tahu Agung sedang diteror. “Padahal, saya selalu berusaha tak membuka tekanan pekerjaan kepada keluarga,” kata dia.

Teror tak membuat Agung surut. Meski sempat dikawal tentara ke mana-mana selama 1,5 bulan, reformasi birokrasi di bea cukai jalan terus. Agung fokus memperbaiki sumber daya manusia. Ia percaya teknologi yang canggih hanya alat yang tak akan bisa memperbaiki sistem sepanjang manusianya masih bobrok. “Maka manajemen dengan contoh dari pimpinan itu sangat penting,” kata dia.

Tak terasa empat tahun jadi dirjen. “Rupanya saya jadi Dirjen Bea Cukai terlama setelah era reformasi,” katanya. Waktu itu pemerintahan sudah berganti ke Presiden Joko Widodo. Agung diminta menghubungi Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Susilo dan diangkat menjadi Deputi Menteri Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa hingga hari ini.

Pengalamannya di bea cukai ia pakai untuk menyokong kebijakan menteri mengoordinasikan program presiden yang ingin mengintegrasikan dan menjadi laut sebagai penghubung pulau-pulau di Indonesia. “Dengan 75 persen lautan, Indonesia sangat bisa jadi poros maritim dunia,” kata orang Banyuwangi yang lahir pada 29 Maret 1967 ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain