Profil | April-Juni 2019

Keluarga Minim Sampah

Keluarga ini sejak 2012 mengurangi sampah rumah tangga. Tak ingin ambil bagian jadi perusak bumi.

Fitri Andriani

Rimbawan IPB

FILM Albatross menjadi titik balik bagi keluarga Kendra Paramita. Tepatnya, kian meyakinkan ia dan istrinya, Andhini Miranda, untuk terus mengurangi sampah. Film dokumenter karya fotografer Amerika Serikat, Chris Jordan, yang dirilis pada 2017 itu menceritakan albatros atau elang laut yang sekarat di Pulau Midway di samudera Pasifik akibat polusi plastik.

Jordan pertama kali datang ke Midway pada 2009 untuk memotret elang laut di kepulauan itu. Ia terganggu oleh data yang menyebut ada 10.000 elang laut yang mati di pulau kecil itu akibat makan plastik. Jordan kembali ke sana pada 2017 lalu mendokumentasikan dengan video. “Selesai menonton kami semua menangis,” kata Andhini, 37 tahun, kepada Forest Digest pada pertengahan Mei 2019.

Menurut Andhini, anak mereka yang empat tahun juga ikut menangis, terutama ketika melihat adegan induk seekor elang memberi makan anak-anaknya dengan memberinya plastik. “Kok kita, manusia, jahat banget ya?” kata Andhini. Sejak itu mereka bertekad berhenti menghasilkan sampah, tak hanya sampah plastik yang sudah mereka kurangi sejak 2012.

Di rumah mereka di Pamulang, Banten, tak ada satu pun tempat sampah. Di halaman rumah mereka yang asri, sampah serasah ditampung di ember untuk kemudian diolah menjadi kompos. Pupuk alami itu mereka pakai untuk memupuk tanaman. Jika berlebih, Andhini mengumumkan di grup WhatsApp kompleks perumahannya agar tetangganya mengambil kompos itu secara gratis.

Kendra dan Andhini mulai benar-benar mempelajari soal sampah pada 2012. Menonton film-film dokumenter tentang kerusakan lingkungan yang membuat mereka kian sadar perilaku manusia membuat alam jadi merana, dan bencana itu sebetulnya akan kembali menimpa manusia juga.

Menurut Andhini, sampah membuat kita tak bisa lari menghindarinya. Mereka akan mencemari udara, darat, dan laut. Sebab sampah yang ditimbun di tempat pembuangan akhir sekalipun akan menghasilkan air yang merembes ke dalam tanah. Air sampah yang tercemar itu kemudian dimakan ternak yang dagingnya berakhir di meja makan untuk dimangsa manusia.

Mengolah sampah menjadi mainan

Siklus itu tak bisa ditolak. Karena itu ketimbang sekadar bawa termos air ke mana-mana, memakai sedotan baja tiap jajan, tapi jika tetap menghasilkan sampah lain di luar konsumsi, menurut Andhini, tak akan berpengaruh signifikan kepada derita bumi. Mereka pun mantap menghentikan sampah sejak itu. Tiap kali akan melakukan sesuatu, mereka selalu berpikir dua kali apakah tindakan itu akan menghasilkan sampah atau tidak.

Andhini mulai sadar dengan sampah hidup sehari-hari yang membuat polutif ketika membaca berita di sebuah majalah pada 2012 bahwa sampah popok tak tertanggungkan. Sejak menikah, ia dan Kendra sepakat tak akan menyewa asisten rumah tangga jika kelak punya anak. Nah, jika anak mereka lahir, mereka tak ingin bayi itu langsung memproduksi sampah pertama, yakni popok.

Keduanya lalu berunding untuk menguranginya. Caranya, memakai popok kain. Risikonya adalah keduanya harus bersedia mencucinya. Kendra setuju. Meski sebagian besar kesehariannya dihabiskan di kantor sebagai desainer grafis, saat senggang  Kendra bergiliran mencuci popok anak laki-laki mereka.

Andhini jadi lebih aktif mengikuti acara-acara yang membahas soal sampah. Di sebuah acara televisi BBC, pada 2015, Andhini dan Kendra menonton sebuah film tentang perbedaan bumi dan langit dalam hal manajemen sampah di Inggris dan Indonesia. Selesai menonton, Andhini bertanya kepada Kendra apakah mereka akan mewariskan sampah kepada anak mereka kelak? “Tidak menutup kemungkinan akan ada Bantargebang-Bantargebang lain di dekat rumah kita,” katanya, merujuk tempat sampah terbesar di Bekasi.

Dari obrolan seusai menonton itu, mereka berdua menyimpulkan bahwa jika sudah bicara generasi, urusan sampah tak hanya soal anak mereka, tapi anak-anak lain dari keluarga-keluarga lain. Juga sekolah, tempat terlama anak-anak menghabiskan waktu dalam sehari.

Sekolah-sekolah biasanya punya program mendaur ulang sampah. Tapi, kata Andhini, daur ulang sampah bukan solusi, melainkan hanya jalan keluar sementara. Soalnya, tak semua sampah plastik juga bisa diolah kembali. Maka solusi tepat dan efektif adalah menghentikan membuat sampah sama sekali.

Pucuk dicita ulam tiba. Sekolah-sekolah menghubunginya untuk edukasi sampah, terutama menjadikannya barang berguna bertajuk prakarya tangan. Pesertanya tak hanya siswa, tapi guru-guru dan manajemen sekolah dari seluruh Indonesia. Seperti di sekolah Cikal di Jalan TB Simatupang Jakarta Selatan tahun lalu, ia menjadi pembicara mengelola sampah di salah satu kelas. Acara Temu Pendidik Nusantara itu diikuti seribu guru.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tak menghasilkan sampah, mereka harus mencari toko-toko curah saat berbelanja. Masalahnya, toko semacam itu jarang ada. Di Bintaro hanya ada satu, Saruga Pack Free Store. Itu pun baru buka November tahun lalu. Akhirnya, karena kesulitan mencari penyedia kebutuhan, Andhini dan Kendra membuat sendiri kebutuhan sehari-hari mereka di luar makanan.

Alat-alat dan perlengkapan mandi, misalnya. Deodoran, pasta gigi, hingga sabun mereka buat sendiri dari bahan-bahan sederhana seperti baking soda, garam, dan minyak kelapa. Sabun mandi dibuat dari minyak zaitun, madu, dan minyak esensial sebagai pewangi. Sampo mereka masih membeli secara curah karena belum menemukan formulasi membuatnya. “Sabun cuci piring dari lerak dan air atau minyak jelantah,” kata Kendra, 39 tahun, lulusan Institut Kesenian Jakarta.

Selain menghasilkan sampah karena dibungkus, menurut Andhini, perlengkapan mandi dari toko itu juga mengandung bahan kimia yang tak ia ketahui bahan-bahannya ketika bercampur dengan tanah. Sebab, sabun curah sekalipun tetap menjadi polusi meski tak dibungkus jika tak bisa diserap tanah dan mencemarinya.

Kini toko pangan curah bertambah dengan berdirinya Naked di Kemang, Jakarta Selatan. Di sini semua bahan makanan dijual secara ketengan, sehingga mereka membeli sesuai kebutuhan saja, tidak per bungkus seperti di mal lain. “Kalau saya butuh garam cuma 5 gram, tak harus membeli satu bungkus 100 gram,” kata Andhini.

Botol kaca di meja makan

Selain lebih hemat, mereka juga merasa pengeluaran jadi lebih terencana setelah mereka mengurangi sampah. Soalnya semua rencana belanja sudah diperhitungkan dan dipertimbangkan dengan saksama. “Sekarang kami tak gampang terpengaruh promo dan diskon,” kata Andhini, tertawa.

Jika akan makan di luar rumah, mereka membawa perlengkapan makan sendiri seperti piring, sendok, garpu, sumpit, hingga gelas berbahan stainless untuk mengantisipasi wadah saji sekali pakai. Sebelun memesan, mereka akan memastikan dahulu wadah saji yang restoran sediakan, lalu menjelaskan upaya dalam mengurangi sampah. Jika mereka mempertanyakan saat pelayan lupa dan tetap memberikan wadah sekali pakai, acap kali pelayan merespons “Nanti sampahnya biar kami saja yang buang, Bu.”

Bukan tidak ingin membawa pulang sampah ke rumah, kata Andhini, tapi karena mereka tidak ingin menyumbang sampah ke TPA. Saat membawanya pulang pun, mereka juga minta makanan disimpan dalam rantang. Sudah hampir setahun mereka berhenti menggunakan jasa pesan-antar dengan wadah sekali pakai, juga layanan pesan-antar makanan melalui aplikasi.

Menurut Kendra tantangan dalam menjalani hidup minim sampah tidak datang dari mereka sendiri, melainkan orang lain yang belum paham. Jangankan dari orang luar, dari keluarga sendiri kadang terjadi resistensi. Jika ada kumpul keluarga, selesai acara biasanya makanan acara dibagi-bagi untuk dibawa pulang. Orang tua dan bibi mereka membungkusnya dengan plastik.

Ada juga orang tua yang tersinggung dengan menyangka tak menghargai jerih-payah membungkus ketika mereka menolak membawa oleh-oleh itu. Solusinya adalah rantang itu. Setelah setahun, pelan-pelan keluarga keduanya memahami niat di balik repot-repot membawa rantang ke mana pun. “Ibu saya sudah 70 tahun, mulanya juga tak mengerti,” kata Andhini. “Tapi pelan-pelan saya jelaskan, kini ia sudah paham.”

Teman dan tetangga juga tak kalah repot. Tapi tiap kali ada yang melengos dan dahi berkerut ketika mereka menjelaskan soal bahaya sampah, Andhini dengan sabar menjelaskannya. Kini teman-teman mereka mulai banyak yang meniru cara hidup keluarga Kendra Paramita. Mereka bahkan mendorong Andhini memakai media sosial untuk mempengaruhi orang lain lebih banyak.

Kendra dan Andhini awalnya tak punya media sosial untuk berinteraksi. Kendra punya Instagram, tapi lebih banyak diisi karya-karya grafisnya, bukan kampanye soal sampah. Akhirnya, Andhini menurut. Ia membuat Instagram @021SuaraSampah. Banyak pengikutnya yang bertanya melalui pesan langsung panduan-panduan menghindari sampah. “Banyak yang bertanya soal bagaimana menyetop pakai pembalut sekali pakai,” kata Andhini.

Banyak juga yang bertanya soal motivasi. Buat apa sih susah-susah hidup tanpa sampah? Kendra dan Andhini tersenyum tiap menerima pertanyaan skeptis itu. “Kami tak ingin ambil bagian jadi perusak bumi,” kata mereka.

Kontributor:
Dewi Rahayu

Artikel ini tayang di versi cetak edisi April-Juni 2019 dengan judul "Keluarga Nol Sampah". Pada beberapa bagian mengalami revisi untuk akurasi.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain