Profil | Januari-Maret 2019

Keluarga Cemara dari Puncak Bukit

Keluarga ini mengembalikan tanah dan bukit gersang menjadi hijau. Mereka melawan calo tanah yang ingin menjual lamping-lamping itu ke pengusaha untuk dijadikan vila.

Zahra Firdausi

Rimbawan suka jalan-jalan

JIKA cerita Keluarga Cemara menunjukkan hubungan personal antar anggota keluarga, yang menguatkan ikatan, yang meneguhkan kepercayaan, keluarga Bambang Istiawan melampaui itu semua. Mereka menjalin hubungan yang lebih akrab dengan alam. Sejak 2000, keluarga ini pindah ke Megamendung di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, dengan misi menghijaukan bukit-bukit gersang dan menahan pemodal mengubah lereng-lereng hijau menjadi vila.

Mulanya, ketika pergantian milenium dari 1999 ke 2000, Bambang sudah memikirkan menghabiskan waktu pensiun sebagai pegawai di sebuah perusahaan minyak dan gas. Ia lahir di Kalimantan Timur lalu bekerja di tempat kelahirannya, di sebuah perusahaan minyak dan gas bumi. Kantor pusatnya di Jakarta, kadang-kadang juga ia bepergian ke luar negeri. Waktu itu usianya baru 46, masa puncak karier dan pekerjaan. “Saya ingin setelah pensiun tinggal di pinggir hutan,” kata dia pada Januari lalu.

Pulang ke Kalimantan bukan pilihan yang bagus memenuhi cita-citanya itu. Di Kalimantan hutan tumpas akibat hak-hak pengelolaannya diberikan kepada korporasi besar di zaman emas perdagangan kayu. Bambang lalu memilih Bogor karena istrinya, Rosita, lahir dan besar di Kota Hujan. Keduanya sepakat memilih tinggal di Megamendung.

Mereka membeli 2 hektare lahan di sana. Karena pekerjaan, Bambang tak sering tinggal di Megamendung, hanya Rosita dan kedua anak mereka yang acap mengunjungi rumah masa depan itu. Selama tinggal di sana, Rosita, kini 56 tahun, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana hutan-hutan di kawasan Puncak itu roboh karena berubah menjadi vila dan tempat-tempat peristirahatan.

20190311171621.jpg

Bukit yang hijau ketika ia pertama datang, lambat laun kerontang. Indonesia yang sedang krisis ekonomi membuat penduduk menjual lahan-lahan mereka melalui biong, calo tanah yang mendapat pesan dari pemodal dari kota. Longsor yang tak pernah terjadi sebelumnya, sejak itu, acap melanda desa-desa di sekitar Puncak. “Orang sini senang menjual tanah ke orang Jakarta,” kata Rosita.

Orang Jakarta memandang Puncak hanya semata sebagai tempat tetirah. Mereka membangun vila, menyewakannya, datang pada akhir pekan untuk menikmati kesejukan kawasan tinggi Bogor itu. Ironisnya, kata Rosita, mereka tak mau menanami lahan-lahan dengan pohon yang menjadi sumber kesejukan yang mereka cari di sana itu.

Bambang dan Rosita pun bertekad menghentikan laju deforestasi tersebut. Caranya, menghadang pemodal Jakarta masuk ke Megamendung: mereka akan membeli lahan-lahan gersang di sekitarnya agar tak jatuh ke pemodal vila. Tapi rencana itu tak semudah yang mereka perkirakan. Begitu tahu pembelinya bukan orang Jakarta yang akan mengubah lahan menjadi pemondokan, para biong menghalangi upaya Bambang dan Rosita.

Keduanya tak mundur. Secara persuasif mereka mendekati para pemilik lahan yang berniat menjualnya melalui biong. Beberapa menolak, beberapa setuju setelah kesepakatan harga tercapai. Selama lima tahun, Bambang dan Rosita berhasil membeli sekitar 12 hektare. Rupanya, lahan-lahan itu dijual karena memang tak menghasilkan. “Sangat tandus dan curam,” kata Rosita.

Bambang dan Rosita lalu menetapkan diri dan merancang rencana mengembalikan lahan-lahan itu menjadi hijau. Waktu itu Bambang tak terlibat terlalu banyak karena ia masih bekerja di luar negeri. “Urusan teknis penanaman dan lainnya saya serahkan sepenuhnya sama istri saya,” kata Bambang, kini 64 tahun.

Penanaman mulai jalan. Pohon mulai tumbuh lagi di sana. Namun, seiring pertumbuhan pohon dan lahan menjadi hijau, para biong kembali melirik lahan-lahan itu. Mereka meminta Rosita menjual kembali tanah-tanah itu. Rosita bercerita pernah ia didatangi delapan laki-laki membawa golok yang hendak memaksa Rosita menjual tanah. Ia menolak.

20190311171737.jpg

Rosita hanya berpikir jika tanah itu kembali jadi milik biong mereka akan menjualnya sembarangan kepada pemodal. Setelah itu ia tak akan bisa memulihkannya lagi dan hanya akan melihat kerusakan alam yang kian masif. Tiap mereka datang, Rosita terus-menerus menyatakan penolakan. “Saya mah hanya punya keyakinan dan keinginan berbuat baik. Memang pasti banyak godaannya, tapi nanti akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.” kata dia.

Rosita dan Bambang menamai penghijauan itu dengan “Hutan Organik”. Rosita mencari sendiri bibit pohon untuk ditanam di lahannya. Karena tak punya pengalaman dan pengetahuan serta jaringan bidang kehutanan, tak jarang Rosita tertipu ketika membeli jenis pohon dengan harga mahal. “Saya bingung awalnya untuk mencari bibit-bibit pohon itu,” kata dia.

Pengalaman memang guru terbaik. Sering ditipu dan bersinggungan dengan pohon membuat Rosita belajar sendiri tentang cara menanam, jenis, dan segala informasi tentang pohon. Ia gabungkan menanam pohon dengan pertanian melalui tumpang sari. Ia menanam pohon Agathis, Damar, Mahoni, Kenari, Rasamala, dan Pala berdampingan dengan tanaman sayuran seperti tomat, cabai, pakcoi.

Agar bebannya berkurang, Rosita mengajak petani di sekitar rumahnya untuk ikut menanam. Ia membentuk Kelompok Tani Hutan Organik untuk bersama-sama memperbaiki lahan tersebut. Problemnya, karena lahan curam dan pernah tandus, air kurang. Untuk mengatasinya, ia dan para petani mengangkut galon air dari pemukiman yang berjarak kurang lebih tiga kilometer ke lokasi penanaman.

20190311171847.jpg

Cara itu terlalu mahal, sampai akhirnya Bambang punya ide mengalirkan air melalui irigasi dengan pompa hidrolik (hydram). Ini pompa memakai sistem irigasi yang bisa mengalirkan air dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi dengan memanfaatkan energi kinetik air tanpa listrik. “Saya jadi belajar bagaimana membuat pompa hydram,” kata Bambang. “Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti mencari posisi ideal pompa, menentukan lokasi penampungan air dan sistem distribusinya supaya airnya bisa naik. Waktu itu kira-kira butuh naik 50 meter”.

Tiga tahun setelah menanam, bukit itu kembali hijau. Dan, ternyata, di sana ada mata air. Mata air tumpas karena penduduk membiarkan tanahnya tandus. Menurut Rosita, sumber mata air hutan organik ini sudah mengaliri desa-desa yang berada di bawahnya. Bahkan ketika memasuki musim kemarau daerah ini tidak pernah mengalami kekeringan berkat adanya hutan organik ini.

Para biong, sementara itu, mundur teratur dengan penolakan Rosita. Apalagi, Rosita kini didukung para petani dan kabar keberhasilannya menghijaukan lahan tandus tercium ke luar Megamendung. Banyak peneliti IPB mulai berdatangan untuk meneliti keragaman populasi hutan organik.  “Survei awal yang mereka lakukan dapat menemukan 16 jenis burung yang lima jenis di antaranya merupakan jenis burung yang dilindungi,” kata Bambang. “Tandanya hutan di sini sudah pulih.”

Bambang kini tinggal sepenuhnya di Megamendung, setelah pensiun. Total lahan yang sudah ia beli mencapai 27 hektare. Lahan-lahan itu kini sepenuhnya menjadi hutan. Bambang tak mau menghitung berapa uang yang ia keluarkan untuk membelinya. “Jangan lihat seberapa banyak dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun semua ini, lihat komitmen dan konsistensi kami menyelamatkan lahan kritis di sini,” kata Bambang.

Bambang ingin mengingatkan semua orang agar terdorong dengan apa yang ia dan istrinya lakukan, yakni peduli lingkungan dan kelestarian alam. Rosita menambahkan tidak perlu memiliki lahan yang luas untuk mulai menanam. Hanya perlu sebidang tanah di depan halaman rumah untuk memulai menanam. Rosita memiliki keyakinan bahwa apa yang ia lakukan ini akan bermanfaat bagi anak dan cucunya nanti.

20190311171703.jpg

Oleh karena itu, Rosita dan Bambang selalu mengajarkan dan mengenalkan alam kepada anak dan cucu-cucunya. “Sebagai orang tua kita harus mengenalkan dan membuat anak-anak dekat dengan alam, agar mereka bisa menyayangi pepohonan dan bumi kita ini sedari usia dini,” kata Rosita.

Ke depan, Rosita dan Bambang berencana menjadikan hutan ini sebagai model pengelolaan rehabilitasi ekosistem dan lahan kritis. Ia meminta Fakultas Kehutanan IPB menyurvei keanekaragaman hayati yang ada di hutan organik ini. Setelah survei ia berharap ada evaluasi dan monitor rutin. Sementara Rosita berencana menanami 2 hektare lahannya dengan buah-buahan untuk observasi food forest.

20190311171820.jpg

Rosita berharap, dengan semakin banyaknya orang yang mengetahui keberadaan hutan organik ini, sehingga semakin banyak juga orang yang tergugah untuk menanam pohon dan akhirnya mengikuti jejaknya. “Saya ingin berbagi pengalaman dengan membuat sekolah alam untuk masyarakat sekitar sini, supaya semua bisa menyadari bahwa hutan itu memberikan manfaat yang banyak untuk kita semua,” kata Rosita. “Apalagi di tengah isu perubahan iklim seperti sekarang.” 

Kontributor:
Tegar Patidjaya K

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain