Kolom | Oktober-Desember 2019

Trembesi untuk Mencegah Pemanasan Global

Perbandingan daya serap polusi trembesi dan pohon lain. Cocok di segala tempat untuk mencegah pemanasan global dan perubahan iklim.

Endes N. Dahlan

Dosen Hutan Kota dan Jasa Lingkungan Fakultas Kehutanan IPB

PEMERINTAH DKI Jakarta hendak mengurangi polusi udara Jakarta yang dilaporkan semakin tidak sehat akibat asap kendaraan bermotor, pabrik, dan aktivitas manusia. Salah satu dari delapan cara mengatasinya adalah melalui penanaman pohon. Pemerintah hendak membagikan tanaman hias lidah mertua. Efektifkah cara ini?

Untuk jangka panjang sebaiknya menimbang trembesi yang punya nama Latin Albizia saman atau sinonim dengan Samanea saman.

Trembesi disebut juga pohon hujan atau Ki Hujan. Orang Inggris menyebutnya rain tree karena daunnya meneteskan air ketika hujan. Trembesi merupakan pohon besar dengan ketinggian bisa mencapai 20 meter bahkan 30 meter dengan percabangan tajuk yang sangat lebar. Ki Hujan mempunyai jaringan akar yang luas, sehingga kurang cocok ditanam di pekarangan karena bisa merusak bangunan.

Ketika pemerintahan Indonesia dipimpin oleh Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, dalam rangka gerakan one man one tree, ia menggalakan penanaman pohon trembesi di seluruh wilayah Indonesia karena satu batang trembesi dewasa, dengan percabangan lebih dari 15 meter, mampu menyerap 28,5 ton gas setara karbon dioksida (CO2) per tahun. Di lingkungan Istana Negara terdapat dua batang pohon trembesi yang ditanam oleh presiden pertama Ir. Soekarno yang masih terpelihara dengan baik hingga kini.

Di beberapa daerah di Indonesia, pohon ini sering disebut Kayu Ambon (Melayu), Trembesi, Munggur, Punggur, Meh (Jawa), Ki Hujan (Sunda). Dalam bahasa Inggris pohon ini mempunyai beberapa nama seperti, East Indian Walnut, Rain Tree, Saman Tree, Acacia Preta, dan False Powder Puff. Di beberapa negara Pohon Trembesi disebut Pukul Lima (Malaysia), Jamjuree (Thailand), Cay Mura (Vietnam),Vilaiti Siris (India), Bhagaya Mara (Kanada), Algarrobo (Kuba), Campano (Kolombia), Regenbaum (Jerman), Chorona (Portugis).

Tumbuhan ini diperkirakan berasal dari Meksiko, Peru, dan Brasil. Sekarang telah tersebar ke seluruh daerah beriklim tropis termasuk Indonesia. Trembesi pada mulanya diketahui tumbuh di sabana yang minim air. Kemampuan tumbuh di sabana menunjukkan pohon ini tidak memiliki evaporasi yang tinggi. Jadi sangat salah kalau ada orang yang mengatakan pohon ini sebagai penguras air tanah yang kuat.

Saya pernah diundang Presiden Yudhoyono memberikan pembekalan penanaman trembesi pada 13 Januari 2010 di Istana Negara. Saya menganjurkan agar jenis pohon utama untuk memerangi global warming adalah trembesi karena berdasarkan penelitian, dibandingkan 43 jenis tanaman pada 2008, trembesi yang memiliki daya serap polusi paling tinggi, bahkan jika perbandingannya ditambah 26 jenis tanaman lain, daya serap karbon dioksida trembesi tetap terbesar.

Trembesi termasuk jenis yang "die hard". Di tanah kering kurang hujan (sabana) dia mampu hidup, namun di daerah banyak air, dasar sungai yang becek, dia juga bisa hidup. Trembesi juga memiliki sistem perakaran yang mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk mengikat nitrogen dari udara, sehingga pertumbuhannya dapat subur walaupun kurang mendapatkan pupuk nitrogen. Dengan demikian trembesi bisa hidup di lahan-lahan marginal dan kritis, seperti bekas tambang, bahkan mampu bertahan pada keasaman tanah yang tinggi. Pohon ini bisa mencapai usia 300-500 tahun.

Dengan “daya teduh” yang bagus dan kemampuan penyerapan karbon dioksida yang sangat besar—terlepas dari segala kekurangannya—maka trembesi cocok dijadikan pilihan pohon andalan untuk mengisi ruang terbuka hijau yang semakin lama semakin berkurang di lingkungan sekitar kita, tergantikan oleh “hutan beton”. Tidak mengherankan bila sejak tahun 2006 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai bahwa kualitas udara Jakarta terburuk ketiga setelah Kota Meksiko dan Bangkok.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007. Salah satu unsurnya adalah bahwa dalam kawasan perkotaan harus tersedia RTH sebesar 10% RTH privat dan 20% RTH publik. RTH privat adalah RTH yang berada dalam ruang terbangun seperti lingkungan perumahan, sementara RTH publik adalah RTH yang berada dalam ruang terbuka (publik) di kawasan perkotaan. Diperlukan sekali hadirnya 30% RTH di kawasan kota-kota di Indonesia. Keberadaan RTH sebesar 30 persen nantinya akan mengurangi kadar konsentrasi sulfur dioksida (SO2) sebesar 70 persen, dan nitrogen (NO2) sebesar 67 persen.

Kemampuan trembesi menyerap polusi. (Sumber: Penulis)

Lalu bagaimana dengan gas CO (karbon monoksida)? Gas ini sangat beracun. Afinitas gas CO jika bergabung Hb menjadi Hb-CO sebanyak 200 kali lebih kuat dibandingkan dengan Hb-O2. Oleh sebab itu, walaupun konsentrasinya hanya 10-20 ppm di dalam mobil bisa meracuni penumpang. Pengendara bisa menderita pusing, kelelahan bahkan kematian. Pernah terjadi seorang ibu yang membawa anaknya berbelanja meninggalkan anaknya di mobil karena tertidur. Mesin mobil tetap menyala sepanjang ia berbelanja. Ketika kembali si anak sudah meninggal.

Tidak seperti gas polutan, gas CO kurang bisa diserap oleh cairan plasma daun. Jadi sebaiknya ketika mengendarai mobil kecil dengan penumpang banyak, pengendaranya harus sering membuka jendela agar gas CO yang ada dalam mobil ke luar berganti dengan udara relatif bersih.

Allah sayang dengan sifat "rahman dan rahim”, kasih sayang pada manusia menciptakan mekanisme penyerap gas CO melalui mikroorganisme yang ada pada humus dan serasah pada tanah. Dalam dunia penelitian, pernah diuji dua sungkup kaca tertutup rapat yang berisi tanah. Satu sungkup diberi desinfektan dan lainnya tidak. Ternyata tanah yang diberi desinfektan konsentrasi gas karbon monoksidanya tetap, sedangkan yang tidak diberi desinfektan konsentrasi CO menjadi 0 ppm.

Jadi daun yang jatuh jangan dibakar. Serasah yang berasal dari dedaunan yang jatuh serta humusnya harus dibiarkan sebagai penyerap gas CO yang kemudian bisa kita jadikan humus, pupuk penyubur tanaman.

PT Djarum pernah melakukan banyak penanaman trembesi di Jawa, Bali dan Lombok. Baik di kiri kanan jalan maupun di berbagai kawasan perkotaan, agar nanti sekitar 10-15 tahun setelah penanaman, pepohonan tersebut dapat menyerap gas CO2 melalui proses fotosintesis yang tentunya berperan dalam mengurangi dampak buruk global warming.

Lalu bagaimana dengan lidah mertua (Sansevieria)? Tumbuhan ini tinggi maksimalnya sekitar 75 sentimeter dan lebar daunnya sekitar 3 sentimeter. Jadi jika dibandingkan dengan trembesi, luasan daunnya sangat kalah. Sehingga kemampuan serapan gas polutannya juga rendah. Trembesi bisa menjadi tumbuhan peneduh juga untuk habitat satwa liar.

Marilah kita menanam pohon yang banyak, termasuk trembesi, di area terbuka. Selain untuk kesejukan dan keteduhan, juga menjadi "paru-paru" untuk kita wariskan kepada anak, cucu, dan generasi penerus kita.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.