Buku | Oktober-Desember 2019

Keajaiban Tanah: Ia Seperti Tubuh Manusia

Tanah bisa bernapas dan sakit. Ia tak bisa diharapkan bekerja keras memulihkan sampah yang kita buang.

Susi Safitri

Mahasiswa pasca sarjana Nanjing University of Information Science and Technology

JIKA Swedia punya Greta Thunberg, di Cina ada Zhang Ningyang. Usianya 13 tahun, siswa sekolah tingkat pertama di Nanjing. Jika Greta besar  di keluarga seniman, Zhang tumbuh dalam keluarga peneliti. Cita-citanya menjadi ilmuwan tanah. 

Zhang punya perangkat ke arah sana. Ia selalu penasaran dan ingin tahu dengan fenomena alam yang ia lihat di sekelilingnya. Misalnya, seperti terbaca di bukunya yang terbit Maret lalu, Shénqí de tǔrǎng (Keajaiban Tanah), ia mengajukan banyak pertanyaan sederhana yang butuh jawaban yang kompleks. Ia selalu penasaran dengan begitu banyak hewan kecil yang hidup di tanah. “Apa yang mereka lakukan?”, “Mengapa mereka memilih tanah sebagai tempat tinggal?”,  “Bagaimana mereka bergaul dengan "dunia luar"?”

Pertanyaan-pertanyaan Zhiang yang menuntut jawaban rumit itu mendorong Cai Zucong, profesor ilmu tanah di Nanjing Normal University, mengajaknya bekerja sama mengelaborasi pertanyaan itu dalam buku tersebut. Selain gemar menulis, Zhang juga suka melukis sejak usia 10. Maka ia menggabungkan dua hal itu dalam buku ini. “Mungkin suatu hari, saya akan melakukan percobaan yang lebih eksperimental dan menemukan keajaiban lain dari tanah,” katanya.

Buku “Keajaiban Tanah” pada dasarnya buku sains dasar. Ia menjadi populer karena Zhang menambahkannya dengan ilustrasi. Buku yang diterbitkan China Science Publishing and Media Ltd itu dikemas dengan apik. Tebalnya 34 halaman. Memuat 16 bab topik penting dan dilengkapi dengan 16 lukisan Zhang.

Setelah membaca buku ini kita akan mengerti atribut dasar dan fungsi tanah, muncul kesadaran menjaganya, dan paham tanah sebagai sumber kehidupan. Itu pula kenapa tanah disebut ibu pertiwi. Tanah juga disebut-sebut sebagai asal kita, manusia, dan segala jenis mahluk hidup di planet ini. “Buku ini membuka tabir ajaib tentang tanah dalam bentuk lukisan unik, semoga anak-anak menyukainya,” tulis Profesor Cai dalam kata pengantar.

Menurut Cai dan Zhang, butuh lebih seratus tahun untuk membentuk tanah setebal 1 sentimeter. Tanah yang kita pijak setiap waktu itu hanya tampak di permukaan, Cai dan Zhang mengungkap apa yang tak terlihat di dalamnya yang sangat ramai oleh pelbagai jenis hewan. Setiap gram tanah adalah rumah bagi ratusan juta atau bahkan miliaran mikroba. Ada juga sejumlah besar kecoak, serangga, dan tikus, yang merupakan biota bawah tanah yang sangat besar.

Mikroorganisme dan hewan di tanah menggunakan bahan organik tanah, sekresi akar tanaman, dan sisa akar sebagai makanan, untuk hidup bebas sana yang membuat tanah penuh vitalitas. Tanah dan hewan di dalamnya saling membutuhkan.

Seperti halnya manusia, menurut Cai dan Zhang, tanah juga bernapas. Tanah menguras bahan organik, yaitu energi dari makanan, juga oksigen lalu menghembuskan karbon dioksida. Tanah adalah material yang hidup seperti kita. Dalam biota tanah ada juga beberapa spesies yang tidak membutuhkan oksigen untuk bernapas. Ketika tanah tergenang, dan oksigen tidak tersedia, mereka menguras bahan organik dan menghembuskan karbon dioksida dan CH4 yang dihembuskan ke udara dari tanah yang terendam sehingga meningkatkan suhu atmosfer.

Salah satu lukisan tanah karya Zhang Ningyang di buku Shénqí de tǔrǎng (Keajaiban Tanah.

Maka untuk mengurangi efek gas rumah kaca, menurut Cai dan Zhang, kita perlu menemukan cara untuk mengurangi metana yang dibuang dengan cara ini. Sebab dari proses ini emisi gas rumah kaca dimulai.

Sekitar setengah dari ruang di tanah adalah pori-pori yang menyimpan kelembaban. Lapisan tanah sedalam satu meter, jika terisi penuh, bisa menyimpan 200-500 milimeter air. Karena itu, tanah juga merupakan tempat penyimpanan air yang sangat besar. Ketika tanah tertutupi oleh bangunan dan jalan raya, air tidak akan masuk ke dalamnya dan tanah tidak akan lagi memiliki penyimpanan air.

Dalam ilustrasi di halaman 33, Zhang menuliskan empat karakter Mandarin: 保护土壤 (dibaca Bǎohù tǔrǎng yang berarti lindungi tanah). Ada empat hal jika kita ingin melestarikan planet ini dengan cara melindungi tanah: tidak membangun gedung dan jalan terlalu banyak, tidak memisahkan tanah dari tanaman, tidak menanam terlalu banyak dan tak memakai pupuk kimia, tidak mengandalkan tanah untuk mengurai sampah.

Dengan ditulis seperti ini, ilmu dasar tanah menjadi asyik. Zhang dan Cai memang membuatnya agar bisa dicerna anak-anak sehingga tumbuh kesadaran melindunginya sejak dini. Sebab, tanah juga seperti manusia. “Tanah bisa kelelahan, menderita sakit, kehilangan nyawanya, sehingga ia harus dirawat,” kata Profesor Cai.

Artikel ini terbit di majalah versi cetak dengan judul "Tanah Itu Seperti Manusia".

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.