Profil | Oktober-Desember 2019

Keluarga Pembuat Kapal Pinisi

Keluarga di Bulukumba ini bertahan menjadi pembuat kapal pinisi, kapal khas Sulawesi Selatan. Pembelinya dari seluruh dunia.

Robi Deslia Waldi

Bekerja di Fakultas Kehutanan IPB

USIANYA baru 24 tahun, tapi Alfian Alnies sudah membuat ratusan kapal pinisi yang dipesan para pengusaha kapal atau perusahaan pariwisata dari seluruh dunia. Ketika saya menemuinya akhir Agustus 2019, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar itu sedang mengerjakan dua kapal berbobot mati 500 ton yang dipesan sebuah perusahaan wisata Korea dan Australia.

Alfian adalah generasi ke-10 keluarga pembuat Pinisi di Kelurahan Tanahberu, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ia anak ketiga Syafruddin yang belajar membuat kapal Pinisi sejak SMP. “Sehabis sekolah saya bantu-bantu membuat kapal,” kata Alfian. Ia mengamati ayah dan para pekerja merancang, memikirkan, hingga memasang bilah-bilah kayu hingga membentuk kapal Pinisi yang megah.

Kini Alfian telah menjadi kapten bagi 20 pekerja membuat kapal. Ayahnya sudah mempercayainya menyelesaikan kapal pelbagai ukuran. Kapal terbesar yang pernah ia buat berbobot 1.000 ton yang dipesan sebuah perusahaan Prancis. Untuk kapal sebesar itu, Alfian menghabiskan waktu 2 tahun. Harganya Rp 25 miliar.

Bahan baku utama kapal Pinisi adalah kayu biti (Vitex cofassus), ulin, jati, dan kesambi. Pohon biti adalah kayu endemik Bulukumba yang ditanam masyarakat di hutan tanaman rakyat. Pohon ini menjadi rangka utama karena kayunya sudah melengkung. “Dia juga makin kuat jika terendam air laut,” kata Syafruddin, 57 tahun.

Sementara ulin, kayu besi asal Kalimantan, merupakan bahan baku dinding, jati untuk dek, dan kesambi untuk ornamen kapal. Syafruddin mengajarkan Alfian membuat Pinisi memakai ukuran jengkal, bukan memakai satuan meter. Menurut dia, dengan jengkal, ia tak harus memotong pohon biti yang sudah melengkung. “Saya ikuti arahnya saja, tidak memotong sesuai kebutuhan,” kata dia.

Alfian Alnies (kiri) dan Syafruddin.

Dengan cara seperti itu, kata Syafruddin, kapal menjadi punya rangka yang kuat karena mengikuti postur dan kontur kayu yang bengkok karena alam. Sejauh ini ia tak punya kesulitan dalam mendapatkan bahan baku. Syafruddin memakai teknik tebang pilih untuk kayu yang ia tanam di lahan hutannya. Kayu yang ia potong hanya pohon yang berdiameter 1 meter ke atas. Ia pindah ke blok berikutnya jika butuh kayu tambahan. Sehingga setelah 30 tahun, kayu biti di blok pertama sudah siap panen lagi.

Dengan kearifan lokal memperlakukan pohon seperti itu, Syafruddin dan Alfian selalu punya stok bahan baku membuat kapal. Kayu ulin memang mereka pasok dari Kalimantan. Namun, seiring larangan menebang pohon ini karena masuk spesies dilindungi karena langka, ia menggantinya dengan jati atau kesambi.

Syafruddin mendapatkan ilmu membuat kapal Pinisi dari ayahnya. Ia menurunkan ilmu itu kepada Alfian dan lima anaknya. Adik Alfian, yang masih SMP, kini juga sudah terlibat membuat Pinisi. Ilmu itu diturunkan secara lisan. “Tak ada yang ditulis,” kata Alfian.

Toh, sebagai mahasiswa, Alfian mulai memakai teknologi untuk membuat kapal, meski Syafruddin melarangnya. Bagi Syafruddin, teknologi modern acap tak cocok dengan ilmu nenek moyang. Sementara Alfian yakin teknologi metrik dan fisika membantunya merancang kapal lebih cepat karena ukuran bisa dihitung memakai rumus.

Alfian sadar pilihannya menjadi pembuat Pinisi tak populer di generasinya. Ia sudah bulat akan menggeluti bisnis ini selepas lulus kuliah. Kini ia hanya tiga hari di Bulukumba karena harus membagi waktu dengan kuliah di Makassar—empat jam jalan darat. Karena bolak-balik itulah skripsinya tak kunjung rampung.

Di luar soal bisnis, Alfian mengatakan bahwa menjadi pembuat Pinisi sekaligus mengabadikan budaya leluhurnya. “Ini bukan hanya semata-mata karena ekonomi namun ada nilai budaya yang kami jaga,” kata dia.

Kapal Pinisi berbobot 500 ton dengan tiga lantai yang dipesan perusahaan Korea Selatan untuk wisata.

Berkat Pinisi pula, Alfian bisa berlayar ke pelbagai negara. Tiap kali ia selesai membuat satu kapal, ia akan melayarkannya hingga ke tempat pemesannya sekaligus mengetes kestabilan dan kekuatan kapal yang ia buat itu. Berkat manajemen modern juga, Alfian sudah melengkapi transaksinya dengan layanan purna jual. “Setahun ada jaminan perbaikan jika ada kerusakan,” kata dia.

Perbaikan dan layanan servis biasanya tergantung musim. Kadang-kadang ia dipanggil pemilik kapal berlayar ke negara mereka. Ada juga pemilik kapal yang singgah ke Bulukumba terutama jika mereka sedang berlayar di laut Pasifik dan melintas perairan Indonesia.

Alfian berkompromi dengan adat leluhurnya yang memakai ritual sebelum membuat Pinisi. Ritual pertama adalah memotong kayu sebagai dasar kapal yang biasa disebut dengan “potong lunas”. Lunas merupakan balok panjang yang menjadi bagian paling bawah pada kapal. Kemudian, menyediakan sesajen berupa makanan yang manis-manis dan memotong seekor ayam putih.

Makanan yang manis merupakan simbol harapan agar perahu yang hendak dibuat akan mendatangkan hoki bagi pemiliknya, sementara darah yang ditempelkan pada “lunas” merupakan simbol agar tidak terjadi kecelakaan saat membuat perahu.

Pada akhir Agustus itu, Alfian tengah menyelesaikan satu kapal kecil yang dipesan Museum Bahari Australia. Kapal berukuran 17 x 3 meter itu harus selesai sebelum Desember karena akan dipamerkan dalam Festival Kapal di Sydney. “Saya senang mengerjakannya karena kelak kapal ini akan ada di museum di Australia,” kata Alfian.

Kapal pinisi tiga lantai.

Kapal kecil 21 meter persegi itu dikerjakannya selama lima bulan. Harga untuk kapal ini Rp 1 miliar di luar dekorasi. Sementara jika kapal dilengkapi dengan furniture, harganya bisa naik lima kali lipat.

Adapun kapal pesiar pesanan Korea itu akan ia buat tiga tingkat: dek, ruang kendali, dan lambung kapal. Di dek akan ia bangun restoran. Perusahaan Korea ini ingin mendapatkan kapal secara utuh dan bersih sehingga Alfian mengerjakan furniture dalam kapalnya sekaligus.

Syafruddin menerapkan kerja profesional bagi para karyawannya, tak terkecuali anggota keluarganya. Ia bahkan membayar upah bagi istrinya karena menyediakan makanan untuk ia dan para pekerjanya. Bahkan anak bungsunya yang masih SMP. Dalam sebulan, upah untuk keluarganya saja bisa terhitung Rp 30 juta.

Kayu jati, kesambi, dan biti (bengkok) sebagai bahan baku kapal Pinisi.

Syafruddin tak cemas dengan bahan baku. Menurut dia, selama penduduk arif menanam biti dan kayu lain yang ia butuhkan pasokan kayu tak akan seret. Masyarakat Bulukumba, kata dia, paham benar bagaimana berhubungan dengan alam. Ada satu filosofi yang ia pegang dari nenek moyangnya. “Barang siapa yang menyayangi ciptaan Allah, barang siapa yang melindungi ciptaan-Nya, maka Allah juga akan menyayangi dan melindungi kita,” kata dia. “Itu ajaran nenek kami.”

Dengan melestarikan bahan baku, dengan mewariskan keahlian membuat pinisi kepada generasi yang lebih muda, dengan kesediaan generasi berikutnya meneruskan budaya lokal ini, kapal legendaris dari Sulawesi Selatan ini akan berumur panjang. Menurut Alfian, setelah rampung membuat satu kapal, biasanya pesanan berikutnya sudah menunggu.

 Artikel ini terbit di majalah cetak dengan judul "Panjang Umur Kapal Pinisi".

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain