Pigura | Oktober-Desember 2019

Berharap Rotan di Hutan Harapan

Sekitar 300 keluarga suku Batin Sembilan mengandalkan hidup dan rotan dan buahnya yang menyebar di Hutan Harapan, Jambi.

Asep Ayat

Pemerhati burung liar

PENDUDUK suku Batin Sembilan sudah mendiami kawasan hutan yang kini dikenal dengan nama Hutan Sembilan sejak abad 7, pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Mereka hidup dengan mengandalkan pada rotan dan buahnya—sering disebut jernang—untuk diambil resin sebagai bahan pewarna alami, obat, dan dupa.

Penduduk Batin Sembilan menjual jernang kepada pengepul senilai Rp 350.000 hingga Rp 400.000 per kilogram. Ketika kawasan Hutan Harapan ini berubah menjadi perkebunan sawit, suku Batin Sembilan beralih pekerjaan menjadi pengumpul berondol atau buah sawit yang tercecer. Perusahaan sawit membelinya dengan upah Rp 25.000 per hari.

Saat ini diperkirakan ada 300 keluarga suku Batin Sembilan yang menyebar di beberapa tempat dalam kawasan dekat perbatasan Hutan Harapan. Hutan dataran rendah ini berkurang seluas 13,8 persen selama 97 tahun, 1900-1997, yang dikonversi menjadi areal perkebunan. Pada awal 2000, hutan ini ditetapkan sebagai hutan produksi seluas 500 ribu hektare.

Sejak 2004, pemerintah memberikan konsesi kepada konsorsium Burung Indonesia untuk merestorasi Hutan Harapan dengan skema restorasi ekosistem seluas 101.335 hektare di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Karena pengelolaan kawasan konservasi menuntut lembaga berbadan hukum, konsorsium mendirikan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI).

Berikut ini penjelasan PT REKI seperti termuat dalam web hutanharapan.id:

Departemen Kehutanan memberikan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) kepada PT PT Reki untuk areal seluas 52.170 hektare melalui SK Menhut Nomor SK.293/Menhut- II/2007 tanggal 28 Agustus 2007 pada kelompok hutan Sungai Meranti dan Sungai Kapas, dalam wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Sedangkan untuk wilayah Jambi, didapat izin pada 2010 untuk areal seluas 46.385 hektare di Kabupaten Batanghari dan Sarolangun melalui SK Menhut No 327/Menhut-II/2010). Total luas izin konsesinya 98.555 hektare. Kawasan ini diberi nama Hutan Harapan.

Hutan Harapan merupakan sumber serta areal resapan air penting bagi masyarakat Jambi dan Sumatera Selatan. Sungai Batang Kapas dan Sungai Meranti adalah hulu Sungai Musi yang mengalir melalui Sungai Batanghari Leko. Sungai ini adalah sumber kehidupan utama masyarakat Sumatera Selatan, baik untuk air bersih, perikanan, pertanian, perkebunan maupun sarana transportasi.

Sungai lainnya adalah Sungai Lalan, yang merupakan sumber kehidupan masyarakat Bayunglincir dan sekitarnya. Sungai Kandang yang juga berhulu di Hutan Harapan merupakan sumber air penting bagi masyarakat di sekitar Sungai Bahar, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. Pada musim kemarau 2015 lalu, sungai-sungai yang berhulu di Hutan Harapan tetap mampu menangkap dan menyuplai air bagi masyarakat Sumsel dan Jambi.

Hutan Harapan dihuni oleh lebih dari 307 jenis burung, 64 jenis mamalia, 123 jenis ikan, 55 jenis amfibi, 71 jenis reptil, 728 jenis pohon. Sebagian flora dan fauna tersebut tidak ditemukan di hutan lainnya di Indonesia bahkan di dunia. Sebagian lagi sudah sangat langka dan terancam punah, seperti harimau Sumatera, gajah Asia, beruang madu, ungko, bangau storm, rangkong, jelutung, bulian, tembesu dan keruing.

Penduduk di Batin Sembilan yang berada di kawasan Hutan Harapan Jambi, sedang beristirahat setelah mencari dan mengumpulkan untuk dijual ke pengepul (Foto: Asep Ayat, 2014)

Masyarakat Batin Sembilan adalah kelompok masyarakat yang hidup di alam bebas yang memiliki kearifan sendiri dalam mengelola hutan. Mereka memanfaatkan Hutan Harapan dengan mengambil hasil hutan bukan kayu, seperti rotan, jernang, madu sialang, getah jelutung, damar, serta tanaman obat-obatan. Hutan Harapan menjadi kawasan hidup dan jelajah sekitar keluarga Batin Sembilan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.