Buku | Oktober-Desember 2019

Mengapa Greta Thunberg Begitu Berpengaruh

Ia menjadi juru bicara yang efektif karena memadukan pelbagai anasir yang menopang sebagai juru bicara. Bintang baru gerakan mencegah krisis iklim.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

GRETA Thunberg tiba di New York, 28 Agustus 2019, setelah 15 hari berlayar dengan kapal mesin bertenaga angin dan matahari. Seperti umumnya selebritas, ia disambut. Anak-anak dan orang tua tumplek menyambutnya dengan membentangkan spanduk bertuliskan tiga kata yang selalu ia bawa tiap kali duduk di depan parlemen Swedia sejak tahun lalu: skolstrejk för klimatet, mogok sekolah untuk (mencegah) perubahan iklim.

Ia bintang baru gerakan mencegah pemanasan global. Gadis 16 tahun ini diundang Perserikatan Bangsa-Bangsa menghadiri konferensi perubahan iklim bulan ini. Ketika ia pelan-pelan terkenal karena acap berbicara di pelbagai forum dunia, ada banyak pertanyaan mengapa ia begitu berpengaruh. Karena itu para “peragu iklim” menuduh Greta hanya boneka aktivis lingkungan saja.

Kecurigaan itu patah jika kita mendengar langsung pidato-pidatonya. Greta seorang anak pintar yang tulen. Pikiran-pikirannya melampaui anak seusianya, bahkan orang-orang seumuran ayahnya, yang masih saja tak percaya bumi sedang memanas, kendati ilmu pengetahuan telah membuktikannya secara empiris. Lewat buku ini, dengan judul seperti menjawab para peragu itu, No One is Too Small to Make a Difference, Greta menunjukkan ia memang layak didengar.

Retorikanya mengentak. Dengan wajah dinginnya yang polos, Greta mengimbau seluruh dunia, terutama para politikus dan pemimpin tiap negara, bertindak bersama mencegah bumi kian panas. “Saya ingin Anda panik,” katanya, saat berbicara di depan para kepala negara kaya dan pengusaha top dunia dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada Januari 2019. “Saya ingin Anda merasakan seperti yang saya rasakan: rumah kita sedang terbakar. Bertindaklah seakan tak ada yang bisa kita lakukan selain menyelamatkannya.”

Seruannya agar anak-anak seusianya mogok sekolah dan turun ke jalan menyerukan para pemimpin bertindak menyelamatkan planet ini bergema hingga ke 105 negara pada 15 Maret 2019. Greta menjadi penyeru paling efektif dan didengar di seluruh dunia kini. Ia kian sering berbicara di forum-forum bergengsi, bersama para selebritas, mengingatkan tentang krisis iklim.

“Kami mogok sekolah karena kami sudah menyelesaikan pekerjaan rumah kami,” katanya di depan parlemen Inggris. “Sekarang tinggal Anda sekalian yang belum menyelesaikan pekerjaan rumah Anda terhadap planet ini. Apakah kalian mendengarkan saya? Apakah mikrofon ini berfungsi? Apakah bahasa Inggris saya cukup jelas untuk Anda cerna?” Greta kian menggelegak.

Ia memadukan banyak hal dengan sempurna dalam sosok seorang juru bicara: masih remaja, pintar beretorika, kukuh dalam sikap, membius orang lain dengan gaya bercerita yang efektif—lewat metafora-metafora yang renyah dan gampang dicerna. Media Inggris yang prestisius, The Guardian, kini mengikuti kosa kata Greta dalam memberitakan pemanasan global. Mereka tak lagi memakai kata “climate change” tapi “climate crisis” atau “climate emergency”. Koran ini tak lagi memakai “global warming” tapi “global heating”. Greta telah menyadarkan semua orang bahwa sebuah tindakan bisa lebih efektif jika setiap orang memakai kata yang sama, tanpa eufimisme.

Syahdan, Greta menjadi peduli terhadap planet ini sejak usia 8. Ketika gurunya memutar video beruang kutub di Utara yang kehilangan rumah akibat es yang menghilang karena suhu memanas, Greta menangis tak henti-henti. “Bayangan tentang nasib beruang itu menancap di kepala saya,” katanya, kepada Guardian.

Dari orang tuanya, Greta tahu soal pemanasan global serta penyebabnya. Energi fosil sebagai sumber bahan bakar menyemburkan emisi karbon ke atmosfer dan terperangkap di sana. Panas matahari yang memancar tak lagi terserap oleh ozon sehingga memantul kembali ke bumi. Para ilmuwan memprediksi jika gaya hidup manusia tak berubah dalam 100 tahun ke depan, bumi bertambah panas 2 derajat Celsius, yang bisa menaikkan air laut hingga 3 meter.

No One is Too Small to Make a Difference (Greta Thunberg, 2019)

Greta bergidik membaca semua informasi itu. Sebagai penderita Asperger, sindrom autis yang membuatnya selalu gelisah pada sesuatu yang buruk, ia ingin melakukan sesuatu. Sampai akhirnya ia bertemu Bo Thorén, aktivis lingkungan Swedia, yang membaca tulisan Greta tentang lingkungan di koran Svenska Dagbladet pada Mei 2018. Thorén menyarankan Greta mogok sekolah dan berdemo menentang perubahan iklim seperti anak-anak sekolah Amerika menentang aturan senjata api di Parkland.

Tapi tak ada teman yang mau bergabung. Pada 20 Agustus 2018, Greta akhirnya mengayuh sepeda sendiri ke gedung parlemen Swedia. Ia duduk di sana seorang diri hingga sore setiap Jumat sambil membentangkan tulisan di kertas karton: skolstrejk för klimatet. Sejak itu gerakan mencegah pemanasan global punya wajah baru yang segar.

Artikel ini terbit di majalah versi cetak dengan judul "Greta Thunberg di New York".

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain