Profil | Juli-September 2019

Wayang Kardus untuk Menyelamatkan Satwa Langka

Seniman Indramayu lulusan Fakultas Ekonomi ini berkeliling Indonesia untuk mendongeng tentang konservasi dan penyelamatan satwa langka Indonesia. Acap kesulitan biaya.

Mustofa Fato

Pemerhati kehutanan dan lingkungan. Penyuka kopi dan fotografi

BAGI Samsudin, kardus punya banyak makna dan simbol untuk menggambarkan Indonesia, lingkungan, dan keanekaragaman-hayatinya. Kardus jadi simbol untuk melawan kerusakan alam akibat sampah plastik yang sulit didaur ulang. “Bangsa Indonesia jangan seperti kardus yang hanya pandai jadi pembungkus saja,” kata laki-laki 47 tahun ini. “Kita harus menciptakan isinya yang bermanfaat.” 

Maka ia pun mendongeng memakai wayang kardus. Dongengnya seputar satwa langka untuk menumbuhkan kesadaran orang banyak tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mencintai hewan di dalamnya. Bapak satu anak perempuan yang tinggal di Indramayu, Jawa Barat, ini telah berkeliling Indonesia membawakan dongeng dengan wayang kardus di banyak tempat. Ia memakai sepeda untuk menjangkau daerah-daerah terpencil di pelosok Nusantara dengan cerita lokal tiap wilayah.

Ide mendongeng keliling dengan wayang kardus tentang kampanye lingkungan dimulainya pada 2013. Waktu itu ia mengikuti sebuah acara yang dihela sebuah lembaga konservasi badak di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Waktu itu sedang ramai konflik badak dan manusia. Selesai mengikuti acara terbit di pikirannya untuk berkampanye menumbuhkan kecintaan kepada satwa langka, terutama kepada anak-anak.

Menurut Samsudin, konflik manusia dan hewan acap terjadi akibat kurangnya pengetahuan tentang arti penting satwa bagi ekosistem planet ini. Sepulang dari Banten, Sarjana Ekonomi Manajemen Universitas Wisnu Wardhana Malang ini membentuk komunitas Rumah Baca Bumi Pertiwi di tempat tinggalnya, Desa Krasak, Jatibarang. Di sela mengajar sebagai guru honorer di sekolah dasar, Samsudin mengajari anak-anak mendongeng dan berbicara di depan khalayak.

Ia membuat sendiri pelbagai karakter wayang berbahan kardus. Jiwa mengajar Samsudin memudahkannya memahami kondisi anak-anak yang tergabung dalam komunitas. Sedangkan jiwa seni memudahkan ia membuat wayang satwa yang bagus. “Karakter satwa dan dongeng memudahkan anak-anak menangkap cerita dan pesan di dalamnya,” kata dia pada awal Juli 2019.

Wawancara dengan Forest Digest dilakukan di Kebun Raya Bogor, setelah ia mendongeng di sana. Samsudin makin terkenal dan diundang ke banyak tempat terutama setelah rutin tampil di TVRI Jambi pada 2016 lewat acara Mari Bercerita.

Tawaran itu datang pada awal 2016. Tapi ia tak punya uang untuk ongkos ke Jambi. Setelah mengadu kepada teman-temannya di lembaga konservasi, ia diizinkan menumpang mobil lembaga itu yang kebetulan punya program di provinsi itu. Selama perjalanan, teman-temannya di lembaga itu setuju dengan ide Samsudin untuk berkeliling mendongeng memakai sepeda. Teman-temannya siap mencarikan sponsor untuk biaya.

Pada Maret 2016 Samsudin bersiap kembali ke Jambi dengan sepeda. Ada enam relawan yang akan membantunya. Sebulan kemudian ia berangkat. Titik awal perjalanan Samsudin dimulai dari Gedung Manggala Wanabakti, kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta. “Saya ingin KLHK mendukung dan ada liputan media nasional,” katanya. “Tanpa publikasi pesan saya tak akan sampai ke masyarakat.”

Di kota-kota yang ia lewati, Samsudin mendongeng di sekolah-sekolah dasar sampai menengah maupun di tingkat prasekolah. Ia juga mendongeng untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sebelum mendongeng Samsudin melakukan riset kecil tentang daerah dan cerita lokalnya sehingga pendengar lebih mudah mencerna ceritanya.

Dalam perjalanan ke Jambi, ada beberapa relawan yang tidak bisa ikut terus. Bahkan sebelum sampai Jambi, yang menemaninya tinggal dua orang. “Selain kesibukan, dana untuk kegiatan ini sangat minim,” katanya.

Kembali ke Jawa, teman-temannya menyarankan agar ia meneruskan mendongeng sampai Aceh. Juga dengan naik sepeda. Kali ini tak ada relawan yang menemani. Ia berangkat seorang diri dan singgah di lembaga-lembaga konservasi tiap kota: Bengkulu, Pekanbaru, Medan, sampai Aceh. Jika tak menginap di kantor LSM, Samsudin pernah menginap di rumah penduduk transmigrasi di Pekanbaru. “Dia ternyata satu kampung di Indramayu,” katanya.

Tidak hanya di Sumatera, Samsudin juga mendongeng hingga Kalimantan Timur. Di tengah jalan uang bekalnya habis. Ia harus kembali ke Indramayu dan mengumpulkan sumbangan lewat kitabisa.com. Dari sana terkumpul Rp 5 juta. Setelah cukup untuk ongkos, sisanya ia tinggal di rumah untuk keperluan anak dan istrinya, seorang guru di kampung mereka.

Di Kalimantan Timur, Samsudin tak lagi bersepeda. Sepeda kumbang yang menemaninya ke Sumatera tak lagi ia pakai dan disimpan di Malang. Ada tiga kota yang ia datangi di Kalimantan: Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong. Sewaktu di kota terakhir ia hendak melanjutkan perjalanannya ke desa-desa terpencil, tapi uangnya tak cukup sampai sana.

Pada 2017, Universitas Cornell dari Amerika Serikat punya program di Kalimantan. Berkat teman-temannya, orang dari Cornell mengajak Samsudin turut serta. Keinginannya masuk hutan Kalimantan dan menyambangi desa-desanya terpenuhi. “Saya sangat terbantu oleh program itu,” katanya.

Mendongeng di depan anak-anak sekolah di Cirebon, Jawa Barat, 2017

Selain dongeng keliling, Samsudin juga mendatangi lokasi bencana. Pada 2018, ia ke Lombok seusai gempa. Di sana ia mendongeng di depan anak-anak yang trauma di tenda pengungsian. “Saya terharu ketika ada ibu yang menangis karena melihat anaknya kembali bisa tertawa setelah mendengar dongeng saya,” kata Samsudin.

Dongeng Samsudin bukan monolog. Sebisa mungkin ia berinteraksi dengan penonton. Teknik itu efektif, terutama bagi anak-anak yang terpantik imajinasinya oleh cerita Samsudin. Di tengah dongeng, Samsudin acap mengajak mereka untuk meneruskan cerita dan berbicara di depan penonton lain. “Itu untuk menumbuhkan kepercayaan diri mereka,” kata dia.

Karakter wayang Samsudin juga berkembang sesuai dengan satwa endemis tiap daerah. Di Jambi ia memakai karakter harimau. Di Pekanbaru memakai gajah dan di Medan ia membuat orang utan. Sementara Kalimantan memakai karakter beruang madu, bekantan, dan pesut.

Samsudin ketika mendongeng di Kebun Raya Bogor, Juli 2019

Dalam perjalanan-perjalanannya ke daerah tak urung banyak cerita sedih. Di luar soal kekurangan uang, ia pernah diusir petugas keamanan sebuah sekolah di Jambi. Para petugas menduga Samsudin hendak jualan wayang di halaman sekolah. “Di Banten saya malah dikira saya penculik anak,” katanya, terbahak.

Selama Juni 2019, Samsudin banyak mendongeng di Jakarta. Seragamnya kini pakaian serba hitam dengan ikat kepala. Ia menggembol kotak mika berisi wayang yang bertuliskan Dongeng Keliling Selamatkan Satwa Langka Indonesia. Ia mendatangi sekolah dan kampus di sekitar Jabodetabek. “Saya berharap semakin banyak agent of change, banyak yang terlibat dalam pelestarian alam tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia,” kata Samsudin.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.