Laporan Utama | November-Januari 2017

Agroforestri: Masa Depan Pemanfaatan Lahan Hutan Produksi

Agroforestri merupakan salah satu penggunaan lahan yang sudah tua oleh petani selama ribuan tahun di seluruh dunia.

Nurheni Wijayanto

Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB

Sistem pengelolaan hutan di Indonesia pada saat ini terbagi ke dalam beberapa fungsi, baik itu untuk fungsi perlindungan, fungsi konservasi dan fungsi produksi. Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia sampai dengan Tahun 2013 menyebutkan bahwa luas kawasan hutan dan perairan Indonesia adalah sejumlah ± 129.42 juta ha, yang dibagi sesuai dengan fungsi dan peruntukannya yaitu Hutan Lindung seluas ± 29.91 juta ha, Kawasan Konservasi seluas ± 27,39 juta ha, Hutan Produksi seluas ± 72.11 juta ha dan Kawasan Perairan seluas ± 5,40 juta ha. Hutan Produksi, sebagai kawasan hutan terluas di Indonesia, menjadi prioritas utama untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam keterkaitannya untuk memenuhi kebutuhan akan hasil hutan, baik itu hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan.  Berdasarkan pada kondisi tutupan lahan pada areal konsesi hutan alam, Pemegang IUPHHK-HA diwajibkan untuk dapat memanfaatkan arealnya secara optimal, baik areal berhutan maupun tidak berhutan.  (Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari 2015).

Areal hutan alam produksi di Indonesia pada Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA) telah terfragmentasi menjadi berbagai penutupan lahan, antara lain:  areal hutan primer, areal hutan bekas tebangan, areal hutan rawang (tidak produktif) bekas penebangan liar, areal hutan rawang bekas kebakaran, semak belukar, dan padang alang-alang.  Areal hutan alam produksi pada IUPHHK telah terfragmentasi juga ke dalam berbagai kepentingan seperti pertambangan, perkebunan, okupasi masyarakat, dan pemekaran wilayah (Fakultas Kehutanan IPB 2008;  Wijayanto 215).  Kondisi ini berakibat terhadap penurunan fungsi hutan tersebut.  Di sisi lain, konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) saat ini mencapai 11 juta ha, tetapi luas tanamannya hanya 4,9 juta ha.  Peta jalan HTI pada tahun 2025 mendatang akan ada 12.7 juta ha HTI, 3.5 juta ha hutan tanaman rakyat (HTR), 2.8 juta hutan rakyat, dan 1 juta ha hutan desa (HD) dan hutan kemasyarakatan (Yasman 2016).

Saat ini kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan secara lestari.  Kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku kayu oleh industri (zero waste), dan percepatan realisasi pembangunan hutan tanaman industri dan hutan rakyat.  Pada tahun 2007, Kementerian Kehutanan mengidentifikasi adanya dua permasalahan kunci terkait persediaan kayu Indonesia, yakni: (1) Kurangnya persediaan bahan baku; dan (2) Kapasitas yang berlebih.”49 Meskipun fase pertama (2007-2014) dari Peta Jalan tersebut sudah berakhir, kedua permasalahan tersebut masih berlaku. Analisis Kementerian Kehutanan memberikan indikasi bahwa “tingkat konsumsi kayu bulat ilegal” mencapai 20,3 juta m3; dimana pada tahun 2005, 46 persen dari persediaan kayu adalah kayu ilegal. Pada tahun 2014, analisis dari kajian ini memberikan indikasi bahwa kesenjangan persediaan kayu masih bertahan di angka setidaknya 20 juta m3 (lebih dari 30%). Hal ini tentu mengkhawatirkan mengingat pasokan kayu yang lestari saat ini belum ada, sebagai akibat dari ketergantungan pada kayu hutan alam dari pembukaan lahan sebagai sumber kayu, dan HTI yang performanya masih di bawah standarm (Forest Trends dan Koalisi Anti Mafia Hutan  2015).

Dengan kapasitas terpasang industri yang berlebih, penggunaan bahan baku kayu saat ini sebetulnya telah melebihi persediaan legal. Bahkan dalam laporan terakhirnya, APKI menyatakan bahwa sektor pulp dan kertas hanya beroperasi pada kapasitas 80 persen. Jika sektor tersebut mampu beroperasi pada kapasitas penuh, maka penggunaan kayu akan bertambah lagi sebesar 10 juta m3. Pembangunan pabrik baru hanya akan memperparah masalah pasokan kayu yang sudah defisit. Jika peningkatan pasokan kayu legal tidak terjadi, dan pabrik beroperasi pada kapasitas penuh, ditambah pula dengan segera beroperasinya pabrik pulp APP yang baru di Sumatera Selatan, dan akan munculnya pabrik baru di Kalimantan dan Papua, maka kekurangan pasokan kayu akan meningkat sebanyak 44 juta m3. Dalam skenario ini, lebih dari 59 persen konsumsi kayu yang dibutuhkan oleh industri primer akan berasal dari sumber-sumber yang ilegal.  Kondisi ini antara lain menyebabkan kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan tidak dapat terpenuhi, karena telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan kayu secara lestari.

Total luas kawasan hutan (daratan) di Indonesia dilaporkan sekitar 131.27 juta ha (Tabel 1;  Suparna 2014).  Total luas hutan produksi yang tidak ada pengelolanya (akses terbuka/terlantar) 31.60 juta ha (Suparna 2014).   Luas lahan kritis sampai dengan tahun 2013 seluas 24.303 juta ha (Badan Pusat Statistik (BPS) 2016)    Kondisi hutan produksi (hutan alam dan tanaman) ini  perlu mendapat perhatian kita bersama, agar fungsi hutan bisa pulih kembali, lestari, dan produktivitasnya tinggi.  Agroforestri diyakini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas. Agroforestri telah mendapatkan pengakuan yang meningkat sebagai cara untuk memulihkan lahan miring terdegradasi, berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi.  Oleh karena itu arah pembangunan kehutanan ke depan sebaiknya fokus pada upaya keras untuk meningkatkan kembali fungsi hutan, mewujudkan hutan lestari dan mendorong tercapainya produktivitas hutan yang tinggi. 

Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dan terus meningkat.    Data jumlah penduduk Indonesia 242,0 juta tahun 2011;   245,4 juta tahun 2012; 248,8 juta tahun 2013;   252,2 juta tahun 214;  dan 255,5 juta tahun 2015 (BPS 2016). Penduduk tersebut membutuhkan antara lain pangan, papan, energi, dan lingkungan.  Di lain pihak, lahan tersedia untuk memenuhinya semakin terbatas dan berkurang.  Salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan lahan tersebut adalah memanfaatkan lahan hutan.  Lahan hutan memiliki potensi dan kemampuan untuk menyediakan kebutuhan papan, pangan dan energi, namun harus tetap mampu mempertahankan fungsi hutannya.

 Hutan produksi harus dikembalikan dan ditingkatkan fungsinya, di sisi lain masyarakat kebutuhannya harus dapat dipenuhi dengan baik.  Oleh karena itu, perlu upaya  keras, cerdas dan ikhlas untuk dapat mewujudkan kembali kondisi yang serasi antara hutan dengan masyarakat.  Hutan dalam Pasal 1 Ayat 2 UU No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan, hutan dinyatakan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.  Pengertian ini maknanya sangat dalam, oleh karena itu kita sebagai pemegang amanah harus mampu mewujudkan kembali hutan yang lestari dengan masyarakatnya yang berseri, suatu mimpi dan cita-cita mulia. 

Agroforestri didefinisikan sebagai manajemen penggunaan lahan intensif yang mengoptimalkan berbagai manfaat (fisik, biologi, ekologi, ekonomi, dan/atau sosial) dari interaksi-interaksi biofisik terjadi antara pepohonan dan/atau semak dikombinasi secara sengaja dengan tanaman pertanian dan/atau ternak (University of Missouri Center for Agroforestry 2013;  Small Woodland Program of BC 2001;  Xu et al.  2013)Agroforestri saat ini, memperoleh perhatian yang meningkat sebagai pilihan pemanfaatan lahan berkelanjutan di seluruh dunia karena memiliki keuntungan, baik dari aspek  ekologi, ekonomi, maupun sosial (Nair 2012;  Morita 1986).  Agroforestri telah datang  dalam abad ini sebagai ilmu integratif dalam sistem pemanfaatan lahan  di seluruh dunia. Agroforestri diakui sebagai kunci penting untuk  solusi banyak tantangan yang paling sulit dipecahkan di dunia. Masa depan pemanfaatan lahan di seluruh dunia menghadapi banyak tantangan mencolok - keamanan pangan, degradasi lahan, kemiskinan  yang sangat menyedihkan, perubahan iklim, dan lain-lain (Garrity 2012;  Lundgren 1988).

Lahan hutan memiliki ruang, baik di atas maupun di bawah permukaan tanah.  Ruang ini memberi peluang untuk dimanfaatkan dengan baik.  Tanaman pertanian dalam arti luas dan budidaya ternak/hewan dapat memanfaatkan ruang yang ada dalam hutan.  Budidaya tanaman pertanian dan ternak yang dikelola dengan baik akan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan pohon (Wijayanto et al. 2015;  Wijayanto 2007;  Lopez-Diaz et al. 2009).

Ruang di lahan hutan produksi, baik hutan alam maupun tanaman memiliki potensi untuk dimanfaatkan dengan teknik agroforestri agar fungsi dan produktivitasnya lebih meningkat.  Hutan yang optimal pemanfaatan lahannya merupakan wujud rasa syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan sumberdaya alam yang melimpah.

KONSEP AGROFORESTRI

Agroforestri merupakan salah satu pengggunaan lahan yang sudah tua dan telah dilakukan oleh petani selama ribuan tahun yang lalu hampir di seluruh dunia. Walaupun demikian ilmu pengetahuan mengenai agroforestri sangat jauh tertinggal daripada pengetahuan dan teknologi yang dilakukan oleh pertanian, dimana pertanian telah dikembangkan untuk membantu para petani dalam hal meningkatkan produksinya. Namun demikian ilmu pengetahuan dalam upaya untuk mengetahui, mengklasifikasikan dan mengembangkan sistem agroforestri telah banyak dilakukan.

Agroforestri ditujukan untuk memaksimalkan produksi dalam hal memanfaatkan ruang (lahan) dan waktu melalui penanaman bermacam-macam jenis. Dalam bidang kehutanan, untuk memproduksi hasil hutan berupa kayu dan hasil hutan lainnya memerlukan waktu yang cukup lama, padahal kebutuhan manusia terhadap beberapa bahan pangan tidak dapat ditunda. Daerah yang berpenduduk padat dimana lahan semakin sempit, pada tanah-tanah kehutanan tersebut dituntut pula dapat menyediakan tambahan penghasilan bagi penduduk sekitar hutan.

Konsepsi agroforestri dirintis oleh suatu tim dari Canadian International Development Centre yang bertugas untuk mengidentifikasikan prioritas-prioritas pembangunan di bidang kehutanan di negara-negara berkembang dalam tahun 1970-an.  Oleh tim ini dilaporkan bahwa hutan-hutan di negara-negara berkembang belum cukup dimanfaatkan.  Menurut tim, kegiatan-kegiatan penelitian yang ditujukan kepada aspek produksi kayu perlu dilanjutkan, namun perlu ada perhatian pula terhadap masalah-masalah yang selama ini diabaikan, yaitu sistem produksi kayu bersamaan dengan komoditi pertanian, dan/atau peternakan, serta kegiatan merehabilitasi lahan-lahan kritis (Nair 1993).

Di lain pihak ditemukan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada perusakan lingkungan (seperti penyerobotan tanah, penebangan liar, dan lain-lain), yang seakan-akan tidak dapat terkendalikan lagi. Kecenderungan perusakan lingkungan ini perlu dicegah dengan sungguh-sunggguh dengan cara pengelolaan lahan yang dapat mengawetkan lingkungan fisik secara efektif, tetapi sekaligus dapat memenuhi tuntutan keperluan pangan, papan dan sandang bagi manusia.

Di dalam agroforestri, terkandung pengertian adanya pengusahaan ganda (majemuk) antara pengusahaan komoditi hasil hutan dan komoditi hasil pertanian (pangan, perkebunan, peternakan, perikanan) di atas suatu wilayah/areal yang diusahakan.  Dari segi keilmuan, agroforestri merupakan perpaduan atau modifikasi antara ilmu kehutanan dan ilmu pertanian dalam memanfaatkan sumber daya alam, hutan, tanah dan air secara optimal dan lestari.

Agroforestri adalah istilah baru yang diberikan kepada sistem pertanian yang sudah lama dipraktekkan.  Namun ilmu tentang agroforestri relatif masih baru.  Bermacam-macam definisi telah dikembangkan oleh peneliti agroforestri, sesuai dengan sifat dari masing-masing komponen penyusun sistem tersebut di tempat asalnya.  Definisi ilmiah agroforestri yang tegas senantiasa akan menekankan dua karakteristik umum, yaitu:   (1)  penanaman pohon dan tanaman pertanian dan/ atau ternak pada unit lahan yang sama, baik dalam berbagai bentuk pencampuran maupun pergiliran, dan (2)  harus ada interaksi nyata antara komponen tanaman berkayu dan tidak berkayu dari sistem, baik secara ekologis maupun ekonomis. 

Agroforestri didefinisikan sebagai suatu nama kolektif untuk sistem dan penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu (pepohonan, semak, palem, bambu, dsb) ditanam secara bersamaan dalam unit lahan yang sama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak, dengan tujuan tertentu, dalam bentuk pengaturan ruang atau urutan waktu, dan di dalamnya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi di antara berbagai komponen yang bersangkutan (Lundgren and Raintree 1982).  Agroforestri didefinisikan juga sebagai suatu metode penggunaan lahan secara optimal yang mengkombinasikan sistem-sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang (suatu kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya)  dengan suatu cara berdasarkan asas kelestarian, secara bersamaan atau berurutan, dalam kawasan hutan atau di luarnya, dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat (Satjapradja 1981).

Agroforestri adalah sebuah sains dan praktek terpadu (Agroforestry: An Integrated Science and Practice). Saat ini, agroforestri diakui sebagai ilmu terapan terpadu yang memiliki potensi untuk mengatasi banyak permasalahan pengelolaan lahan dan masalah lingkungan yang ditemukan, baik di negara berkembang maupun di negara maju.  Sehubungan dengan itu,  agroforestri sangat membantu untuk mengubah landskap dimana pohon adalah kunci produktivitas, memberikan berbagai manfaat bagi manusia dan ekosistem (Xu et al. 2013).  Agroforestri dalam areal izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman (IUPHHK-HTI) adalah optimalisasi pemanfaatan lahan hutan di areal izin usaha hutan tanaman dengan pola tanam kombinasi antara tanaman hutan yang berupa pohon dengan tanaman selain pohon dan/atau hewan untuk meningkatkan produktifitas lahan hutan tanaman dengan tidak mengubah fungsi pokok usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (Direktur Jenderal  Pengelolaan Hutan Produksi Lestari  2015).   

Agroforestri adalah peluang pasar baru, sistem pertanian “climate-smart” berkelanjutan, pemeliharaan lahan, habitat bagi satwa liar, peningkatan kualitas udara dan air, diversifikasi pendapatan petani, peningkatan kekayaan bagi masyarakat pedesaan. Adapun esensi teknologi agroforestri adalah intentional, intensive , interactive, dan integrated  (University of Missouri Center for Agroforestry 2013). Praktek agroforestri adalah sistem penggunaan lahan yang lebih kompleks daripada kehutanan atau pertanian (Nair et al. 2008).

  Keberlanjutan agroforestri yang dapat membantu kehutanan, antara lain: keanekaragaman hayati, produk kayu dan non kayu, ekosistem yang terpadu, kualitas tanah dan air, gudang penyimpan/pengikat karbon, dan manfaat sosial-ekonomi. Keuntungan yang berkelanjutan inilah yang menggolongkan agroforestri sebagai  “Sistem pertanian masa depan” (agroforestry is the future of agriculture) (University of Missouri Center for Agroforestry 2013).

Agroforestri, merupakan penanaman tanaman secara sengaja antara pohon atau tanaman berkayu lainnya dengan tanaman pertanian atau rumput/pakan ternak untuk berbagai manfaat, dikombinasikan secara bersama-sama atau berurutan pada unit lahan yang sama dalam waktu tertentu. Dengan demikian maka agroforestri dapat berperan dalam pelestarian lingkungan sebagai cita-cita luhur pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management/SFM). Peran agroforestri dalam SFM ini dapat dilihat dari nilai-nilai yang terkandung dalam agroforestri itu sendiri dihubungkan dengan kriteria dan indikator yang terkandung dalam SFM (agroforestry – helping to achieve sustainable forest management) (University of Missouri Center for Agroforestry 2013).

Sistem agroforestri mampu menyediakan berbagai jasa yang bersifat ekologis (ecosystem service of agroforestry)   yang baik, selama jangka waktu yang lama. Banyak sistem agroforestri tergolong dalam konsep rekayasa ekologi ecological engineering), dimana proses ekologi digunakan untuk memecahkan persoalan rekayasa sedemikian rupa sehingga ekosistem dapat didesain, dibangun dan dikelola baik untuk manfaat lingkungan maupun manfaat sosial (University of Missouri Center for Agroforestry 2013).

Berbagai hipotesis yang mendukung kegiatan agroforestri antara lain:  dikemukakan oleh beberapa pakar:  mereka memberikan komentar bahwa agroforestry memiliki fungsi:  (1) mengontrol/mengurangi erosi, (2) memelihara bahan organik tanah, (3)  meningkatkan kondisi fisik tanah, (4)  menambah jumlah nitrogen dengan penanaman pohon yang dapat menfiksasi nitrogen, (5) menyediakan hara mineral dalam tanah, (6) membentuk sistem ekologikal, (7) mengurangi kemasaman tanah, (8)  mereklamasi lahan, (9)  meningkatkan kesuburan tanah, (10)  meningkatkan aktifitas biologi tanah, (11)  adanya asosiasi mikoriza pada campuran pohon dan pertanian, (12)  meningkatkan penangkapan hujan, cahaya, hara mineral dan produksi biomasa, (13)  meningkatkan efisiensi penangkapan cahaya, air dan hara mineral (Noordwijk and Dommergues 1990; Wilson 1990; Oeng et al. 1991; Sanchez 1995; Young 1997; Huxley 1999).

 

KONDISI UMUM HUTAN PRODUKSI

Suparna (2014) menyampaikan informasi tentang kondisi kawasan hutan (daratan) negara Republik Indonesia (RI) dan pengelolaannya per Desember 2013 (Tabel 1) serta perkembangan usaha hutan tanaman (Tabel 2).  Kondisi ini sangat memprihatinkan dan harus segera menjadi perhatian kita bersama. 

Salah satu isu penting terkait dengan era pengelolaan hutan secara intensif adalah peningkatan produktivitas sumber daya hutan produksi.  Produktivitas sumber daya hutan produksi yang terjamin keberlanjutannya merupakan acuan bagi berhasilnya pengelolaan hutan lestari.  Kondisi penutupan hutan produksi saat ini sangat beragam dalam bentuk mosaik  antara hutan produktif, hutan bekas tebangan dan hutan tidak produktif lainnya serta adanya keragaman karakteristik ekologi, topografi dan sosial maka diperlukan fleksibilitas sistem silvikultur yang digunakan yaitu berupa penerapan dua atau lebih (multisistem) silvikultur (Fakultas Kehutanan IPB 2008). 

Multi Sistem Silvikultur (MSS) adalah penerapan lebih dari satu sistem silvikultur dalam satu periode rencana kerja usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (RKUPHHK) dalam rangka meningkatkan produktivitas hasil hutan serta meningkatkan nilai finansial dan ekonomi pemanfaatan/pengusahaan hutan.  Penerapan MSS dilakukan pada hutan alam primer (virgin forest) dan atau hutan bekas tebangan (logged over area) dan atau tanah kosong/alang-alang di areal IUPHHK pada hutan produksi berdasarkan RKUPHHK  (Menteri Kehutanan Republik Indonesia 2012).  MSS  yang diterapkan dalam satu unit pengelolaan sumber daya hutan produksi, memberikan harapan terwujudnya pengelolaan sumber daya hutan produksi yang lestari dan para pihak berseri.

Kawasan hutan daratan Indonesia per Desember 2013

Produktivitas sumber daya hutan semakin menurun seiring dengan laju peningkatan deforestasi, illegal logging, okupasi masyarakat dan konversi lahan hutan. Upaya peningkatan produktivitas sumber daya hutan sangat diperlukan, agar kelestarian hasil dan manfaatnya dapat berjalan dengan baik.  Salah satu upaya untuk peningkatan produktivitas sumber daya hutan tropis terdegradasi adalah dengan melakukan penerapan MSS, salah satunya dengan agroforestri.

Pembangunan hutan tanaman di areal yang  telah terbuka sebaiknya menggunakan agroforestri dengan menerapkan sistem suksesi yang dikelola atau mengikuti sequential system.  Areal hutan yang telah diokupasi oleh masyarakat dan kondisinya terbuka, maka sebaiknya diterapkan sistem Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB) dengan jenis-jenis pohon unggul lokal dan berbasiskan sistem agroforestri.  Areal hutan yang telah diokupasi masyarakat dan kondisinya dalam bentuk kebun, maka sebaiknya dilakukan penanaman jenis-jenis pohon unggul lokal berfungsi serbaguna, antara lain dalam bentuk  jalur, tersebar merata, atau ditanam di batas lahan.

Perkembangan usaha hutan tanaman di Indonesia

Peningkatan produktivitas sumber daya hutan dengan penerapan MSS, sebaiknya diarahkan tidak hanya ke produk hasil hutan kayu, tetapi diarahkan juga ke hasil hutan bukan kayu, antara lain untuk pangan dan ternak.  Produktivitas hutan dapat ditingkatkan dengan pengembangan agroforestri (Patabang et al.  2008).

AGROFORESTRI - PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN

Pembangunan Hutan Tanaman Industri bertujuan untuk memenuhi kesinambungan bahan baku industri kehutanan, meningkatkan produksi dan diversifikasi hasil hutan, perbaikan aspek lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan produksi pada hutan tanaman.  Hasil hutan dapat berupa hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu.  Hasil hutan bukan kayu adalah hasil hutan hayati dan hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan

Pembangunan hutan di Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan agroforestri.  Banyak agroforestri yang telah dipraktekkan oleh masyarakat kita dapat dijadikan acuan dalam proses pembangunan hutan produksi.  Salah satu contohnya adalah repong damar di Krui Lampung. 

Sistem repong damar di Krui Lampung memiliki sejarah keberhasilan yang bisa dijadikan contoh dalam pembangunan hutan (Wijayanto 2012; Wijayanto 2002).  Keberhasilan sistem Repong Damar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekologi, ekonomi-bisnis, dan sosial-budaya. Faktor ekologi yang paling berpengaruh adalah tempat tumbuh yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman, kemampuan peran dan fungsi ekosistem Repong Damar terhadap ekosistem-ekosistem lainnya, dan keberadaan komposisi jenis yang beranekaragam. Faktor ekonomi-bisnis yang paling berpengaruh adalah kemampuannya memberi jaminan keamanan bagi ekonomi rumah tangga, kemapanan dan berkembangnya sistem tata niaga dari produk yang dihasilkan, penggunaan input modal relatif rendah.  Adapun faktor sosial-budaya yang paling berpengaruh adalah kemampuan masyarakat di Pesisir Krui memelihara institusi pewarisan yang mendukung keberlanjutan, kemampuan masyarakat mendayagunakan pengetahuan asli, dan kemampuan kepemilikan Repong Damar untuk dijadikan simbol status sosial.

Repong damar dengan hasil utama getah damar, memiliki posisi dan peran yang sangat penting terhadap wilayah di sekitarnya dan mampu mendorong pertumbuhan perekonomian daerah, khususnya di Kabupaten Lampung Barat.  Repong damar juga memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap distribusi pendapatan dan pendapatan rumah tangga masyarakat di Pesisir Krui, Kabupaten Lampung Barat (Wijayanto 2013; Wijayanto 2012; Wijayanto 2002).

Kondisi lahan hutan pada awal penanaman pohon pada umunya memiliki sumberdaya yang melimpah  berupa lahan dan cahaya.  Lahan dan cahaya yang berlimpah ini berpeluang besar dimanfaatkan untuk budidaya berbagai jenis tanaman pertanian yang membutuhkan cahaya penuh.  Pepohonan yang bertambah umur, menjadikan sumber daya lahan dan cahaya pun semakin menurun (Wijayanto dan Nurunnajah 2012;  Wijayanto dan Kusumaningrum 2011), sistem perakaran pohon juga semakin besar (Wijayanto dan Hidayanthi 2012;  Wijayanto dan Rhahmi 2013;  Hartoyo et al. 2014)  Kondisi ini memberi peluang dilakukan budidaya jenis-jenis tanaman yang tahan naungan.  Lahan hutan dan ruang di dalamnya dapat terus dimanfaatkan sampai akhir daur dengan berbagai jenis tanaman yang tepat dan sesuai dengan kondisi lingkungan tempat tumbuhnya.

Repong damar dalam proses tahapan pembangunannya mengikuti suatu proses suksesi yang dikelola, mempertimbangkan proses ekologis yang terjadi. Proses suksesi yang dikelola tersebut sangat efektif, efisien dan memberikan kemampuan untuk menghasilkan produk secara beranekaragam dan berkelanjutan atau berurutan (sequential system) (Wijayanto 2013;  Wijayanto 2012). 

Regenerasi, pemulihan, dan peremajaan hutan sebagai bentuk ekosistem klimaks melewati tahapan suksesi. Selama proses berlangsung setiap spesies menempati ruang dan periode waktu tertentu, berkontribusi sesuai kapasitasnya dalam meningkatkan serta mengoptimalkan kondisi ekosistem dan  kelompoknya untuk tumbuh, berkembang, dan bereproduksi.  Seiring berjalannya waktu masing-masing spesies berperan menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk perkembangan spesies lain (yang lebih diinginkan), menjamin tersedianya energi, air, dan dinamika nutrisi. Akhirnya alam membentuk sistem yang lebih kompleks dengan keanekaragaman yang lebih beragam (Götsch 1994;  Schulz et al. 1994; Milz 2002).  Agroforestri dengan sistem suksesi yang dikelola merupakan sistem  yang berupaya mengadopsi dinamika sistem suksesi hutan alam untuk pembangunan hutan.

Proses tahapan pembangunan hutan yang menyesuaikan dengan perkembangan kondisi tempat tumbuh atau sumber daya yang ada di atas, mirip dengan suatu proses suksesi.  Proses suksesi ini lebih tepat dinyatakan sebagai proses suksesi yang dikelola.  Secara umum, suksesi merupakan proses pemulihan ekosistem. Proses ini sangat terkait dengan bidang ekologi dan kehutanan. Banyak elemen proses dinamis yang telah dan masih digunakan dalam bidang pertanian (Götsch 1994). 

Pembangunan hutan tanaman dengan memanfaatkan agroforestri memiliki berbagai keuntungan,  antara lain:  (1)  tersedia lahan untuk berbagai tujuan budidaya tanaman :  pangan, obat-obatan, ternak (2)  pepohonan terpelihara;  (3)  menciptakan lapangan kerja;  (4)  mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik, (5)  terciptanya sumber pendapatan yang berkelanjutan.  Agroforestri akan memberikan peluang investasi dalam pembangunan hutan.  Waktu panen pohon yang lama, akan diatasi dengan adanya panen produk-produk pertanian dan ternak.  Produk-produk pertanian dan ternak dapat dipanen dalam waktu yang lebih pendek dibandingkan produk kayu.  

AGRFORESTRI - PANGAN

Hutan dapat menghasilkan pangan yang jumlahnya sangat besar, sehingga dapat mengurangi pangan impor dan bahkan dapat mengimpor pangan.  Potensi pangan dari dalam hutan dapat dihasilkan tidak hanya pada saat awal penanaman pohon hutan tetapi juga dapat dihasilkan selama daur tanaman pohon.  Banyak jenis tanaman pangan yang mampu tumbuh dan hidup di bawah naungan dengan hasil yang tinggi.  Sumber pangan nasional tidak hanya tergantung kepada lahan pertanian, tetapi juga tersedia sangat luas dari lahan hutan.

Usaha-usaha untuk peningkatan ketahananan pangan nasional telah banyak dilakukan, namun masalah kekurangan pangan merupakan masalah yang tidak pernah selesai.  Lahan pertanian yang semakin menyusut luasnya karena dikonversi ke penggunanaan selain pertanian, sering menjadi salah satu alasannya.  Di sisi lain masih banyak lahan hutan yang luas yang belum dimanfaatkan dengan baik dan optimal, serta masih banyak tanaman pangan tahan naungan yang belum dibudidayakan dengan baik. Sumber daya lahan hutan yang berlimpah tidak boleh tidur dan terlantar.  Lahan hutan selain menghasilkan kayu, juga harus dimanfaatkan dengan bijaksana untuk menghasilkan pangan yang cukup dan berkualitas.

Budidaya tanaman pertanian yang membutuhkan cahaya penuh dapat dilakukan pada umumnya saat tajuk pohon belum menaungi lahan di antara pohon atau pada saat awal penanaman pohon.  Jarak antar larikan pohon dan antar pohon  itu sendiri perlu ditata dengan baik agar persaingan memperoleh cahaya dan hara bisa seminimal mungkin.  Huck (1983) menjelaskan bahwa untuk dapat melaksanakan agroforestri yang optimal, selain mengetahui keadaan di atas tanah, diperlukan pula pengertian tentang hal-hal yang terjadi di bawah permukaan tanah.  Hal ini mengingat bahwa dalam agroforestri terdapat bermacam-macam jenis tanaman, dengan paling sedikit satu di antaranya berupa tanaman berkayu.  Sifat komplementer yang dijumpai di atas tanah perlu diusahakan juga di bawah permukaan tanah, baik menurut ruang atau waktu.

Tanaman yang dipilih sebaiknya mempertimbangkan:  (1)  Sifat-sifat genetik, daya adaptasi terhadap tekanan lingkungan dan populasi, (2)  Memberi kesempatan kepada tanaman campuran untuk memanfaatkan sinar matahari dengan sebaik-baiknya, dan (3) Tumbuhan pengikat nitrogen perlu merupakan bagian dari sistem agroforestri (Cannel 1983).   Pemilihan jenis tanaman merupakan hal sangat penting dalam pembuatan layout dan design agroforestry, karena kesalahan yang terjadi akan berdampak panjang dan sangat merugikan.  Jenis yang cocok bukan hanya dari segi pertumbuhan, nilai ekonomi dan kemampuan adaptasinya pada lingkungan tertentu, tetapi juga kemampuannya membentuk struktur tumbuh yang ideal, saat tumbuh berkembang bersama jenis lain pada lahan yang sama (Wijayanto 2006).  Jenis tanaman yang dipilih memerlukan cahaya, unsur hara, air, dan ruang yang berbeda-beda.  Respon tanaman pun akan berbeda pula, jika cara pengelolaan berbeda.

Beberapa hasil penelitian pemanfaatan lahan hutan dengan tanaman pangan adalah sebagai berikut:

  1. Pohon mindi dalam sistem agroforestri dengan kedelai pertumbuhannya lebih tinggi, dibandingkan pertumbuhan pohon mindi dalam sistem monokultur (Wardani et al. 2016; Darmawan et al. 2015).
  2. Pohon sentang dalam sistem agroforestri dengan kedelai pertumbuhannya lebih tinggi, dibandingkan pertumbuhan pohon sentang dalam sistem monokultur (Rahmawathi et al. 2016;  Puri et al.  2015)
  3. Tanaman kedelai dalam sistem agroforestri dengan mindi umur dua tahun produksinya berbeda nyata dengan tanaman kedelai monokultur (Wardani et al. 2016).
  4. Tanaman sorghum dalam sistem agroforestri dengan pohon mindi produksinya berbeda nyata dengan sorghum monokultur (Darmawan et al. 2016).
  5. Tanaman porang pertumbuhannya lebih baik pada tegakan sengon bernaungan 30% daripada tegakan sengon bernaungan 80% (Wijayanto dan Pratiwi 2011).
  6. Sistem agroforestri memberikan pengaruh positif untuk pertumbuhan sentang, karena sentang yang ditumpangsarikan dengan sorgum memiliki nilai dimensi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan sentang yang tidak ditumpangsarikan dengan sorgum (Wijayanto dan Hidayanthi 2012).
  7. Penggunaan varietas kedelai toleran naungan pada agroforestri sengon 4 tahun menghasilkan produksi yang lebih rendah daripada hasil di lahan terbuka (Hartoyo et al. 2014).
  8. Ganyong putih yang ditanam pada lahan ternaungi sengon (intensitas naungan 42%) lebih tinggi pertumbuhannya dibandingkan dengan ganyong putih yang tidak ternaungi sengon dilihat dari parameter tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, panjang tangkai daun dan biomassa.
  9. Naungan sengon tidak berpengaruh nyata terhadap hasil berat umbi basah ganyong putih (Wijayanto dan Azis 20013).
  10. Pola tanam hutan rakyat di Bogor yang dikembangkan oleh petani pada umumnya adalah agroforestri (Wijayanto dan Hartoyo 2013).
  11. Pola agroforestri dengan tanaman kehutanan gmelina, suren, mahoni, dan pete serta tanaman pertanian dengan dominansi cabai dan jagung, memberikan pengaruh paling baik terhadap pertumbuhan gmelina (Wijayanto dan Rosita 2012).
  12. Pertumbuhan tanaman pokok Gmelina arborea terbaik ditemukan pada pola agroforestri AF 1 (gmelina, jagung, singkong, pisang, petai) dan AF 4 (gmelina, mahoni, jagung, cabai)  sedangkan pertumbuhan tanaman pokok terendah ditemukan pada pola agroforestri AF 3 (gmelina, mahoni, singkong, petai) (Wijayanto dan Rifai 2010). 
  13. Naungan sengon berumur 1(satu) tahun tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ganyong merah (Rahayu dan Wijayanto 2014).

AGROFORESTRI – TERNAK

Lahan hutan memiliki peluang dan potensi yang besar untuk budidaya ternak.  Namun masih sangat sedikit pengusaha yang berinvestasi dalam usaha ini.  Pengusaha masih khawatir terhadap keberadaan ternak di lahan hutan, karena disinyalir akan merusak pohon.  Papan larangan menggembalakan ternak di kawasan hutan, masih sering kita temukan di batas areal kawasan hutan dengan lahan masyarakat.  Adapun kita mengetahui dari sejarah, bahwa masyarakat pada masa dahulu berburu hewan di hutan.  Hewan di dalam hutan menjadi komponen penting dalam ekosistem.

Saat ini kita dihadapkan pada harga daging yang mahal, impor sapi, dan impor susu yang terus meningkat.   Indonesia saat ini merupakan negara pengimpor daging sapi dengan volume cukup besar (Tseuoa et al. 2012; Maraya 2013). 

Produksi ternak Indonesia sulit berkembang karena kalah bersaing dengan hasil ternak impor.  Hal ini disebabkan sistem peternakan belum efisien, memerlukan tenaga kerja banyak, dan memerlukan biaya mahal, sehingga harga daging lokal mahal daripada harga daging impor.  Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan sistem peternakan alternatif.  Sistem silvopastur merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi ternak dengan biaya rendah.  Lahan hutan merupakan salah satu solusi untuk pengembangan ternak. 

Beberapa hasil penelitian di negara lain yang menjadi acuan menyusun pemikiran tentang potensialnya pemanfaatan lahan hutan untuk pengembangan silvopastur disajikan sebagai berikut:

Silvopastur adalah sistem penggunaan lahan dimana pohon, pakan ternak, dan ternak terdapat dalam satu lahan.  Silvopastur mengkombinasikan manajemen hutan, manajemen pakan dan manajemen ternak (Cubbage et al.  2012;  Lindgren and Sullivan 2014).  Cubbage et al. (2012)  menyatakan bahwa terdapat beberapa model silvopastur, yang dapat dibedakan menurut lokasi, tipe silvopastur, spesies pohon, cara regenerasi pohon, kerapatan pohon awal penanaman, kerapatan pohon akhir, ada tidaknya pemangkasan, spesies rumput yang digunakan, dan spesies hewan yang digunakan. 

Manfaat ekologi diperoleh dari keberadaan pohon dalam silvopastur dengan kerapatan minimal 80 pohon per ha.  Salah satu manfaat ekologi yang diperoleh adalah sebagai naungan ternak dan penyerap karbon.  Manfaat ekonomi diperoleh dari penjualan kayu dan ternak (Cubbage et al.  2012).  Silvopastur dilakukan untuk memperoleh produksi daging dengan biaya murah.  Tegakan pohon tidak dijual.  Manfaat ekonomi diperoleh dari hasil penjualan sapi.  Manfaat ekologi yang diperoleh berupa naungan untuk sapi (Cubbage et al. 2012).

Model silvopastur di bagian tenggara Amerika Serikat, menggunakan hutan tanaman yang umumnya jenis pinus (Pinus ellottii, P.  taeda, P.  palustris) dengan kerapatan vegetasi awal 370-1000 pohon per hektar.  Regenerasi pohon dilakukan oleh manusia.  Pakan ternak merupakan jenis eksotik, untuk musim panas adalah Paspalum spp dan Cynodon spp, sedangkan untuk musim dingin menggunakan jenis Secale cereale, Trifolium spp, Festuca spp, dan Lolium spp.  Ternak yang dibudidayakan terdiri dari sapi, kambing dan domba.  Lahan dimiliki dan dikelola oleh pengusaha besar.  Manfaat ekonomi yang diperoleh dari hasil penjualan kayu dan ternak yang diperuntukkan bagi pengusaha (Dangerfield and Harwel 1990, Cubbage et al. 2012).

Silvopastur di Uruguay telah dimulai lebih dari 50 tahun.  Hutan yang digunakan merupakan hasil tanamam jenis Pinus taeda dan Eucalyptus.  Pakan ternak menggunaka jenis eksotik (Paspalum notatum, Stipa sp., Briza sp.  Adesmia muricata, Axonopus affinis, Bromus auletikus, Bromus unioloide, Poa lanigera).  Kerapatan tegakan awal 1000-1600 pohon per hektar.  Ternak yang dibudidayakan berupa sapi dan domba.  Tanaman kayu diperuntukkan bagi perusahaan, sedangkan hasil ternak untuk masyarakat (Cubbage et al.  2012).

Hutan untuk silvopastur di New Zealand merupakan hasil tanaman dengan jenis Pinus radiata, Cryptomeria japonica, Eucalyptus spp., Acacia spp., Populus alba.  Kerapatan tegakan awal 1600 pohon per hektar dan kerapatan tegakan akhir 300-350 pohon per hektar.  Pakan ternak menggunakan jenis eksotik (Lolium spp.).  Hewan ternak yang dibudidayakan adalah kambing.  Ternak tersebut disimpan di dalam kandang, namun sewaktu-waktu dimasukkan ke dalam hutan untuk mencari makan sendiri.  Lahan hutan dimiliki oleh perusahaan, sedangkan   hasil kayu dan ternak diperuntukkan bagi perusahaan (Cubbage et al. 2012).

Hutan untuk silvopastur di Paraguay merupakan hutan alam dengan jenis Prosopsis alba dan P. nigra, Leucaena leucocephala.  Kerapatan tegakan 45 pohon per ha.  Pakan rumput menggunakan jenis alami (Axonopus compressus, Hypoginium vigatum).  Ternak yang dibudidayakan adalah sapi.  Lahan hutan merupakan milik petani.  Pendapatan petani diperoleh dari hasil penjualan ternak.  Tegakan pohon tidak dipanen (Cubbage et al.  2012).

Hutan untuk silvopastur di Brazil merupakan hasil tanaman dengan menggunakan jenis Eucalyptus camadulensis, E. grandis, E. uropylla, E. tereticornis. Kerapatan tegakan awal dan akhir adalah sekitar 250 pohon per hektar.  Pakan ternak menggunakan jenis eksotik (Brachiaria brizantha, B. Humidicola, Panicum maximum).  Ternak yang dibudidayakan adalah sapi dan kerbau.  Lahan hutan dimiliki oleh perusahaan.  Pendapatan perusahaan diperoleh dari penjualan kayu dan ternak (Cubbage et al.  2012).

Model silvopastur di Patahile menggunakan hutan hasil tanaman dengan menggunakan jenis Pinus ponderosa, P. contorta, Pseudotsuga menziesii, Nothofagus pumilio, N. dombeyi.  Kerapatan tegakan awal 2000 pohon per hektar dan kerapatan tegakan akhir 400 pohon per hektar.  Pakan ternak merupakan jenis eksotik (Dactylis glomerata, Holcus lanatus, Poa pratensis, Trifolium pratense, T. Repens, Acaena magellanica, A. pinnatifida, Hypochoeris radicata, Taraxacum officinale).  Ternak yang dibudidayakan adalah sapi.  Hutan dimiliki petani.  Manfaat ekonomi diperoleh dari penjualan ternak.  Manfaat ekologi yang diperoleh berupa penyerapan karbon dan pengurangan erosi (Cubbage et al. 2012).

Sistem silvopastur memberikan keuntungan ekologi terhadap tanah.  Menurut Seddaiu et al. (2013) praktek silvopastur dapat memelihara kualitas tanah.  Hal ini disebabkan adanya pohon dalam kawasan tersebut.  Selain itu terdapat kotoran ternak yang berfungsi sebagai nutrisi tumbuhan.  Pohon yang digunakan untuk silvopastur dapat dipilih jenis tanaman penghasil kayu dan penghasil pakan ternak. Tanaman tersebut dapat berfungsi sebagai sumber makanan pada saat musim kemarau. 

Rumput dan tanaman keras yang ada di areal silvopastur memerlukan nutrisi.  Rumput dan tanaman keras dapat bersimbiosis sehingga dapat saling melengkapi kebutuhan nutrisinya.  Selain itu terdapat kotoran hewan yang berfungsi sebagai nutrisi.  Hal ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi.  Menurut Kumar et al. (1998), praktek silvopastur meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi N, P, dan K.

Beberapa peneliti menggunakan kotoran hewan sebagai pupuk tanaman dan rumput, sehingga meningkatkan produktivitas rumput dan tanaman keras.  Di sisi lain produktivitas hewan meningkat apabila mendapat nutrisi yang cukup.  Menurut Lopez-Diaz et al. (2009),  produksi peternakan meningkat jika kotoran ternak digunakan sebagai pupuk, tetapi produksi tahunan sangat tergantung cuaca.  Menurut Mosquera-Losada et al.  (2006), penggunaan pupuk organik berpengaruh terhadap produksi rumput dan ternak.

Menurut Sulc et al. (2014) campuran pohon dan ternak memiliki potensi untuk menyediakan jasa lingkungan tambahan dari pertanian dengan menangkap interaksi ekologi positif dan mencegah dampak lingkungan negatif, dengan keuntungan yang berkelanjutan.  Dampak ekologi sistem campuran tegakan dan ternak dapat dikerjakan pada eko region yang berbeda, perbaikan teknologi konservasi, pengendalian hama, pemupukan, pemagaran, penanaman, dan perbaikan genetika akan memberikan kesempatan untuk memfasilitasi keberhasilan adopsi silvopastur.

Kegiatan silvopastur berdampak pada lingkungan (Sullivan et al. 2012, Sharrow 2007).  Silvopastur merupakan salah satu metode untuk menarik masyarakat dalam upaya pembangunan hutan.  Silvopastur di beberapa daerah berhasil menjadi model pembangunan hutan. 

Berdasarkan hasil penelitian di negara lain tersebut di atas, menunjukkan bahwa silvopastur potensial dan memberi harapan ke depan  untuk dapat dikembangkan di lahan hutan produksi.  Namun demikian,  silvopastur dapat terwujud di dalam kawasan hutan jika memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:  (1)  adanya peraturan perundangan yang kondusif, (2)  melibatkan anggota tim dari berbagai disiplin ilmu, (2)  menguntungkan, baik secara ekologi, ekonomi, maupun sosial, (3)  diprioritaskan lokasinya di lahan kawasan hutan yang telah terbuka, (4)  penerapannya didukung oleh hasil-hasil penelitian.

Saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI sudah menerbitkan Peraturan Menteri  Nomor : P.14/Menlhk-Ii/2015 tentang Tata Cara Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Kawasan Silvopastura yang selanjutnya disingkat IUPK-Silvopastura.  Silvopastura dalam peraturan ini didefinisikan sebagai kegiatan kehutanan yang dikombinasikan secara proporsional dengan usaha peternakan di dalam kawasan hutan produksi yang meliputi pelepasliaran dan/atau pengandangan ternak dalam rangka pengelolaan hutan produksi lestari untuk mendukung program kedaulatan pangan.  Jangka waktu IUPK-Silvopastura diberikan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang bila tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Usaha pemanfaatan kawasan Silvopastura dapat dilakukan di areal kerja IUPHHK-HA atau IUPHHK-HTI yang didasarkan atas rencana kerja usaha sesuai peraturan perundang-undangan.  Areal yang dimohon untuk IUPK-Silvopastura adalah kawasan hutan produksi yang tidak dibebani izin/hak selain wilayah kerja KPH yang telah ada lembaga dan rencana pengelolaan hutan (Menteri Kehutanan 2015).

Pohon, ternak, pakan ternak, dan tempat tumbuh dapat dikelola dengan tepat dan benar. Pengelolaan  yang tepat dan benar tersebut secara langsung akan memberikan berbagai keuntungan, baik dari aspek ekologi, ekonomi maupun sosial. Lahan hutan yang terbuka perlu menjadi prioritas dimanfaatkan untuk silvopastur.  Lahan hutan yang tidur, terlantar, dan tidak produktif diharapkan semakin menurun dan tidak ditemukan lagi.  Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas dari para pihak in sya Allah akan dapat mengembalikan kejayaan hutan untuk kesejahteraan masyarakat.

PENUTUP

Lahan hutan yang luas harus dimanfaatkan dengan bijaksana untuk menghasilkan beranekaragam produk yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia, baik pada masa kini maupun masa yang akan datang.  Lahan hutan tidak boleh tidur, terlantar, dan mubadzir.  Lahan hutan yang melimpah tersebut harus benar-benar kita syukuri, dengan mengoptimalkan pemanfaaatannya dengan tepat dan benar.

Indonesia sangat kaya dengan praktek-praktek agroforestri yang bisa dijadikan acuan dalam pemanfaatan lahan hutan.  Agroforestri diyakini menjadi salah satu sistem pemanfaatan lahan hutan yang memberikan harapan besar terwujudnya fungsi hutan yang paripurna. 

Agroforestri idealnya dibangun secara bersama,  multidisiplin, dan transdisiplin.  Semoga masa depan pemanfaatan lahan hutan produksi dengan agroforestri dapat mewujudkan hutan lestari, masyarakat berseri, dan diberkahi oleh Allah Yang Maha Kuasa, aamiin.

DAFTAR PUSTAKA

Cannel MGR.  1893a.  Plant management in agroforestry manipulation of trees, population densities and mixture of trees and herbaceous crops. In PA Huxley (ed.) Plant research and agroforestry, p.455-488.  ICRAF.  Nairobi.

Connor DJ.  1983.  Plant stress factors and their influence on production of agroforestry plant assisiations.  In PA Huxley (ed.) Plant research and agroforestry, p.401-426.  ICRAF.  Nairobi.

Cubbage F, Balmelli G, Bussoni A, Noellemeyer E, Panchas AN, Fassola H, Colcombet L, Rossner B, Frey G, Dube F, Silva ML, Stevenson H, Hamilton J, Hubbard.  2012.  Comparing silvopastoral system and prospects in eight regions of the world.  Agroforestry System 86:303-314. DOI:  10.1007/s10457-012-9482-z.

Darmawan S, Wijayanto N, Budi SW.  2015.  Respon fisiologis dan produksi sorghum (Shorgum bicolor L.  Moench) pada agroforestri mindi (Melia azedarach Linn.).  Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Agroforestri ke 5 di UNPAD.  Bandung.

Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari 2015.  Sambutan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Dalam Acara Persiapan Kajian Pelaksanaan Multi Sistem Silvikultur (Mss) Tahun 2015.  Hotel Menara Peninsula, 21-23 September 2015.

Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari  2015.  Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Nomor : P.3/Vi-Set/2015 Tentang Penerapan Jenis Tanaman Dan Pola Tanam Dalam Kegiatan Hutan Tanaman Industri.

Fakultas Kehutanan IPB.  2008.  Prosiding lokakarya nasional “Penerapan multisistem silvikultur pada pengusahaan hutan produksi, dalam rangka peningkatan produkstivitas dan pemantapan kawasan”.  Bogor 23 Agustus 2008.  Kerjasama antara Fakultas Kehutanan IPB dengan Ditjen Bina Produksi Kehutanan, Departemen Kehutanan.

Garrity D.   2012 .  Agroforestry and the Future of Global Land Use in P.K.R. Nair and D. Garrity (eds.), Agroforestry - The Future of Global 21 Land Use, Advances in Agroforestry 9, DOI 10.1007/978-94-007-4676-3_6, © Springer Science+Business Media Dordrecht 2012

Götsch E. 1994. Break-through in agriculture. Agricultura familiar e agroecologia (ASPTA), Rio de Janeiro.

Hartoyo APP, Wijayanto N, Budi SW.  2014. Respon Fisiologi dan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) Toleran Naungan Berbasiskan Agroforestri Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen). Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 05 No. 2 Agustus 2014, Hal 84-90.

Huck  MG.  1983.  Root distribution, growth and activity with reference to agroforestry. In PA Huxley (ed.) Plant research and agroforestry, p.527-542.  ICRAF.  Nairobi.

Huxley P.  1999.  Tropical agroforestry.  Blackwell Science.  Paris, France.  371p.

Forest Trends dan Koalisi Anti Mafia Hutan.  2015.  Kesenjangan Persediaan Kayu Legal dan Implikasinya terhadap Peningkatan Kapasitas Produksi Industri Kehutanan di Indonesia: Sebuah Kajian Peta Jalan Revitalisasi Industri Kehutanan, Fase 1

Kumar BM, George SJ, Jamaludheen V, Suresh TK.  1998.  Comparison of biomass production, tree allometry and nutrient use eficiency of multipurpose trees grown in woodlot and silvopastoral experiments in Kerala India.  Forest Ecology Management 112:  145-163.

Lindgren PMF, Sullivan TP.  2014.  Response of forage yield and quality to thinning and fertilization of young forest:  implicationsfor silvopasture management.  Canadian Journal of Forest Researceveloping silvopastoral system and their effects on diversity of fauna.  Agrofotry System 70:  81-89.  DOI:  10.1007/s10457-007-9047-8.

Lundgren, B.O. and Raintree, J.B. 1982. Sustained agroforestry. In: Nestel, B. (ed.). Agricultural Research for Development: Potentials and Challenges in Asia, pp. 37-49.  ISNAR, The Hague,The Netherlands.

Lundgren B.  1988.  Preface in Metcalfe JR (ed.) Agroforestry abstracts.  Abstr. 1(1) Publi. By CAB International in assosiation with the ICRAF.  Wallington, Oxon.

Maraya GQ.  2013.  Faktor-faktor yang mempengaruhi impor daging sapi di Indonesia.  Bogor (ID):  Institut Pertanian Bogor

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2015.  Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Khutanan Republik Indonesia Nomor:  P.14/Menlhk-II/2015 tentang Tata Cara Pemberian Ijin Usaha Pemanfaatn Kawasan Silvopastura pada Hutan Produksi.

Menteri Kehutanan RI.  2014.  Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.65/Menhut-II/2014 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.11/Menhut-II/2009 tentang sistem silvikultur dalam areal izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan produksi.

Menteri Kehutanan Republik Indonesia 2012.  Peraturan Menteri Kehutanan Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.11/Menhut-Ii/2009 Tentang Sistem Silvikultur Dalam Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Produksi.

Milz J. 2002. Bolivian and Nicaraguan Experience with Ecological Agroforestry: “Natural Succession System “ as proposed by Ernst Götsch. 14th IFOAM Organic World Congress, Ottawa. Mosquera-Losada, Rosa M, Fernandez-Nunez E, Rigueiro-Rodriguez A.  2006.  Pasture, tree and soil evolution in silvopastoral system of Atlantis Europe.  Forest Ecology and Management 232:  135-145.

Morita M.  1986.  Essay on the historical and location structure of agroforestry. In Cmparative studies on the utilization and conservation of the natural environment by agroforestry system, p. 1-13.  MAART.  Kyoto.  Japan.

van Noordwijk M, Dommergues YR.  1990.  Agroforestry and soil fertility:  nood nodulation-the twelfth hypotesis.  Agroforestry Today, 2.  9-10.

Nair PKR.  2012.  Advances in Agroforestry.  In P.K.R. Nair and D. Garrity (eds.), Agroforestry - The Future of Global 21 Land Use, Advances in Agroforestry 9, DOI 10.1007/978-94-007-4676-3_6, © Springer Science+Business Media Dordrecht 2012.

Nair PKR, Gordon AM, Mosquera-Losada MR 2008. Agroforestry.  In  P.K.R. Nair and D. Garrity (eds.), Agroforestry - The Future of Global 21 Land Use, Advances in Agroforestry 9, DOI 10.1007/978-94-007-4676-3_6, © Springer Science+Business Media Dordrecht 2012.

Nair PKR.  1993.  An introduction to agroforestry.  Kluwer Academic Pubishers in cooperation with ICRAF.  Netherlands.

Oeng CK, Odongo JCW, Marshall F, Black CR.  1991.  Water use by trees and crops:  five hypotheeses.  Agroforestry Today, 3,  7-10.

Patabang M, Wijayanto N, Hardjanto.  2008.  Strategi Pembangunan Hutan Rakyat Pinus di Tana Toraja.  JMHT Vol. XIV, (3): 97-103, Agustus 2008.

Puri SR, Wijayanto N, Wulandari AS.  2015.  Dimensi pohon sentang (Azadirachta excelsa Jack.) dan produksi kedelai (Glycine max (L.)  Merril) di dalam sistem agroforestri.  Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Agroforestri ke 5 di UNPAD Bandung.

Rahayu AR, Wijayanto N.  2014.  Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kompos terhadap Pertumbuhan Ganyong Merah (Canna edulis Ker.) di Bawah Tegakan Sengon (Falcataria moluccana Miq.). Jurnal Silvikultur Tropika  Vol. 05 No. 2, Desember 2014, Hal 119-123.

Rahmawathi AM, Wijayanto N, Wulandari AS.  2016.  Sistem Agroforestri Sentang (Azadirachta excelsa (Jack) M. Jacobs) adengan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) secara Organik.  Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Silvikultur ke 4 di UNMUL.  Balikpapan.

Satjapradja O.  1981.  Agroforestry di Indonesia, pengertian dan implementasinya.  Makalah seminar agroforestry dan pengendalian perladangan.  Jakarta.

Sanchez PA 1995.  Science in agroforestry.  Agroforestry System,  30, 5-55.

Schulz, B., Becker, B., Götsch, E., 1994. Indigenous knowledge in a ‘modern’ sustainable agroforestry system—a case study from eastern Brazil. Agroforestry Systems 25, 59- 69. Kluwer Academic Publishers. Printed in the Netherlands.

Seddaiu G, Porcu G, Ledda L, Roggero PP, Agnelli A, Corti G.  2013.  Soil organic matter content and composition as influenced by soil management in semi-arid Mediterranean agro-silvo-pastoral system.  Agriculture, Ecosystems & Environment 167:  1-11.

Sharrow SH.  2007.  Soil compaction by grazing livestock in silvopastures as evidenced by changes in soil physical properties.  Agroforestry System 71:  215-223.  DOI:  10.1007/s10457-007-9083-4.

Sulc RM, Franzluebbers AJ.  2014.  Exploring integrated crop-livestock system in different ecoregions of the United State.  European Journal of Agronomy 57:  21-30.

Sullivan TP, Sullivan DS, Lindgren PMF.  2012.  Influence of repeated fertilization and cattle grazing on forest ecosystems:  Abundance and diversity of forest-floor small mammals.  Forest Ecology and Management 227:  180-195.

Suparna N 2014.  Penyatuan IUPHHK dan Multisistem silvikultur merupakan sebuah keniscayaan dalam pengelolaan hutan produksi.  Disampaikan pada acara fasilitasi pendampingan pelaksanaan multi sistem silvikultur.  Semarang 14 Nopember 2014.

Small Woodland Program of BC 2001.  A Guide to Agroforestry in BC. British Columbia.  Canada.

Tseuoa T, Syaukat Y, Hakim DB.  2012.  The impact of the Australia and New Zealand free trade agreement on the beef industry in Indonesia. J. ISSAAS 18 (2):  70-82.

University of Missouri Center for Agroforestry 2013.  Training Manual for Applied Agroforestry Practices – 2013 Edition.

Wardani A, Wijayanto N, Wulandari AS.  2016.  Dimensi PohonMindi (MeliaazedarachL.) dan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) di dalam Sistem Agroforestri secara Organik.  Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Silvikultur ke 4 di UNMUL.  Balikpapan.

Wilson JR 1990.  Agroforestry and sooil fertility:  the eleventh hypothesis-shade.  Agroforestry Today, 21.  14-15.

Wijayanto N.  2015.  Multi Sistem Silvikultur dan Peningkatan Produktivitas Sumber Daya Hutan.  Makalah disampaikan dalam acara Fasilitasi Pendampingan Pelaksanaan Multi Sistem Silvikultur (MSS) pada Selasa 22 September 2015, di Hotel Menara Peninsula Jakarta.  Ditjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, KLHK.

Wijayanto N , Rhahmi I.  2013.  Panjang dan Kedalaman Akar Lateral Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.) di Desa Cibening, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jurnal Silvikultur Tropika  Vol. 04 No. 01 April 2013, Hal. 23 – 29.

Wijayanto N, Hartoyo APP 2013.  Teknik dan Biaya Budidaya Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) oleh Petani Kayu Rakyat.  Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 04 No. 3 Desember 2013, Hal. 178 – 182.

 Wijayanto N, Azis SN.  2013.  Pengaruh Naungan Sengon (Falcataria Moluccana L.) dan Pemupukan terhadap Pertumbuhan Ganyong Putih (Canna edulis Ker.).  Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 04 No. 02 Agustus 2013, Hal. 62 – 68.

Wijayanto N.  2013.  Peran agroforestry untuk ketahanan energi dan kesehatan. Seminar Nasional Agroforestry dalam Aryadi et al. (editor) Prosiding seminar nasional agroforestri IV.  Universitas Lambung Mangkurat.  Banjar Baru.  Kalimantan Selatan.

Wijayanto N.  2012.  Agroforestri Repong Damar dalam Merevolusi Revolusi Hijau – Pemikiran Guru Besar IPB).  IPB Press.

 Wijayanto N, Rosita I.  2012.  Pertumbuhan Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) pada Beberapa Pola Agroforestri di Desa Sekarwangi Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut.  Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 03 No. 02 Agustus 2012, Hal. 85 – 91.

Wijayanto N, Nurunnajah 2012.  Intensitas Cahaya, Suhu, Kelembaban dan Perakaran Lateral Mahoni (Swietenia macrophylla King.) di RPH Babakan Madang, BKPH Bogor, KPH Bogor.  Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 03 No. 01 April 2012, Hal. 8 – 13.

Wijayanto N, Hidayanthi D.  2012.  Dimensi dan Sistem Perakaran Tanaman Sentang (Melia excelsa Jack) di Lahan Agroforestri. Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 03 No. 03 Desember 2012, Hal. 196 – 202.

Wiajayanto N.  2011.  Species identification and selection to develop agroforestry at Lake Toba Catchment Area (LTCA).  Vol. 12 Number 1, January 2011.  Biodiversitas, Journal of Biological Diversity.

Wijayanto N, Pratiwi E.  2011.  Pengaruh Naungan dari Tegakan Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) terhadap Pertumbuhan Tanaman Porang (Amorphophallus onchophyllus).  Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 02 No. 01 April 2011, Hal. 46 – 51.

Wijayanto N, Kusumaningrum A.  2011.  Pengaruh Tegakan Mahoni (Swietenia macrophylla King) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.). Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 02 No. 03 Desember 2011, Hal. 198 – 204.

Wijayanto N.  2007.  Studi Pengaruh Pola Agroforestry terhadap Pertumbuhan Tanaman Jati (Tectona grandis L.F).  Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol.  XIII, No.2.  Agustus 2007.

 Wijayanto N.  2002.  Analisis Strategis Sistem Pengelolaan Repong Damar Di Pesisir Krui, Lampung.  Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. VIII No. 1 : 39-49 (2002).

Wijayanto N.  2002.  Kontribusi Repong Damar Terhadap Ekonomi Regional Dan Distribusi Pendapatan.  Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. VIII No. 2 : 1-9 (2002).

Yasman I.  2016.   http: //industri.bisnis.com/read /20160203/99 /515864 /jokowi-kaget-hutan-inustri-kalah-luas-dari-kebun-sawit. Dikutip: Senin, 25 April 2016.

Xu J, Mercado A, He J, Dawson I.  2013.  An agroforestry guide for field practitioners.  World Agroforestry Centre.

Young A.1997.  Agroforestry for soil management, 2nd edn.  CAB International/ICRAF, Wallingford/Nairobi.  288p.  

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain