Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi| 24 Maret 2023

Khasiat Berenuk Pembasmi Ulat

Buah berenuk bisa menjadi pestisida alami. Pembasmi hama.

Buah beneruk, si bulat pembasmi ulat (Foto: Etik Hadi)

PERNAH dengar berenuk? Orang Indonesia acap menyamakannya dengan pohon atau buah maja. Padahal keduanya berbeda, secara jenis dan asal-usulnya. 

Berenuk (Crescentia cujete) adalah tanaman dari Amerika tengah dan selatan. Di Indonesia sebarannya cukup luas dengan nama lokal yang berbeda. Di Sumatera disebut tabu kayu, di Jawa dan Sulawesi dinamai bila balanda, dan di Maluku disebut buah no.

Secara empiris dan ilmiah, berenuk memiliki potensi sebagai obat, yang terangkum dalam beberapa publikasi di Journal of Food Technology. Di sana disebutkan khasiat berenuk sebagai obat diare. Dalam buku Tanaman Obat dan Khasiatnya juga disebutkan khasiat berenuk sebagai obat batuk dan bronkitis dan dalam buku Tanaman Berguna Indonesia Jilid II khasiat berenuk sebabai obat batuk.

Selain itu berenuk bisa dimanfaatkan untuk mengontrol kadar gula darah, mencegah penyebaran tumor dan sel kanker, menurunkan efek bisa ular, meningkatkan kualitas kesehatan jantung, dan mencegah infeksi cacing. Namun, buah berenuk juga bisa menimbulkan bahaya seperti alergi dan gangguan pencernaan jika dikonsumsi secara berlebihan atau dalam kondisi badan yang kurang fit.

Studi di African Journal Biotechnology menyebutkan banyaknya manfaat buah ini karena berenuk memiliki kandungan yang kaya, seperti magnesium, fosfor, kalsium, natrium, karbohidrat, vitamin A, C dan E. Selain itu terdapat beberapa golongan senyawa aktif yang seperti tianin, riboflavin, niasin, saponin, dan flavonoid.

Dari pelbagai kandungan bahan aktif tersebut, potensi lain yang bisa digali dari buah berenuk adalah bahan baku pestisida nabati. 

Pestisida nabati memanfaatkan kandungan bahan aktif dalam tumbuhan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Bahan aktif dalam berenuk antara lain produk metabolit sekunder yang dihasilkan hanya pada saat dibutuhkan atau pada fase tertentu, misalnya,pada kondisi lahan tidak subur, kritis dengan ketersediaan unsur hara minim serta kompetisi dengan jenis lain dan bertahan dari serangan OPT.

Penggunaan pestisida nabati merupakan salah satu metode pengendalian OPT dalam mendukung penerapan pengelolaan hama terpadu (PHT). Sistem PHT mengintegrasikan berbagai strategi pengendalian yang tepat dan umumnya berfokus pada pendekatan ekologi terhadap kesehatan ekosistem sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 22/2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan mengarahkan semua usaha tani mengimplementasikan sistem pengelolaan hama dan penyakit tanaman terpadu (PHT) serta penanganan dampak perubahan iklim.

Secara fisik, ciri-ciri tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan pestisida atau pestisida nabati biasanya memiliki aroma yang kuat (bunga tai ayam, bawang merah, bawang putih, cengkeh, tembakau), rasa yang pahit (brotowali). Dengan bau menyengat itu bahkan serangga tak menyukainya.

Buah berenuk memiliki potensi sebagai pestisida nabati karena mengandung senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai penolak serangga, racun serangga, penolak makan, mempengaruhi hormone serangga, mengganggu fungsi organ tubuh dan insektisida, yaitu senyawa flavanoid, polifenol, alkaloid, minyak atsiri, saponin. Selain buahnya, daun dan batangnya  mengandung saponin dan polifenol.

Pemanfaatan berenuk sebagai bahan pestisida nabati telah dilakukan oleh masyarakat di Desa Guring, Kecamatan Pematang Sawa, Kabupaten Tanggamus dengan menghaluskan daging buah, kemudian diperas dan airnya digunakan untuk menyemprot ulat. Cara yang sederhana, mudah, dan murah bagi petani.

Pestisida nabati memiliki beberapa keuntungan, antara lain mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan ramah lingkungan, bahan baku pestisida nabati tersedia di alam sehingga harganya murah dan dapat mengatasi kesulitan ketersediaan dan mahalnya bahan pestisida sintetis, dan pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan bahan dan teknologi yang sederhana, sehingga petani dapat membuatnya sendiri.

Penggunaan pestisida nabati juga relatif aman terhadap lingkungan dan tidak menyebabkan residu pada hasil panen. Sesuai dengan peraturan pemerintah, kebijakan untuk menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menekankan pendekatan ekologi dengan memprioritaskan pengendalian yang aman terhadap lingkungan.

Pemanfaatan bahan alami seperti dari tumbuhan mempunyai peluang untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan kepada petani. Alasan penggunaan bahan dari tumbuhan adalah karena tidak mencemari lingkungan, dapat dipadukan dengan konsep PHT, mudah dan ekonomis. Buah berenuk salah satu pembasmi ulat dan hama penyakit tanaman pertanian yang efektif.

Ikuti percakapan tentang tanaman obat di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Peneliti di Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Topik :

Bagikan

Terpopuler

Komentar



Artikel Lain