Buku | April-Juni 2018

Nyanyian Meratus yang Kian Pupus

Sebuah buku yang memotret perubahan suku Dayak di pegunungan Meratus. Potret dari sudut pandang modern.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

“Kita injaman samuaan, angin injaman. Manusia hanya bisa mangalah TuhanKuasa. Biar kita dihujung mariam, amun ujah Yang Kuasa balum maka tatap. Ujah Tuhan “tatap kuganggam”. Naraka lawan surga itu kita belum tahu, tergantung kalakuan. Amun sudah badusa maka kada kawa ditapali, kaya luka, biar sambuh tatap haja ada bakas. Jadi banyak-banyak haja minta ampun.”

Terjemahan:

Kita semua ini pinjaman, nafas kita adalah pinjaman. Manusia hanya mampu berserah pada Tuhan yang Mahakuasa. Meskipun kita berada di ujung meriam, kalau kata Yang Kuasa adalah belum mati maka kita akan tetap hidup. Tuhan berkata “Nyawamu Kugenggam”. Neraka dan Surga itu kita belum tahu, bergantung pada perilaku kita. Dosa seperti luka, meskipun sembuh tetap akan berbekas. Banyak-banyaklah minta ampun kepada Tuhan.

KUTIPAN tersebut merupakan salah satu pesan tentang hidup dan mati yang dituturkan oleh sesepuh bijak orang Meratus, penduduk yang mendiami pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Mereka lebih dikenal dengan Suku Dayak Bukit atau Dayak Meratus, yang menjadi bagian dari banyak suku Dayak di seluruh pulau Kalimantan.

Kepercayaan dan cara pandang orang Meratus banyak dipengaruhi keyakinan dan agama lain yang telah berkembang terlebih dahulu di Indonesia. Ada yang menyebut agama yang mereka anut adalah Hindu Kaharinga, namun beberapa pendapat menyebutkan bahwa agama mereka sebenarnya Balian.

Orang Meratus meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari Nabi Adam dan Siti Hawa, kepercayaan dalam agama-agama samawi. Pekerjaan pertama mereka adalah menjaga kebun buah yang di dalamnya ada pohon kayu besar yang diyakini sebagai penghubung langit dengan bumi.

Banyak ritual dalam keseharian orang Meratus yang terpusat pada peranan Balian. Balian adalah pemimpin upacara yang bisa dipanggil untuk mengobati orang sakit dan pemimpin upacara keagamaan. Agama Balian ini tidak punya rumusan baku tentang pokok-pokok kepercayaan, tidak ada kitab suci, pola ibadah, bahkan cara pentahbisannya. Mereka meyakini bahwa Nabi Adam adalah Balian pertama dalam sejarah.

Bagi orang Meratus, mati tak sekadar putus nyawa tetapi punya makna kepulangan, ke tempat asal, ke rumah leluhur yang berdiam di gunung Halau Balau yang terletak di tengah-tengah pegunungan Meratus. Banyak mitos yang menyebut bahwa gunung ini tidak bisa dilintasi pesawat terbang.

Devi Damayanti mengisahkan ulang cerita-cerita orang Meratus dengan merekam cerita dari sesepuh mereka. Yang menarik dari buku ini, tak hanya soal mitos-mitos, tapi juga pengaruh masuknya perusahaan pengelola hutan, tambang, dan kebun ke wilayah itu, terhadap kebiasaan hidup suku ini.

Sesungguhnya ini pokok soal yang diangkat Devi dalam buku ini. Orang Meratus seolah bernyanyi dalam sunyi terhadap pengaruh dari luar yang membuat mereka terdesak. Terdesak adalah kata yang kurang adil jika melihatnya dari perspektif “keaslian”. Jika melihatnya dari perkembangan dunia luar, ia akan dipandang bagus karena masuknya orang luar itu mempengaruhi cara padang orang Meratus terhadap sanitasi, kesehatan, pendidikan. Hal-hal pokok yang dianggap sebagai ukuran modernitas ini akan digolongkan ke dalam pengaruh positif.

Orang Meratus telanjur tumbuh dalam rasa rendah diri dan terbiasa mengalah terhadap kebiasaan-kebiasaan orang luar yang masuk ke dalam budaya mereka. Sehingga “nyanyi sunyi” yang menjadi judul buku ini bisa bermakna bahwa mereka tak berkutik terhadap hal-hal luar yang datang kepada mereka atas nama globalisasi dan kemajuan ekonomi. Mereka tak bisa mengelak dari kedatangan budaya luar yang mempengaruhi generasi orang dalam tiga dekade terakhir.

Akibatnya, masuknya pendidikan modern dalam kebiasaan orang Meratus tak kemudian menjadikan mereka awas dan waspada terhadap “pengaruh-pengaruh negatif” dalam ukuran modern pula. Gaya hidup konsumtif, dengan mengandalkan pada perdagangan yang memerlukan alat tukar, mengubah tata cara transaksi tradisional yang kian terkikis.

Sekali lagi, apakah itu pengaruh positif dan negatif, sehingga nyanyi sunyi orang Meratus menjadi tak terdengar oleh orang luar yang membawa budaya baru itu menjadi perdebatan yang belum selesai. Tinjauan-tinjauan antropologis mungkin perlu untuk membedah lebih jauh apakah akulturasi budaya itu sebentuk kemajuan atau kemunduran.

Cendekiawan seperti Levi-Strauss akan mengatakan yang kedua. Ia memuji rum di Martinique yang menyimpan aroma abad lalu ketimbang arak Brazilia yang diproduksi oleh peralatan modern. Jared Diamond juga akan mengatakan yang kedua seperti ketika ia mengkritik gaya hidup orang Papua yang kena diabetes dibandingkan 30 tahun sebelumnya saat ia pertama berkunjung ke sana.

Peralatan modern dan masuknya diabetes adalah ciri modernitas yang membunuh gaya hidup masa lalu sebuah komunitas akibat kunjungan-kunjungan manusia dan pertukaran budaya dari luar komunitas mereka.

MERATUS “Nyanyi Sunyi Di Pegunungan Borneo”
Penulis            : Devi Damayanti
Penerbit          : Lamalera-Yogyakarta

Tahun Terbit   : 2016
Tebal              : 203 Halaman

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.