Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|05 Juli 2022

Gelombang Panas Belum Reda

Inggris, Kanada, dan Cina diprediksi pecah rekor gelombang panas pekan ini. Krisis iklim makin menggila.

TAK ada yang lebih menyengat dari panas bulan Juli. Para ahli memprediksi Inggris bakal terpanggang panas bulan ini. Para ahli meteorologi memperkirakan gelombang panas akan terjadi dalam empat pekan ke depan dengan suhu mencapai 300 Celcius. Di beberapa bagian London, suhu diprediksi naik hingga 36,6C. Gelombang panas belum berakhir.

Gelombang panas yang menghempas Inggris telah lebih dulu menyengat India dan Pakistan pada Maret dan April, Spanyol, Prancis dan Italia di bulan Mei dan Juni. Amerika Serikat, Saudi Arabia hingga Jepang pun merasakan dampak gelombang panas ini. Volume air danau menyusut, penduduk membutuhkan pertolongan gawat darurat akibat sengatan panas.

Suhu abnormal juga menerpa Portugal pada pekan ini. Kenaikan suhu bisa mencapai 5C dari rata-rata suhu negara ini dan melebihi 40C. Suhu juga bisa menjadi lebih tinggi jika angin dari Afrika Utara menyapu negara ini dengan membawa debu dari Gurun Sahara.

Sementara itu penduduk Skandinavia yang tengah merayakan midsummer “terhangat,” bisa sedikit bernapas lega. Setelah sepekan diterpa gelombang panas yang mencapai 25C di Uusima dan 30C di beberapa kota lain, suhu di negara-negara Eropa utara ini diperkirakan turun. Soalnya suhu di kawasan Arktik turun karena tekanan udara dari Islandia yang mengarah ke Finlandia, Norwegia dan Swedia menjadi lebih rendah.

Kondisi ini tidak akan terjadi di Alaska dan bagian utara Kanada. Sebaliknya, suhu di kawasan ini akan naik hingga lebih dari 10C dibandingkan rata-rata sepanjang pekan ini. Meski ada kemungkinan suhu menurun dengan adanya pergerakan udara dari pasifik ke Alaska yang membawa hujan.

Cina juga akan terpanggang terik yang tidak biasa. Suhu di wilayah utara diprediksi naik lebih dari 10C dari rata-rata normal. Wilayah yang biasanya memiliki suhu 30C pada siang akan naik hingga 40C. Rekor suhu sepanjang masa juga mungkin akan dipecahkan oleh Kota Jinghe di barat laut Cina.

Gelombang panas belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Para ahli di IPCC, panel ilmuwan di bawah PBB, sudah memprediksi dalam laporan mereka pada April 2022. Menurut mereka, dunia hanya punya sedikit celah menghindari kenaikan suhu mencapai 1,5C. Padahal, anggaran karbon untuk mencegah krisis iklim penyebab gelombang panas hampir habis.

Anggaran karbon yang tersisa akan habis lebih cepat jika negara-negara Eropa menyalakan kembali PLTU Batu Bara. Dua pekan terakhir, Uni Eropa memberikan sinyal untuk mengaktifkan kembali PLTU Batu Bara akibat kebijakan Rusia mengurangi pasokan gas hingga 30%, sebagai perlawanan terhadap embargo ekonomi yang dilakukan Uni Eropa. Sanksi ekonomi Uni Eropa untuk menghukum Rusia yang menginvasi Ukraina.

Konferensi Iklim COP27 yang akan digelar pada November mendatang di Mesir yang akan membahas mekanisme pendanaan untuk adaptasi dan ketahanan menghadapi krisis iklim, terutama untuk negara-negara berkembang dan negara-negara miskin. Sekretaris Jenderal PBB António Gutteres sudah menyebutkan, target dalam lima tahun ke depan semua penduduk bumi terlindungi dari perubahan iklim lewat mekanisme peringatan dini.

Negara-negara maju adalah biang krisis iklim. Konsumsi, pertumbuhan ekonomi, industrialiasi memompa emisi karbon lebih cepat ke atmosfer yang membuat panas terperangkap dan kembali ke bumi. Sebaliknya, penduduk negara miskin yang sedikit memproduksi emisi akan terkena dampak lebih parah akibat krisis iklim. Seperti saat ini, musim kemarau panjang yang terjadi di kawasan tanduk Afrika (Somalia, Kenya, Ethiopia) menjadi yang paling kering dalam 40 tahun terakhir, memicu gagal panen, menimbulkan kelaparan dan meningkatkan jumlah pengungsi.

Jika kenaikan suhu udara global tidak bisa dikendalikan, di masa-masa mendatang, kita akan lebih sering merasakan gelombang panas yang semakin parah, yang diikuti oleh bencana-bencana iklim yang belum terjadi sebelumnya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain