Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|10 Mei 2022

Cuaca Ekstrem Melanda Asia  

Suhu panas Indonesia akan berlangsung hingga pertengahan Mei 2022. Di belahan bumi lain yang hangat, justri dingin.  

DAMPAK perubahan iklim mulai merembet ke Asia. India dan Pakistan cuaca esktrem berupa gelombang panas sejak Maret 2022. Badan Meteorologi India menyebutkan suhu pada bulan Maret mencatat rekor tertinggi dalam 122 tahun.

Akibatnya 26 orang meregang nyawa akibat serangan hawa panas. Walaupun belum ada angka pasti kematian terkait gelombang panas di India, gelombang panas juga mengancam panen gandum. Di kawasan dataran rendah yang terpapar gelombang panas, panen gandum turun hingga 50 persen.

Suhu di Pakistan mencatat rekor tertinggi tahun ini pada 1 Mei 2022, 49,50 Celsius di Nawabshah. Di Turbat, Balochistan, Pakistan, suhu mencapai 50C. Penduduk diungsikan dari rumah-rumah. Mereka tidak dapat bekerja kecuali pada jam-jam malam yang lebih dingin.

Gelombang panas juga memperburuk kekurangan energi besar-besaran. Di Turbat, kini listrik acap tidak menyala. Sehingga kota berpenduduk 200.000 jiwa itu hanya bisa menyalakan pendingin ruangan atau lemari es selama beberapa jam saja.

Indonesia juga mangalami kenaikan suhu di berbagai kota. Berdasarkan data pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) suhu maksium historis yang terukur pada 1-7 Mei 2022 berkisar antara 33-36,1C. Suhu tertinggi hingga 36.1 derajat Celsius, yang terjadi di wilayah Tangerang-Banten dan Kalimarau-Kalimantan.

Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, fenomena di Indonesia bukan gelombang panas seperti di India dan Pakistan, melainkan suhu panas atau terik dalam skala variabilitas harian.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menerjemahkan gelombang panas atau heatwave sebagai fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut dengan suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5C atau lebih.

Guswanto mengatakan tingginya suhu di berbagai kota menandakan musim kemarau telah tiba. “Posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator,” katanya. Pertumbuhan awan dan fenomena hujan akan sangat berkurang sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi.

Dominasi cuaca yang cerah dan tingkat awan yang rendah ini bisa mengoptimalkan penerimaan sinar matahari di permukaan bumi, sehingga suhu menjadi cukup terik pada siang hari. Kondisi ini akan terus dirasakan hingga pertengahan Mei 2022.

Sementara itu di Observatorium di Hong Kong justru melaporkan suhu minimum di Tsim Sha Tsui sebesar 16,4C. Ini merupakan suhu terendah yang pernah dicatat di Hong Kong pada bulan Mei sejak pencatatan pada 1917. Rendahnya suhu ini terbilang langka. Biasanya suhu minimum rata-rata di Hong Kong 23,3C pada Mei.

The Guardian melaporkan Kota Guangzhou di Cina selatan juga mengalami suhu terdingin 13,7C pada hari yang sama, suhu terendah yang pernah tercatat selama Mei. Pada 4 Mei, suhu minimum 13,6C juga tercatat di distrik Umphang, Thailand. Ini adalah suhu terendah yang pernah tercatat di bulan Mei di Thailand. Cuaca dingin di kawasan ini adalah hasil dari monsun timur laut dan kondisi yang tidak menentu.

Cuaca ekstrem, berupa anomali atau suhu dingin dan panas, merupakan dampak dari pemanasan global. Para ilmuwan menyebutnya bencana iklim.

Pemanasan global terjadi akibat produksi emisi gas rumah kaca berlebih sehingga panas matahari dan dari bumi tak cukup terserap atmosfer. Panas itu kembali ke bumi menaikkan suhu pelan-pelan dan melahirkan cuaca ekstrem. Patokan puncak pemanasan global jika kenaikan suhu bumi melampui 1,5C dibanding masa praindustri 1800. Saat ini kenaikan suhu sudah mendekati 1,2C dari rata-rata suhu bumi 11-12C.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain