Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 26 Juni 2022

Anggaran Karbon Mencegah Krisis Iklim

Anggaran karbon tersisa untuk mencegah krisis iklim kian menipis. Apa itu anggaran karbon?

DALAM krisis iklim ada istilah “anggaran karbon” atau carbon budget. Para ahli PBB dalam Laporan Penilaian IPCC ke-6, merumuskan anggaran karbon adalah jumlah maksimum kumulatif emisi CO2 antropogenik global bersih yang masih bisa diproduksi untuk menahan laju pemanasan bumi tak melebihi 1,5-20 Celsius. Para ahli menetapkan batas kenaikan suhu sebagai tonggak mencegah krisis iklim adalah 1,5C pada 2030 atau 2C pada 2050.

Anggaran karbon mengacu pada jumlah CO2. Ada lima jenis gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Karbon dioksida paling banyak di atmosfer namun faktor penyebabnya terhadap krisis iklim paling kecil dibanding metana, nitrat oksida, perfluorokarbon, hidrofluorokarbon, dan sulfur heksafluorida.

Gas-gas tersebut berasal dari aktivitas manusia, terutama pembakaran energi fosil, pembangunan konstruksi, dan dekomposisi limbah. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan, memproduksi gas rumah kaca akan menaikkan pertumbuhan ekonomi. Namun, seiring dengan itu, pertumbuhan ekonomi yang tak berkelanjutan ini menghancurkan masa depan.

Para ilmuwan di Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah panel ilmuwan di bawah PBB, menetapkan untuk mencegah puncak krisis iklim, kenaikan suhu bumi harus ditekan di bawah 1,50 Celsius dibanding masa praindustri. Masa praindustri mengacu pada periode 1800-1850, seratus tahun setelah penemuan mesin uap yang menandai Revolusi Industri di Eropa. Periode ini jadi acuan suhu bumi. Selain belum terdampak Revolusi Industri juga ketersediaan rekaman suhu bumi tertua yang sejauh ini ada. 

Sebab, setelah Revolusi Industri konsentrasi gas rumah kaca berubah. Mesin yang membutuhkan energi mendorong manusia menggali bumi untuk menemukan minyak, gas, dan batu bara. Semua itu disebut energi fosil. Pembakaran energi fosil menghasilkan emisi yang tak lagi bisa diserap oleh ekosistem bumi sehingga mengotori atmosfer yang membuat panas kembali ke bumi menaikkan suhu pelan-pelan.

Sejak Revolusi Industri, siklus bumi pun berubah. Sebelum manusia menemukan mesin uap, bumi melepas dan menyerap karbon dalam siklus alamiahnya sekitar 100 miliar ton—sebuah studi bahkan menyebut ekosistem daratan saja menyerap 169 miliar ton karbon. Letusan gunung berapi, dekomposisi, atau peristiwa-peristiwa alam lain adalah sumber-sumber gas rumah kaca alamiah yang diperlukan bumi. Karena siklus alamiah, gas-gas rumah kaca itu bisa diserap kembali oleh ekosistem planet ini. 

Temuan dan inovasi manusia menambah beban peran ekosistem itu. Pembakaran energi fosil membuat jumlah gas rumah kaca naik dan tak bisa diserap secara alamiah oleh ekosistem bumi maupun kapasitas atmosfer. Akibatnya, terjadi efek gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global lalu krisis iklim.

Menurut IPCC, setiap dekade sejak 1850 suhu permukaan bumi terus menghangat. Pada 2001-2020, suhu permukaan bumi naik rata-rata 0,99C dibanding suhu bumi 1850-1900. Pada 2011-2020, kenaikan suhu makin bertambah menjadi rata-rata 1,09C dibanding tahun 1850-1900, dengan titik terpanas berada di daratan. Sejak 1850 hingga 2019, jumlah karbon dioksida yang menguap dari aktivitas manusia berkisar 240-2.390 miliar ton.

Tambahan produksi gas rumah kaca itu membuat bumi berada dalam fase antropogenik. Emisi karbon yang diproduksi oleh aktivitas manusia itu menguap menjadi gas rumah kaca yang melumpuhkan peran atmosfer menyerapnya. Saat ini, produksi emisi tahunan akibat aktivitas antropogenik itu sekitar 53 miliar ton setara CO2.

Para ilmuwan di PBB menetapkan agar dunia terhindar dari krisis iklim, yakni kenaikan suhu bumi di atas 1,5C pada 2030, semua negara harus bahu-membahu menurunkan produksi emisinya sebanyak 45%. Masalahnya, dalam Konferensi Iklim di COP26 Glasgow tahun lalu, seluruh negara hanya bisa memangkas emisi 25%.

Jika kapasitas semua negara tak cukup menurunkan emisi karbon, kita masih punya harapan dengan menahan produksi emisi di bawah anggaran karbon yang masih tersedia. Berapa anggaran karbon agar dunia terbebas dari krisis iklim?

Menurut laporan IPCC, hingga 2030, anggaran karbon dioksida yang tersedia untuk menekan kenaikan suhu di bahwa 1,5C tinggal 300 miliar ton dengan peluang 83%. Artinya, dalam delapan tahun ke depan, tiap tahun karbon dioksida yang bisa dibuang maksimal 37,2 miliar ton. Sementara anggaran gas rumah kaca lain maksimal 220 miliar ton.

Anggaran karbon

Angka-angka anggaran karbon ini adalah prediksi, yang berubah sesuai keadaan, dan tergantung metodologi. Yang pasti, krisis iklim sedang terjadi. Tanpa komitmen yang kuat mengubah cara-cara menaikkan pertumbuhan ekonomi dengan lebih berkelanjutan, bisa jadi puncak krisis iklim datang lebih cepat.

Studi di jurnal Nature menyebutkan bahwa pengelolaan lahan masih mungkin menyerap 13,74 miliar ton jika memakai metode yang berkelanjutan. Dengan begitu, anggaran karbon menjadi naik. Namun, usaha menaikkan penyerapan karbon akan efektif mencegah krisis iklim jika dimulai dengan menurunkan emisi secara drastis.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Redaksi

Bagikan

Komentar



Artikel Lain