Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|29 April 2022

Penyebab Konflik Harimau dan Manusia

Uji nekropsi memastikan penyebab kematian tiga harimau Sumatera di Aceh Timur. Fragmentasi hutan membuat mereka berkonflik dengan manusia.

KEPALA Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Agus Arianto memastikan jerat aring menjadi penyebab matinya tiga harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada Ahad, 24 April 2022. Jerat aring berupa lilitan kawat yang panjangnya bisa mencapai 10 meter. Jerat ini ditambatkan pada batang pohon yang mencekik leher harimau.

“Akibatnya pernapasan dan peredaran darah terhambat, berujung pada kematian satwa,” kata Agus kepada Forest Digest, Kamis, 28 April 2022. Tim medis juga sudah mengambil sampel isi saluran cerna untuk memastikan  faktor lain yang menyebabkan tiga individu harimau tersebut tewas.

Pada Ahad, 24 April 2022, penduduk Desa Sri Mulyo di Kecamatan Peunaron, Aceh Timur, melaporkan harimau yang mati di wilayah hak guna usaha (HGU) perkebunan PT Aloer Timur. Petugas yang mengidentifikasi dua harimau itu memastikan jenis kelaminnya jantan berusia 2 hingga 2,5 tahun. Kedua harimau tersebut diduga dari induk yang sama yang mati empat hari sebelumnya

Setelah memeriksa kawasan tersebut, tim BKSDA Aceh bersama kepolisian menemukan lagi satu individu harimau yang juga mati terjerat. Jaraknya 500 meter dari temuan dua individu harimau sebelumnya. Harimau ini berjenis kelamin betina berusia 5,5 hingga 6 tahun dan diperkirakan sudah mati enam hari sebelumnya.

Kematian harimau Sumatera di Aceh kian sering. Sebelumnya, tiga ekor harimau yang terdiri dari ibu dan dua anak jantan dan betina ditemukan mati terjerat di dekat hutan lindung Desa Ieu Boboh di Kecamatan Meukek, Aceh Selatan pada 24 Agustus 2021.

Jerat menjadi penyebab kematian terbesar harimau Sumatera. Pada 2017-2019 Forum HarimauKita menyapu jerat di sekitar permukiman dan perkebunan dan menemukan 3.285 jerat.

Saat ini larangan penggunaan jerat hanya ada di hutan lindung. Sementara kasus harimau mati yang terkena jerat paling banyak berada di luar zona lindung.

IUCN pada 2015 mencatat hanya ada 317 individu harimau Sumatera di alam liar yang menyebabkan statusnya saat ini kritis (critically endangered). Harimau Sumatera akan melahirkan 3 sampai 5 anak dalam tiga tahun sekali tetapi yang biasanya bertahan di alam liar.

Diperkirakan hanya satu harimau yang bertahan karena perburuan dan perambahan hutan. Petugas acap kesulitan memburu pemasang jerat karena mereka berdalih memasang jerat untuk membur babi.

Kholis, Munawar., et.,al (2020) menjelaskan bahwa individu harimau muda akan lepas dari induknya setelah berusia 18-22 bulan. Tabiat ini menjelaskan dua harimau jantan yang mati itu kemungkinan besar baru lepas dari induknya.

Setelah lepas dari induknya, harimau jantan cenderung mencari teritori sendiri, sementara harimau betina dekat dengan teritori induknya. Proses mencari teritori ini yang memicu konflik dengan manusia. Daya jelajah harimau jantan bisa mencapai 380 kilometer persegi.

Kematian tiga Harimau Sumatera ini merupakan kehilangan besar bagi keanekaragaman hayati. Kematian ini juga menunjukkan tingginya konflik antara harimau dan manusia. Konflik ini meningkat drastis di Sumatera Utara.

Di Bengkalis, Riau, di mana wilayah cagar alam Giam Siak Kecil sudah terfragmentasi oleh banyak masyarakat pendatang yang membangun rumah secara ilegal, konflik juga meningkat. Awal April 2022, harimau menerkam pembuat jerat rusa hingga mati.

Di Merangin, Jambi, seekor harimau yang telah memangsa ternak warga masuk perangkap yang dibuat BKSDA. Harimau ini akan diperiksa lebih dahulu sebelum dilepas ke alam liar.

Jika ingin harimau Sumatera lestari hingga 100 tahun ke depan, perlu ada tindakan cepat dan efektif untuk melindungi harimau. Salah satunya dengan membuat aturan yang tegas dan berkonsekuensi hukum soal jerat.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain