Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|28 April 2022

Konflik Harimau-Manusia Naik di Sumatera Utara  

Seorang dokter hewan diterkam saat hendak membebaskan harimau yang terjerat. Pakan alami harimau menipis.  

DOKTER hewan Anhar Lubis tiba di Dusun Pardomuan, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Tapanuli Selatan, pada Sabtu tengah malam, 23 April 2022. Dia mengamati harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang kaki kanannya terjerat tali sling baja. Sudah dua hari baja itu menjeratnya. Anhar baru akan melepaskan sling itu keesokan harinya setelah membius.

Ahad pagi pukul 06.00 WIB, Anhar pun bersiap-siap dengan bius yang ia bawa dari Medan. Jarak antara Anhar dengan harimau sekitar tujuh meter. Jarak yang terbilang aman bagi Anhar menembakkan bius. Tak disangka, ketika bius mengenai tubuh si harimau, kucing besar ini justru kaget dan menerkam Anhar.

Bahu lengan atas sang dokter digigit, lengan bawahnya juga. Perut dicakar. Nasir, salah seorang anggota tim coba menghalau harimau agar menjauh dari Anhar. Entah bagaimana, tali sling baja yang menjerat harimau dan terikat di pohon bisa terlepas. Harimau itu melarikan diri ke hutan.

Tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara yang mendampingi Anhar langsung memberikan pertolongan pertama, mengikat lukanya dan membawanya ke Rumah Sakit Metta Medika di Kota Padang Sidempuan, Sumatera Barat. “Saat ini kondisi dokter Anhar stabil. Meski kehilangan banyak darah beliau terus tersadar dari lokasi hingga ke rumah sakit hingga sekarang,” kata Plt Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Irzal Azhar ketika dihubungi.

Luka yang diderita Anhar cukup dalam pada bahu dan lengan atas. Tim dokter yang merawatnya baru mengizinkan Anhar dibawa ke Medan setelah tiga hari perawatan. 

Anhar adalah dokter hewan dengan jam terbang tinggi. Dia spesialis konservasi yang sudah menangani harimau dari Aceh hingga Lampung.

Harimau yang menyerang Anhar itu mulanya terjerat tali sling baja yang dipasang di kebun untuk menjerat babi hutan—dalih yang selalu muncul dari pemiliknya. Pada Jumat, 22 April 2022 pukul 11.00, baja sling dari kopling Vespa itu menjerat harimau.

Warga Dusun Pardomuan melapor ke polisi yang melanjutkannya ke Balai BKSDA Sumatera Utara. Lima jam kemudian, posisi harimau yang terjerat telah berpindah 200 meter dengan kondisi jerat sling masih melilit kakinya. Tapi, setelah posisinya berpindah, dan sling baja dikaitkan ke pohon, harimau itu tak bisa bergerak.

Dokter Anhar dan BBKSDA baru datang Sabtu tengah malam. Waktu tempuh melalui jalan darat dari Medan menuju Dusun Pardamouan sekitar 15 jam.

Sehari usai harimau itu menerkam Anhar dan kabur, tim BBKSDA kembali ke dusun tersebut. Mereka memasang kandang jebak (box trap) dan mengimbau warga untuk tidak banyak beraktivitas di luar rumah selama tiga hari ke depan. “Kalau keluar harus dalam kelompok 4-5 orang,” kata Irzal. Tim BBKSDA juga akan menggelar patroli rutin hingga situasi kondusif.

Irzal juga menugaskan tim untuk melacak harimau yang kabur itu. Bius yang sempat ditembakkan ke harimau, biasanya baru akan bereaksi setengah jam kemudian. Bius itu juga diperkirakan hanya membuat harimau tidak sadar selama 4 jam. "Memang ada kekhawatiran infeksi karena harimaunya terluka akibat jerat saat kabur,” kata Irzal.

Konflik harimau-manusia meningkat drastis di Sumatera Utara. Biasanya laporan konflik yang masuk ke BBKSDA Sumatera Utara sekitar satu kejadian setiap satu atau dua bulan. Sejak awal tahun ini laporan yang masuk paling tidak dua kejadian setiap bulan. Khusus untuk selama April, BBKSDA menerima tiga kali laporan harimau masuk ke permukiman atau kebun penduduk.

Selain di Tapanuli Selatan, ada juga kasus harimau menyerang dua ekor sapi di perkebunan kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara IV, Nagori Parmonangan, Kecamatan Jorlang Hataran, Kabupaten Simalungun. Harimau hendak menerkam dua ekor sapi. Sapi itu masih hidup dengan luka menganga akibat terkaman harimau.

Tim BBKSDA telah ditarik dari Simalungun. “Keadaan sudah kondusif,” kata Irzal. Harimau yang kabur tersebut, Irzal memperkirakan  sedang menjelajah dan tertarik dengan ternak yang dilepaskan. “Kebetulan lokasi desa dekat dengan area hutan produksi,” katanya.

Kejadian lain terjadi di Desa Sei Sedang, Kecamatan Batang Serangan-Langkat. Laporan adanya harimau sebenarnya sudah masuk sejak awal tahun. Pada Januari lalu, BBKSDA sempat memasang kandang perangkap (box trap) dan kamera pengintai di desa. Namun setelah dipantau beberapa hari, tidak ada jejak dan harimau tidak terekam kamera. Pada Februari juga ada beberapa warga yang menyaksikan harimau melintas.

Selama April, harimau memangsa dua ekor ternak sapi. Harimau Sumatera sering muncul di desa ini karena lokasinya berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Selain itu, kebiasaan masyarakat melepaskan ternak untuk digembalakan diduga menarik perhatiannya.

Petugas Balai BKSDA telah meminta masyarakat di Sei Serdang untuk tidak melepaskan ternak, membangun kandang anti-harimau, dan beraktivitas dalam kelompok untuk sementara waktu.

Menurut Irzal ada beberapa kemungkinan penyebab tingginya konflik harimau-manusia di Sumatera Utara. Kemungkinan pertama adanya penyusutan habitat harimau. Kemungkinan lainnya adalah berkurangnya pakan alami harimau yaitu babi hutan liar. “Saya mendapat laporan dari Dinas Pertanian adanya penangkapan ratusan kilogram daging babi hutan selundupan,” kata Irzal.

Dia menduga penyelundup mengumpulkan babi hutan liar untuk diambil dagingnya dan dikirimkan ke Jawa. Kekhawatiran soal pakan alami juga sudah diungkapkan oleh Direktur Sintas Indonesia Foundation, Hariyo Wibisono. Dia menduga bahwa ancaman pakan alami harimau terkait dengan virus kolera babi (hog cholera) dan demam babi Afrika (African Swine Fever). Tahun lalu babi ternak Simalungun terkena demam ini dan diduga sudah menular ke babi liar.

Hipotesa berkurangnya pakan alami harimau atau adanya virus memang masih perlu diselidiki. Bila benar, ancaman terhadap kelangsungan harimau semakin besar. Pada dasarnya babi hutan sangat mudah berkembang biak. Fungsinya dalam ekosisitem, selain menjadi pakan alami harimau juga menyuburkan tanah di hutan. Ketika babi hutan menjelajah wilayah hutan bersama kelompoknya, injakan kakinya dapat menyuburkan kembali tanah.

Sementara harimau yang berada di puncak rantai makanan ekosistem hutan saat ini berstatus kritis (critically endangered). Bagi harimau Sumatera,  ancaman terutama dari manusia melalui perburuan dan berkurangnya kawasan hutan akibat konversi lahan menjadi perkebunan.

Konflik harimau-manusia akan terus terjadi jika pelbagai faktor itu tak segera diselidiki untuk mencegah harimau kian terpuruk. Manusia dan harimau tak sekadar berbagi ruang.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain