Laporan Utama | Oktober-Desember 2018

Melestarikan Burung Secara Liar

Biarkan burung-burung hidup dan berkeliaran di alam bebas. Menikmati suara cantik mereka lebih indah di alam liar ketimbang terkurung di sangkar.

Asep Ayat

Pemerhati burung liar di Burung Indonesia

SETIAP pukul 5 pagi, saya duduk di teras belakang rumah yang menghadap Gunung Salak. Di situ ada banyak sekali burung yang datang. Selama setahun menikmati hari-hari di akhir pekan, kamera saya setidaknya menangkap gambar 18 jenis burung yang berbeda-beda. Dari pola makan mereka saya kelompokkan lagi menjadi lima jenis. 

Kelompok burung itu adalah pemakan buah (frugivora), pemakan biji-bijian (granivora), pemakan serangga (insectivora), penghisap madu (nectivora), dan pemakan ikan (piscivora). 

Golongan pemakan buah terdiri dari burung Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Merbah cerukcuk (Pycnonotus guiavier) dan Cabai jawa (Dicaeun  trocheieum) yang terkenal paling ribut dibanding teman-temannya. Sementara burung pemakan biji adalah Tekukur biasa (Streptopelia chinensis), Bondol jawa (Lonchura leucogastroides), Bondol tunggir-putih (Lonchura striata), dan Burung gereja (Paser montanus) kerap mencari makan rerumputan di sekitar pekarangan. 

Pekarangan yang didominasi oleh pohon buah-buahan, memberikan sumber makanan bagi Burung madu sriganti (Nectania jugularis) dan Burung madu kelapa (Anthreptes malacensis ). Tak heran bila si pengisap nektar ini sering singgah pada bunga pohon buah-buahan tersebut dan membantu peyerbukannya, sehingga buahnya dapat dinikmati ketika musim buah tiba. 

Serangga yang beterbangan di pekarangan menarik perhatian burung Cipoh kacat (Aegithina tiphia), Cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps) dan Cinenen jawa (Orthotomus sepium). Sesekali terlihat burung-burung tersebut menyambar dan memakan serangga yang sedang terbang. Ditambah lagi burung Walet sapi (Calocalia esculenta) dengan ligat menyambar serangga dari udara bagaikan manufer pesawat tempur. Tak lepas dari perhatian saya, ketika si agresif Raja-udang meninting (Alcedo meninting) dan Cekakak belukar (Halcyon smyrnensis) mengintip ikan yang muncul di kolam belakang rumah.  Hilir mudik mereka melakukan manuver untuk menyambar ikan yang lengah dari atas kolam. Kedua burung tersebut termasuk dalam kelompok pemakan ikan. 

Paruh burung pemakan larva serangga yang hidup di balik kulit kayu pepohonan mampu melubangi kulit sebuah pohon ketika mencari makanan atau membuat sangkar.  Jenis Caladi tilik (Dendrocopos moluccensis) dan caladi ulam (Dendrocopos macei) sangat indah untuk beterbangan.

20190104182728.jpg

Ketika matahari akan tenggelam terdengar pula lengkingan nyaring si Wiwik kelabu (Cocomantis merulinus). Lengkingan yang membikin bulu kuduk merinding seolah-seolah membawa kabar buruk. Bahkan saat malam terdengar sahutan Serak Jawa (Tyto alba) dan Celepuk reban (Otus lempiji ) yang biasanya bersembunyi dalam lubang gelap dan terbang rendah dengan kepakkan tanpa suara. Burung ini termasuk pemangsa yang biasanya memakan tikus-tikus yang berkeliaran di kebun. 

Pekarangan Pemikat Burung

Selain bulunya yang indah, burung memberikan kicauan yang merdu. Tak jarang orang mengeluarkan biaya cukup banyak dan pergi jauh hanya untuk menikmati kicauan burung. 

Burung tidak hanya dapat dinikmati keindahan suara dan bulunya, tetapi juga memberikan jasa ekosistem sebagai pengendali hama, pemencar biji dan membantu penyerbukan, juga menjadi salah satu indikator kualitas lingkungan. 

Artinya keberadaan burung menjadi indikator bahwa tempat tersebut memberikan daya dukung bagi kelangsungan hidupnya untuk mencari makan, bersarang dan berkembang biak. Terjawab sudah pertanyaan mengapa mereka menghampiri pekarangan rumah saya karena ternyata pohon-pohon yang tumbuh di pekarangan menjadi tempat untuk mencari makan dan bertengger bagi beberapa jenis burung, bahkan beberapa di antaranya membuat sarang di pohon-pohon tersebut. 

Dengan demikian, jika Anda ingin menikmati suara burung, cara terbaik adalah menanam pohon-pohon di pekarangan. Tentu saja kita harus tahu jenis pohon apa saja yang disukai mereka. Pohon bertajuk tinggi dan pohon penghasil buah adalah jenis yang umumnya mereka sukai. 

Pohon di sekitar rumah tidak hanya berfungsi sebagai peneduh melainkan juga menjadi pabrik buah, pabrik bunga, dan yang pasti pabrik oksigen. Bagi beberapa jenis burung, pohon bagaikan sebuah restoran cepat saji. Menu makanan yang mereka sukai adalah bunga, buah dan biji. Sering pula pohon dijadikan tempat berburu bagi burung pemakan serangga. Selain itu, pohon juga dijadikan tempat membuat  sarang. Sarang mereka buat dari berbagai bahan seperti ranting, daun, bahkan tanah. Terakhir, pohon merupakan sebuah “hotel atau vila” tempat burung-burung beristirahat seperti halnya penduduk Jakarta menikmati vila di kawasan puncak. 

Apakah pohon merana jika dikunjungi burung? Secara teori, burung merupakan agen penyebar biji yang paling andal. Pohon tertolong dengan perkembangbiakan alami yang disebar oleh burung.  Selain itu pohon pun akan senang dan tumbuh subur apabila diberi pupuk kotoran burung. 

Pohon buah punya daya tarik luar biasa bagi burung, antara lain sawo kecik, srikaya, nangka, rambutan, talok, jambu air, jamblang, durian, belimbing, kemang atau pohon salam.

Selain jenis buah-buahan, beberapa tanaman hias yang disukai burung adalah kenanga, dadap merah, bunga kupu-kupu, sikat botol, kemboja, bambu kuning, palem merah atau kembang soka. Sementara untuk pohon peneduh atau jenis tanaman keras lainnya, burung-burung ternyata senang hinggap di pohon asam ranji, beringin, butun, cemara laut, kapuk, jarak pagar, flamboyan, karet kebo, kayu putih, laban, sempur, sengon, tanjung, turi, mindi dan beringin

Ibarat investasi kenyamanan, tak ada salahnya mulai memilih tanaman atau pohon yang mampu memikat para burung untuk singgah di taman rumah. Biarkan kicauannya menjadi bagian dari harmonisasi alam di sekitar kita. Selain itu, menanam pohon merupakan salah satu langkah untuk mengurangi dampak pemanasan global, karena pohon mampu menyerap dan menyimpan karbon. Oleh karena itu, usahakan mulai dari sekarang kita memulai untuk menanam pohon dan rajin-rajin merawatnya.  

Biarkan burung-burung hidup dan berkeliaran di alam bebas. Menikmati suara cantik mereka lebih indah di alam liar ketimbang terkurung di sangkar. Mari tanam pohon sebanyak-banyaknya untuk rumah mereka.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.