Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|15 Desember 2021

Evolusi Mikroba: Bisa Mengurai Plastik

Ada solusi mencegah dampak buruk zat kimia dalam plastik terhadap lingkungan. Mikroba menghasilan enzim pengurai plastik.

SELAMA ini plastik menjadi momok bagi lingkungan. Selain terbuat dari minyak bumi yang tak terbarukan, plastik yang menjadi sampah tak terurai di alam. Plastik, dalam pelbagai bentuk, membutuhkan waktu berabad-abad agar bisa musnah.

Rupanya, produksi plastik lalu menjadi sampah dan menginvasi bumi membuat mikroba dan serangga berevolusi. Seperti evolusi mahluk hidup lain, mereka coba menyesuaikan diri dengan polutan, alih-alih musnah oleh bahan kimia yang terkandung plastik.

Pada 2016, di Jepang, ada temuan serangga yang bisa mengurai plastik. Kutu yang hidup di tempat pembuangan sampah pelan-pelan menyesuaikan diri sehingga bisa melawan reaksi kimia yang mengancam keberlangsungan mereka.

Para peneliti Jepang menemukan bahwa dalam proses alamiah yang ruwet dan kompleks, mikroba dan serangga di tempat pembuangan sampah menciptakan enzim yang bisa mengurai mikroplastik yang terkandung dalam botol plastik.

Temuan ini memicu peneliti lain menginvestigasi kemampuan evolusi mikroba berhadapan dengan bahan kimia plastik. Selama dua tahun, pada 2018-2020, Profesor Aleksej Zeleniak dari Universitas Teknologi Chalmers, Swedia, menemukan dari lebih 200 juta gen sampel DNA yang ia ambil dari lingkungan, ada sekitar 30.000 enzim berbeda yang dapat mendegradasi 10 jenis plastik.

Studi temuan enzim pengurai plastik ini dipublikasikan dalam jurnal American Society for Microbiology pada 26 Oktober 2021. “Studi ini adalah penilaian global skala besar pertama dari potensi bakteri pengurai plastik,” kata Aleksej kepada Guardian pada 14 Desember 2021.

Aleksej menerangkan bahwa satu dari empat organisme yang ia analisis membentuk enzim sanggup mengurai mikroplastik. Penelitian ini berharga karena sekaligus menemukan jumlah dan jenis enzim yang berbeda-beda dan cocok dengan jumlah dan jenis polusi plastik yang beragam. “Sebuah demonstrasi signifikan tentang bagaimana lingkungan merespons tekanan padanya,” tambah Aleksej.

Dari sampel sampah laut di 67 lokasi di kedalaman berbeda, Aleksej menemukan ada lebih 12.000 enzim baru. Aleksej menyimpulkan semakin dalam sampel diambil dari lautan, jumlah enzim pendegradasi plastik semakin banyak. Artinya, kemampuan mikroba mengurai plastik juga terpengaruh oleh kondisi lingkungan.

Pada sampel tanah dari 169 lokasi dan 11 habitat dari 38 negara, Aleksej menghitung ada 18.000 enzim pendegradasi plastik. Ia menghitung tanah menjadi organisme yang mengandung lebih banyak flalat (zat dalam plastik yang berperan membuatnya lentur) dibanding lautan.

Rupanya, di tanah, banyak enzim yang memakai flalat dibanding di perairan. “Kami masih harus menguji kandidat enzim yang paling menjanjikan dalam mendegradasi plastik yang cocok dengan jenisnya,” kata Aleksej.  “Dari sana Anda dapat merekayasa komunitas mikroba dengan fungsi degradasi yang ditargetkan untuk jenis polimer tertentu.”

Jan Zrimec, kolega Aleksej, mengatakan bahwa naiknya produksi plastik dan semakin tingginya konsentrasi mikroplastik di alam rupanya mendorong mikroba berevolusi secara alamiah. Mereka memproduksi enzim yang bisa melawan zat kimia dalam plastik untuk menguasainya. “Ini temuan yang mengejutkan,” kata dia. 

Temuan enzim dari mikroba yang bisa menghancurkan plastik tentu saja menggembirakan. Enzim ini bisa dimodifikasi untuk menghancurkan plastik dalam skala industri sehingah tidak mencemari lingkungan.

Plastik kini jadi problem serius sekaligus penopang ekonomi. Dalam 70 tahun terakhir, jumlah plastik naik pesat dari 2 ton per tahun menjadi 380 juta ton. Penduduk Indonesia memproduksi 64 juta ton sampah, 15% di antaranya sampah plastik. Dari jumlah sampah itu, 37% berakhir di lautan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain