Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|25 Maret 2021

Polusi Membuat Penis Mengecil

Seorang dokter dan ahli lingkungan menerbitkan buku dari hasil penelitian selama 40 tahun: polusi membuat sperma dan ukuran penis mengecil.

SATU lagi bukti betapa bahaya polusi dan pencemaran zat kimia. Dr. Shanna Swan menerbitkan buku, Count Down, yang merupakan hasil penelitiannya selama lebih dari 40 tahun sejak 1970. Dr. Swan, dokter reproduksi dan ahli lingkungan, menyimpulkan jumlah sperma laki-laki di Barat berkurang 59% dan ukuran penisnya menyusut.

Tak hanya bagi laki-laki, usia kesuburan perempuan juga berkurang dibanding ibu atau neneknya. Swan menemukan bahwa perempuan usia 20-an hormon reproduksinya berkurang dibanding nenek mereka yang baru terdeteksi di usia 35.

Penyebab menyusutnya penis adalah zat kimia yang disebut ftalat. Zat kimia ini merupakan campuran bahan baku plastik. Ftalat membuat plastik menjadi kuat dan fleksibel. Karena itu sumber penularan ftalat ke tubuh manusia bisa berasal dari barang rumah tangga atau mainan. Ftalat adalah zat kimia yang bisa kita temukan dalam cat kuku, sampo, sabun, kosmetika, pengeras rambut.

Dr. Swan meneliti paparan ftalat pada tikus dan menemukan tikus hamil yang terpapar bahan kimia ini melahirkan bayi dengan ukuran penis yang kecil. Temuan itu kemudian diteliti juga pada bayi manusia. Ia menemukan bahwa bayi yang dikandung oleh ibu yang terpapar oleh bahan kimia memiliki panjang anogenital, organ yang menentukan panjang penis, telah menyusut.

Temuan Swan ini sebetulnya tidak baru. Para peneliti telah menyelidiki hubungan polusi dan pencemaran dengan kerusakan organ. Meski temuannya berbeda-beda, kesimpulannya bisa disatukan, yakni polusi yang mengandung zat kimia berbahaya merusak organ reproduksi dan menurunkan tingkat kesuburan pada pria dan wanita. Ftalat bahkan sudah lama dicurigai sebagai penyebab kemandulan.

Temuan Swan menjadi menarik karena penelitiannya fokus pada satu zat kimia yang terhirup manusia bersama polusi. Meskipun temuan-temuan ilmiah lainnya menyebutkan bahwa penyusutan penis lebih karena gaya hidup yang tak sehat, seperti kebiasaan merokok, pengaruh obat-obatan, obesitas, tapi semuanya berasal dari paparan zat kimia.

Temuan Dr. Swan merekatkan temuan-temuan ilmiah sebelumnya. Rokok, obat-obatan, adalah benda yang mengandung zat kimia sehingga merusak organ-organ tubuh, termasuk alat reproduksi. Earth Justice, misalnya, menyebut ada 16 zat kimia berbahaya yang terkandung dalam asap pembakaran batu bara.

Semua zat kimia dalam polusi itu merusak tubuh. Zat kimia yang menyebabkannya adalah mangan, molibdenum, zinkum, dan stibium. Tak hanya merusak reproduksi, penelitian di Environmental Research menemukan polusi udara menjadi penyebab 10,2 juta orang tewas setahun. Polusi udara paling banyak berasal dari pembakaran batu bara.

Sebanyak 80% sumber energi dunia masih memakai energi fosil, termasuk batu bara. Beberapa negara sudah menghentikan pemakaiannya karena membahayakan manusia dan lingkungan juga masa depan planet bumi. Sebaliknya, Indonesia malah akan menggenjotnya melalui pelbagai insentif yang sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

Selain royalti nol persen bagi industri pengerukan batu bara, abu batu bara bahkan kini sudah tak masuk kategori limbah berbahaya dan beracun (B3). Dengan dikeluarkannya limbah terbang dan abu batu bara (fly ash and bottom ash) indusri yang memakainya tak lagi memiliki kewajiban mengolahnya.

Kandungan zat kimia dalam abu batu bara

Abu batu bara akan dibiarkan melayang ke udara dan dihirup bersama-sama. Majalah Tempo menyebut Lampiran XIV Peraturan Pemerintah Nomor 22/2021, yang menjadi aturan turunan UU Cipta Kerja, sebagai warisan terburuk pemerintahan Joko Widodo karena mengancam masa depan generasi mendatang.

Tak hanya mengancam kesehatan generasi mudah, polusi juga merusak tingkat intelegensia anak-anak Indonesia. Polusi batu bara mengandung timbel yang tak memiliki ambang batas dalam merusak organ kecerdasan anak-anak. Dr Swan, melalui Count Down, menambah satu bahaya lagi: generasi mendatang sudah rusak sejak dalam kandungan.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain