Laporan Utama | Mei-Juli 2017

Potensi Minyak Atsiri di Luar Negeri

Terdapat puluhan jenis tanaman atsiri yang bisa dibudidayakan di Indonesia dan memiliki besaran pasar yang signifikan baik dalam maupun luar negeri. Sebagian besar tanaman atsiri tersebut bisa digolongkan sebagai HHBK.

Arianto Mulyadi

Dewan Atsiri Indonesia

MINYAK atsiri (essential oils) adalah kelompok minyak nabati yang berwujud cairan mudah menguap (volatile) dan memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri ditemukan di kulit, buah, bunga, daun, getah, rimpang, akar, biji, atau kayu tanaman. Unsur kimiawi volatil yang terkandung pada minyak atsiri pada umumnya dihasilkan dari metabolisme sekunder yang berperan sebagai alat pertahanan diri menghadapi serangan serangga, bakteri, jamur atau menarik serangga yang berguna untuk penyerbukan.

Minyak atsiri terdiri dari campuran kompleks bahan kimia yang disintesis oleh tanaman selama pertumbuhan dan dikeluarkan dalam bentuk aroma oleh tanaman penghasil atsiri. Untuk menangkap komponen aroma ini ada tiga metode utama ekstraksi: ekspresi (cold pressed), distilasi (uap, air, uap dan air), dan ekstraksi menggunakan pelarut (solvent extraction).

Lebih dari 80% minyak atsiri diekstraksi melalui proses distilasi. Minyak eukaliptus, minyak daun cengkeh, minyak kayu manis, dan minyak jahe adalah contoh dari minyak atsiri yang didapatkan melalui proses distilasi uap (steam distillation). Minyak kulit jeruk-jerukan, seperti: orange oil dan lime oil biasanya diproduksi dengan proses ekspresi (cold pressed). Minyak dari bunga-bungaan seperti minyak bunga mawar, minyak kenanga dan minyak melati didapatkan lewat ekstraksi pelarut atau supercritical CO2 extraction karena memiliki bahan-bahan volatil yang lebih halus sifatnya dan rentan terhadap proses pemanasan.

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Pengertian lain dari HHBK yaitu segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Industri minyak atsiri tidak hanya berhenti pada produksi minyaknya saja. Selain minyak atsiri, fraksi-fraksi (hasil isolasi dan purifikasi komponen aromatik dengan alat sejenis frasksionasi) maupun hasil reaksi sintesis fraksi tersebut juga banyak digunakan untuk bahan aktif perisa, fragrans, farmasi dan lain-lain.

Di Indonesia, industri minyak atsiri sudah berkembang sejak awal abad 20. Beberapa jenis tanaman atsiri malahan bukan asli Indonesia dan dibawa pemerintah Hindia Belanda. Bahkan nama jenis tanaman tersebut konon diberikan berdasar nama perusahaan yang membudidayakan dan memproduksi minyak pada awal abad 20. N.I.L.A.M. konon adalah singkatan dari Nederland Indische Landbouw Atjeh Maatschappij. Nilam menjadi kosa kata Indonesia yang merujuk ke nama tanaman Patchouli (Pogostemon cablin) yang pangsa pasar dunia dikuasai oleh hasil produksi Indonesia lebih dari 90%-nya.

Terdapat puluhan jenis tanaman atsiri yang bisa dibudidayakan di Indonesia dan memiliki besaran pasar yang signifikan baik dalam maupun luar negeri. Sebagian besar tanaman atsiri tersebut bisa digolongkan sebagai hasil hutan bukan kayu. Yang cukup banyak disebut-sebut adalah pinus, kayu putih, masohi, cendana, gaharu. Namun sebenarnya tanaman penghasil minyak atsiri dari jenis rumput-rumputan (contoh: sereh wangi, sereh dapur, palmarosa, akar wangi) dan perdu (contoh: nilam) yang merupakan tanaman musiman pun dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela hutan produksi atau tanaman pinggir hutan lindung yang bisa dimanfaatkan masyarakat desa di sekitar hutan. Demikian juga jenis tanaman merambat (contoh: lada, kemukus) bisa dibudidayakan dengan memanfaatkan tegakan tanaman hutan.

Dari ratusan jenis minyak atsiri yang diproduksi dan dipakai dunia, hanya ada kurang dari 20 jenis minyak atsiri yang permintaannya lebih dari 1.000 ton per tahun. Berikut ini adalah jenis-jenis minyak atsiri dengan permintaan ribuan ton/tahun yang sudah berkembang di Indonesia.

Minyak terpentin (turpentine oil)

Tanaman Pinus yang disadap getahnya setelah melalui proses pemisahan menghasilkan gondorukem (gum rosin) sebagai produk utama dan minyak terpentin (turpentine oil) sebagai produk samping. Perhutani yang merupakan pengelola hutan pinus di Jawa. Dalam acara Asian Aroma Ingredients Conference di Kunming, China pada 2014, menginformasikan bahwa produksi minyak terpentin Indonesia sudah melebihi 13.000 ton per tahun dan mayoritas hasilnya diekspor ke India. Jumlah ini masih jauh dibawah produsen utama dunia, yaitu Cina.

Salah satu ketertinggalan Indonesia dari Cina adalah pengolahan minyak terpentin untuk menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Banyak perusahaan di Cina yang telah memproduksi berbagai jenis aroma kimia turunan alpha pinene dan beta-pinene seperti terpineol, camphene, dihydromyrcenol, isobornyl acetate, santalol dan sebagainya.

Minyak daun cengkeh (clove leaf oil)

Perkiraan pemakaian dunia saat ini sekitar 6.000 ton per tahun. Indonesia menjadi produsen utama karena memproduksi sekitar 4.000 ton per tahun. Pengguna utamanya adalah industri aroma chemicals, flavor & fragrance, dan farmasi. Meskipun tanaman ini merupakan tanaman perkebunan yang 97% dibudidayakan sebagai perkebunan rakyat, masih banyak tanaman asli dari gugus kepulauan di timur pulau Halmahera, Maluku, ini tumbuh di hutan-hutan dan belum dimanfaatkan daun yang gugur untuk penyulingan.

Industri turunan minyak daun cengkeh (eugenol, isoeugenol) telah berkembang di Indonesia dan secara berkelanjutan memerlukan pasokan minyak daun cengkeh. Tantangan utama industri minyak daun cengkeh adalah perubahan musim yang tidak menentu, karena dibutuhkan pasokan daun kering gugur secara menerus selama beberapa bulan dalam setahun. Lokasi penyulingan yang baik memilki bulan kemarau lebih dari lima bulan, karena penyulingan tidak akan efisien beroperasi saat musim hujan.

Minyak kayu putih (cajuput oil)

Minyak atsiri yang mengandung senyawa 1,8-cineole yang dikenal masyarakat luas di Indonesia sejak lebih dari 100 tahun adalah Cajuput Oil atau Minyak Kayu Putih. Minyak atsiri ini berasal dari distilasi daun-daun dan pucuk batang tanaman Melaleuca leucadendron L. subspesies Cajuputi, Powell, yang di Indonesia awalnya tumbuh di Pulau Buru, Maluku.

Sebenarnya, masih banyak jenis tanaman lain yang mengandung senyawa 1,8-cineole, diantaranya adalah berbagai jenis tanaman ekaliptus (Eucalyptus), seperti: Eucalyptus globulus yang mengandung sampai 80%, sementara Melaleuca leucadendron hanya sekitar 60% saja. Kebutuhan domestik minyak kayu putih adalah 1.500 ton per tahun, namun saat ini Indonesia hanya mampu memproduksi kurang dari 500 ton per tahun. Karena itu kekurangannya diimpor minyak ekaliptus dari Cina dan Vietnam. Hal ini disebabkan oleh:

  1. Penggunaannya dapat diganti dengan minyak ekaliptus berdasar Farmakope Indonesia IV-1995.
  2. Tidak standarnya kualitas Minyak Kayu Putih Indonesia di perdagangan, karena banyak dicampur dengan minyak-minyak lain dengan komposisi yang sangat bervariasi, sehingga tidak memenuhi standar spesifikasi SNI, banyak dari parameter spesifikasinya tidak dapat dipenuhi, seperti aromanya, bobot per militernya, indeks biasnya, putaran optiknya, maupun kadar senyawa 1,8-cineolenya.
  3. Pengelolaan tanaman kayu putih di luar Jawa dilakukan oleh rakyat setempat, yang sangat tergantung dari para pedagang/pemodal, sedangkan di Jawa sebagian besar oleh Perhutani dan semuanya menghadirkan kualitas yang variatif.

Minyak sereh wangi (citronella oil)

Pada zaman Hindia Belanda, kita pernah mengekspor lebih dari 2.500 ton Java Citronella Oil. Namun produksi minyak ini mengalami surut tajam sejak Cina (terutama daerah-daerah yang berbatasan dengan Vietnam, Laos, dan Myanmar) melakukan produksi besar-besaran mulai 1980-an.

Cina adalah produsen utama minyak sereh wangi. Perkiraan produksi dan pemakaian dunia saat ini lebih dari 3.000 ton per tahun, dan Indonesia adalah produsen nomor 2 dengan produksi pada 2016 sekitar 600-700 ton. Kebutuhan dalam negeri Cina akhir-akhir ini meningkat dan diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 ton per tahun sehingga posisinya sewaktu-waktu bisa beralih menjadi net importer. Pengguna produk ini sangat beragam dan berkembang antara lain industri flavor and fragrance, detergen, pengusir nyamuk.

Minyak nilam (patchouli oil)

Perkiraan pemakaian dunia sekitar 1.500 ton per tahun dan Indonesia adalah produsen utama. India dan Cina sampai sejauh ini belum mampu berproduksi lebih dari 100 ton per tahun. Pemakai utamanya adalah industri parfum. Nilam sangat cocok tumbuh pada tanah yang yang mempunyai kesuburan tinggi dan terjaga ketersediaan unsur haranya, di daerah dengan curah hujan 2.300-3.500 milimeter per tahun.

Nilam juga butuh sinar matahari yang cukup saat usianya sudah tiga bulan ke atas, sehingga dalam konteks kehutanan, cocok untuk daerah hutan produksi yang sedang dalam peremajaan, atau berada di pinggir-pinggir hutan lindung, karena sifatnya yang rakus hara, tanaman nilam tidak boleh ditanam menetap lebih dari dua tahun.

Minyak atsiri Indonesia bernilai tinggi dan eksotik

Berbeda dengan minyak atsiri yang jumlah permintaannya ribuan ton, terdapat beberapa jenis minyak atsiri hasil hutan bukan kayu yang meskipun jumlahnya sedikit tapi memiliki nilai yang sangat tinggi. Harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah per kilogram (minyak gaharu). Namun, yang perlu diingat, semakin tinggi nilainya, semakin kecil rendemen dan tingkat kesulitan dalam menjaga kualitas yang dicari pemakai maupun dalam pemasarannya. Di antara minyak-minyak tersebut yang banyak dikenal di Indonesia adalah: minyak gaharu/agarwood oil, minyak cendana/sandalwood oil (Santalum album) dan minyak masohi/massoia bark oil.

Tanaman penghasil atsiri asli Indonesia yang juga banyak tumbuh liar di hutan adalah pala. Minyak Pala (nutmeg oil) dengan permintaan perkiraan permintaan dunia lebih dari 400 ton per tahun banyak dipakai di minuman kola maupun berbagai produk farmasi.

Satu hal yang perlu diingat, minyak pala yang dicari adalah hasil sulingan biji pala panen muda (4-5 bulan) dari spesies Myristica fragrans. Banyak masyarakat Indonesia bagian Timur yang salah paham dengan pala hutan (Myristica argantea) yang ternyata hasil sulingannya mengandung kandungan yang berbeda dengan kebutuhan pasar.

Masih ada beberapa minyak atsiri Indonesia lainnya seperti minyak lawang yang hanya dipakai di pasar domestik untuk obat gosok, minyak gurjun yang bisa berfungsi sebagai fixative, namun pengadaan bahan bakunya masih belum bisa dilakukan secara legal formal, serta minyak lada hitam (black pepper oil) yang produsen utamanya adalah India dan Sri Lanka (sebagian bahan baku impor dari Indonesia) dan mereka beroperasi efisien dengan mengintegrasikan produksi oleoresin (ekstraksi dengan pelarut untuk mendapatkan lebih banyak komponen non volatil) dan oil (distilasi untuk menangkap komponen volatil) pada bahan baku yang sama.

Selain itu juga banyak disebut di media beberapa jenis minyak atsiri dari bahan baku bunga. Sejauh ini produksi minyak atsiri bunga-bungaan (seperti melati dan mawar) masih sangat terbatas dan berskala kecil sekali sehingga belum mencapai skala ekonomis untuk bersaing dengan produsen utama di India, Mesir, Turki maupun Bulgaria. Jenis minyak atsiri bunga yang dapat dikembangkan dan cocok untuk iklim Indonesia adalah kenanga dan ylang-ylang.

Pemasaran minyak atsiri tidak bisa terlepas dari penggunaannya. Industri pengguna utama minyak atsiri adalah industri perisa dan fragrans, industri kimia aromatik, industri farmasi, industri pengendalian serangga/hama dan lain-lain.

Dewan Atsiri Indonesia (DAI) yang sudah berdiri sejak 2007 telah menjadi organisasi rujukan untuk memberi arahan pengembangan pasar. Dalam setiap kesempatan, DAI selalu mengemukakan prinsip keberlanjutan dan kemitraan diantaranya dengan prinsip hanya memproduksi yang dibutuhkan pembeli dibandingkan berusaha memasarkan hasil yang diproduksi.

Forum komunikasi antar pemangku kepentingan yang melibatkan unsur pemerintah (berbagai kementerian), unsur akademik (berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian) dan unsur usaha yang terkait (petani, penyuling, produsen turunan atsiri, pemakai, baik perusahaan, koperasi, maupun asosiasi), telah dan akan terus berlangsung rutin. Sejauh ini, setelah konferensi minyak atsiri nasional, Oktober 2006 di Solo yang kemudian melahirkan DAI, sudah ada lebih dari 20 kali workshop, 6 kali konferensi/seminar nasional, serta 2 kali konferensi internasional dilaksanakan di Indonesia.

Dewan Atsiri Indonesia menaungi asosiasi-asosiasi yang berbasis minyak atsiri, perisa dan pewangi. Tujuan DAI dibentuk untuk memajukan agribisnis dan agroindustri minyak atsiri untuk kesejahteraan seluruh pemangku kepentingan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Kabar Baru

    Cinta Lingkungan di Masa Pandemi

    Pandemi bisa menjadi kesempatan lebih ramah lingkungan. Dimulai dari cara kita memproduksi dan mengolah sampah rumah tangga.

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.