Laporan Utama | Juli-September 2018

ASIK Sebagai Kepribadian

 Tak ada cerita. Ini pendapat angkatan 46 atas yal-yel ASIK yang kita kenal.

Anonimous

Angkatan 45

PERGURUAN tinggi adalah sebuah komponen baku yang diharapkan mampu mencetak manusia-manusia baru yang memiliki analisis dan pemikiran lebih kritis dan solutif dibandingkan dengan masyarakat sosial dilingkungan terdahulu. Perguruan tinggi seharusnya memiliki dinamika gagasan baru atas permasalahan yang terjadi baik dilingkup internal maupun lingkup eksternal perguruan tinggi tersebut. Muara akhirnya adalah gagasan solutif atas permasalahan-permasalahan sosial masyarakat yang telah lama menjadi dilema yang tak terpecahkan.

Mahasiswa sebagai komponen lainnya adalah agen yang akan memberikan perubahan dan perbaikan terhadap problema yang berkembang di masyarakat. Tugas dasar seorang mahasiswa bukan mengejar ijazah, tapi penghasil gagasan yang mampu disajikan secara sistematis, mendalam dan solutif. Kemampuan pemikiran dan analisis seorang mahasiswa menjadi syarat utama dibandingkan teori definitif bidang keilmuannya sendiri.
Namun apa yang kita lihat saat ini dimasyarakat sepertinya jauh dari hal-hal yang diuraikan di atas. Sering kali mahasiswa yang ada hanya berorientasi pada kepentingan pribadi (contoh: ijazah, pekerjaan, eksistensi, dll) bukan lagi pada kepentingan publik. Apakah ada kesalahan dalam sistem pendidikan atau kesalahan pemahaman dasar fungsi mahasiswa? Akan terlalu bias jika berbicara mahasiswa di Indonesia secara umum, karena terlalu banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Mungkin kita bisa membahas pada ruang yang lebih kecil seperti mahasiswa di Institut Pertanian Bogor khususnya di Fakultas Kehutanan.

Ada sebuah kultur yang unik pada Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB ini, di mana mahasiswa disemai pada lingkungan yang memiliki kepekaan, kepedulian, dan kebersamaan yang disebut korsa. Selain itu juga terdapat jargon atau mungkin semboyan yang menguatkan karakter mahasiswa yaitu ASIK (Agamis, Sportif, Intelektual, Kreatif). Seharusnya, dua hal ini (Korsa dan ASIK) mampu mencetak mahasiswa/rimbawan berkarakter yang memiliki kepekaan dan nalar yang kritis terhadap lingkungan di sekitar. Namun timbul sebuah gugatan apakah ASIK ini sebuah kepribadian atau hanya sebuah slogan? Karena masih ada yang memandang ketika mahasiswa dianggap belum mampu menunaikan tugas fungsinya secara utuh.

Dalam pandangan kami Fahutan 46, kata ASIK memang sebuah Slogan di mana setiap komponen kata dalam ASIK adalah kesatuan yang kompleks dan tidak dapat diuraikan secara terpisah. Namun sudah seharusnya slogan itu menjadi sebuah kepribadian mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB. Tidak ada yang salah dari kata ASIK tersebut selama diinterpretasikan secara kompleks bukan parsial. Walau informasi saat ini ketika sudah lulus beredar, diketahui bahwa dahulu Jargon ASIK hanya untuk seru-seruan pada angkatan belasan atau dua puluhan.  Namun dengan pemaknaan yang kekinian, ASIK benar-benar dapat dimaknai secara luas.

Dalam beberapa kesempatan dapat dilihat bahwa civitas academica Fahutan sudah menjadikan ASIK dalam kepribadiannya, yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah kadar tiap komponen ASIK dalam diri masing-masing individu. Ada yang menguatkan/memfokuskan nilai Agamis pada kepribadiannya sehingga 3 nilai lainnya sedikit tertutupi. Ada yang memfokuskan pada nilai Sportif saja atau Intelektual saja dan ada yang fokus pada nilai Kreativitas. Realita tersebut bukanlah hal yang salah, karena setiap orang berhak menentukan arah hidupnya, yang menjadi penting adalah bagaimana dengan fokus poin tersebut mereka mampu berkontribusi bagi almamater dan bangsa ini pada utamanya.

Biarkan bagi kawan-kawan yang fokus pada nilai Agamis memberikan kontribusi dibidang keagamaannya, sportif semangat perjuangan secara sehat tanpa melanggar norma-norma dan peraturan yang berlaku , Intelektual pada bidang pengembangan ilmu pengetahuannya, kreatif dalam membuat suatu inovasi terhadap pemecahan sebuah masalah, tanpa menghilangkan 3 nilai lainnya. Bukan hal yang tabu jika seorang rimbawan menjadi seorang pemuka agama, atlet, politikus, akademisi, petani, atau apa pun itu selama mereka sadar akan fungsi mereka dimasyarakat secara umum dan dunia kehutanan secara khusus.

Pemaknaan nilai ASIK tersebut saling melengkapi dan berkesinambungan. Kehidupan di Fahutan yang erat dengan kekeluargaan, jiwa korsa yang ditanamkan menjadikan komponen-komponen ASIK tadi menjadi saling membangun, mensupport dan membesarkan sekalipun bergerak pada satu komponen.

Pada saat kuliah, tidak hanya jargon ASIK yang disemaikan kepada kita. Jargon-jargon seperti, Siapa kita? FAHUTAN... berapa jumlah kita? SATU... Untuk apa kita di sini? BERSATU.. menjadi sebuah pelecut semangat kebersamaan dengan menggaungkan kebanggaan sebagai masyarakat Fahutan, tentu dengan tidak mengecilkan pihak lainnya.

Hal yang paling diingat adalah pepatah senior yang menanamkan sifat bahwa Fahutan itu keras, tegas, lugas dan tuntas. Menuntut keluarga baru untuk berpikir dan bertindak secara keras bukan kasar, harus tegas dalam bersikap, lugas dalam bertutur kata dan tuntas dalam memulai suatu pekerjaan atau tanggung jawab apa pun.

Angkatan 46 memaknai hal tersebut secara berkesinambungan, hingga detik ini masih terus dipelajari dan diaplikasikan tentang bagaimana korsa itu dibentuk dan dipelihara. Salah satu contoh yang masih terpelihara hingga saat ini adalah Fahutan 46 masih sering berkumpul di Camp Rinjani yang merupakan rumah bersama angkatan 46 termasuk rumah berkumpul yang terbuka bagi siapa pun yang hendak bersilaturahmi.

Camp Rinjani berdiri sejak 2010, tempat di mana orang-orang bertukar pikiran, kegelisahan, kegembiraan, dan kesedihan yang tidak hanya dilalui oleh angkatan 46. Camp Rinjani dijadikan tempat silaturahmi multi angkatan ketika eksistensi silaturahmi mulai terbatasi di tataran kampus. Di sinilah ASIK tetap dibentuk dan disalurkan guna mencari dan memaknai semangat Korsa Rimbawan Fakultas Kehutanan IPB agar tetap terpelihara dan tersalurkan kepada adik, kakak, maupun fakultas lain yang hendak mengenal “ke-Fahutan-an”.

Tak dapat dipungkiri, bahwa Camp Rinjani menjadi rumah yang nyaman bagi lulusan-lulusan fakultas lain untuk tempat bernaung maupun bertukar pikiran, termasuk mahasiswa dari universitas lain yang hendak melanjutkan Sekolah Pasca Sarjana di IPB.

Semangat ASIK yang dituangkan pada kehidupan E46 di Camp Rinjani, tentunya ditularkan dari camp-camp senior terdahulu di masanya semisal: Semeru, Mahameru, Krakatau, IC, Komando, Permata hingga adik-adik masih tetap melanjutkan dengan Kerinci, Raung, Merapi, dan camp lainnya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.