Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|19 Agustus 2021

Mencegah Krisis Iklim Lewat Hutan Mangrove

Menjaga hutan mangrove tak hanya berperan dalam mitigasi krisis iklim menyerap emisi besar. Juga adaptasi karena bermanfaat secara ekonomi dan sosial.

MENANGANI perubahan iklim merupakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG) nomor 13 yang masuk dalam pilar lingkungan. Salah satunya melalui pelestarian hutan magrove.

Saat ini pemanasan global mengakibatkan krisis iklim akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca dua kali lebih banyak dibanding tahun 1990. Dampaknya berupa bencana yang menewaskan 1,3 juta orang antara 1998 hingga 2017. 

Analisis Bank Dunia menempatkan Indonesia pada peringkat ke-12 dalam risiko kerentanan tinggi terhadap bahaya iklim, termasuk kenaikan permukaan laut, banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Bank Dunia memperkirakan 40% penduduk Indonesia punya risiko besar akan bahaya tersebut.

Selain karena kepadatan penduduknya yang tinggi, terutama di wilayah pesisir, masyarakat Indonesia juga amat tergantung pada sumber daya alam untuk konsumsi. Dengan dampak yang sedemikian rupa, upaya-upaya pelestarian lingkungan harus menjadi mitigasi dan adaptasi krisis iklim. 

Pelestarian hutan mangrove menjadi salah satu upaya mitigasi dan adaptasi krisis iklim yang efektif terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir. Tidak seperti banyak negara lain, strategi Indonesia menghadapi krisis iklim tak semata mitigasi, juga adaptasi. Hutan mangrove bisa mengakomodasi keduanya.

Hutan mangrove yang tumbuh di air payau memiliki kemampuan serapan karbon tinggi. Meskipun total hutan mangrove dunia hanya sekitar 1% dari luas hutan tropis, kontribusi penyerapan karbonnya tiga kali lebih besar.

Hutan mangrove Indonesia memiliki potensi menjanjikan untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim global. Indonesia memiliki total hutan mangrove seluas 3,3 juta hektare yang merupakan hutan mangrove terbesar di dunia, mencakup hingga setengah luas hutan mangrove di Asia. Hutan mangrove juga menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi, menyediakan sumber pangan bagi masyarakat lokal, dan berpotensi sebagai lokasi ekowisata.

Produk-produk ini telah digunakan oleh masyarakat lokal di Indonesia selama bertahun-tahun. Selain itu, hutan mangrove juga merupakan rumah bagi berbagai organisme darat dan laut yang memiliki kontribusi penting bagi keseimbangan ekosistem. Situs Vox menggolongkan mangrove Indonesia sebagai tanaman super sebagai pelindung terakhir kehancuran bumi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Forest Digest (@forestdigest)

Dengan segala potensi tersebut, sayangnya hutan mangrove di Indonesia menghadapi tantangan besar dari praktik tambak yang tidak berkelanjutan, penebangan kayu yang merajalela, pengembangan industri, pertambangan, maupun pembangunan pemukiman yang mengarah pada degradasi dan konversi mangrove besar-besaran. 

Indonesia kehilangan 25% hutan mangrove selama tiga dekade terakhir. Padahal jika deforestasi mangrove tersebut bisa dicegah, emisi tata guna lahan yang bisa dicegah sebesar 10-31% dari emisi tahunan Indonesia sebanyak 1,2 miliar ton setara CO2.

Keberadaan hutan mangrove selalu berdampingan dengan kehidupan masyarakat di areal pesisir. Karena itu ia cocok sebagai kawasan hutan adaptasi krisis iklim. Pelestarian mangrove tidak hanya bertujuan pada perlindungan lingkungan, juga menghasilkan manfaat secara sosial-ekonomi.

Berikut ini beberapa strategi yang melibatkan masyarakat dalam perlindungan mangrove untuk mitigasi dan adaptasi krisis iklim:

Pertama, ekowisata mangrove berbasis masyarakat. Ekowisata mangrove mampu memberikan pendapatan bagi masyarakat sekitar tanpa merusak keberadaan hutan mangrove, sehingga sering menjadi alternatif pelestarian hutan mangrove di beberapa daerah.

Bentuk vegetasinya yang unik menjadikan hutan mangrove memiliki nilai jual sebagai ekowisata. Naiknya minat wisatawan terhadap wisata alam (ekowisata) menjadi peluang bagi pengembangan ekowisata mangrove berbasis masyarakat. Beberapa daerah seperti Kaledupa Sulawesi Tenggara), Bintan (Kepulauan Riau), dan Manado (Sulawesi Utara) sudah mengembangkannya.

BACA: 5 Alasan Mengapa Kita Harus Melindungi Mangrove

Kedua, diversifikasi produk mangrove. Di beberapa wilayah, hutan mangrove ditebang untuk produksi kayu bakar dan arang. Padahal banyak bagian mangrove yang dapat dimanfaatkan tanpa merusak keberadaannya. Buahnya bisa jadi bahan baku tepung, ekstrak daunnya bisa menjadi kerupuk dan bahan pembuat tempe, tandannya menghasilkan bahan pembuat gula nipah.

Banyak masyarakat pesisir yang belum sadar potensi diversifikasi produk ini. Oleh karena itu, perlu sosialisasi pengolahan diversifikasi produk mangrove kepada masyarakat pesisir sehingga mereka bisa beralih dari sekadar memanfaatkan kayu bakar atau arang saja.

Ketiga, penerapan wanamina atau silvofishery. Wanamina bisa menjadi salah satu alternatif pelestarian mangrove untuk mengatasi konversi tambak. Budi daya tambak berkontribusi besar terhadap konversi hutan mangrove. Pada 2012, sekitar 6 juta orang bekerja di usaha perikanan pesisir yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap keberadaan mangrove.

Wanamina muncul sebagai alternatif kegiatan budidaya perikanan yang dilakukan di kawasan mangrove, tanpa harus mengonversi atau mengubah fungsi ekologi mangrove. Manfaat ekonomi melalui pendapatan petani dan masyarakat sekitar melalui aktivitas perikanan, di sisi lain mangrove tetap terjaga sehingga dapat melindungi lahan pesisir dari abrasi, mengurangi limbah hasil budidaya, dan menjadi habitat organisme akuatik.

Keempat, melibatkan masyarakat dalam rehabilitasi mangrove. Rehabilitasi mangrove merupakan upaya mengembalikan fungsi hutan mangrove yang terdegradasi. Indonesia memiliki areal mangrove seluas 3,3 juta hektare, namun 19% dalam kondisi rusak dan perlu segera direhabilitasi. 

Pemerintah telah menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 483.000 hektare pada 2021-2024 di sembilan provinsi prioritas: Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat.

Masyarakat perlu dilibatkan dalam rehabilitasi mangrove mulai dari tahap perencanaan hingga monitoring rehabilitasi. Merekalah aktor yang berinteraksi langsung dengan hutan mangrove. Beberapa program rehabilitasi mangrove gagal tumbuh karena tidak melibatkan masyarakat. Sebaliknya, beberapa studi menunjukkan rehabilitasi bersama masyarakat menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. 

Keempat strategi ini bisa menjadi alternatif pelestarian mangrove terutama untuk mendukung tujuan SDG’s nomor 13, yakni penanganan perubahan iklim. Hutan mangrove merupakan ekosistem penting untuk mendukung upaya menahan kenaikan suhu bumi dan perubahan iklim karena menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan ekosistem teresterial lainnya. 

Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan dukungan dari lembaga swadaya masyarakat mitigasi dan adaptasi krisis iklim melalui pelestarian hutan mangrove akan berkelanjutan. 

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Asisten peneliti di Sebijak Institute

Bagikan

Komentar

Artikel Lain