Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi|06 Juli 2021

Pentingnya Rehabilitasi Mangrove

Ekosistem mangrove tak hanya melindungi manusia dari abrasi dan tsunami, tapi rusak lebih 1 juta hektare. Bagaimana merehabilitasinya?

BELAKANGAN ada euforia dan antusiasme menanam mangrove, baik oleh masyarakat secara mandiri maupun pemerintah. Rupanya ada kesadaran baru pentingnya rehabilitasi mangrove bagi kehidupan manusia.

Bencana seperti gempa dan likuefaksi di Palu mengingatkan kita betapa penting ekosistem mangrove untuk menjaga daratan kita. Ekosistem mangrove yang utuh dan baik, merupakan tembok kokoh dalam menghadang arus air tsunami.

Indonesia beruntung punya etalase hutan lengkap dari mulai pantai sampai hutan hujan dataran tinggi.

Ada dua ekosistem hutan unik yang selalu digenangi air walaupun karakteristiknya berbeda, yaitu mangrove dan gambut. Keduanya menjadi ekosistem yang mampu menyerap emisi karbon terbesar dibanding dengan jenis hutan tropis lainnya.

Mangrove hidup di pantai, tetapi tidak semua pantai punya mangrove. Berdasarkan tempat hidupnya, hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya terdapat sedimentasi (tanahnya berlumpur), tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama, tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat, daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat, dan airnya berkadar garam payau hingga asin. 

Hutan sekunder mangrove mampu menyimpan karbon 54,1-182,5 ton karbon per hektare. Mangrove menyimpan karbon 3-5 kali lebih tinggi dari hutan tropis. Kebakaran gambut di Indonesia tahun 1997-1998 telah melepaskan hingga 2,5 miliar ton karbon setara CO2, sedangkan kebakaran 2002-2003 melepaskan 200 juta hingga 1 miliar ton karbon ke atmosfer.

Dari data 2019, luas tutupan mangrove Indonesia 3,56 juta hektare, yang terdiri dari 2,37 juta hektare dalam kondisi baik dan 1,19 juta hektare yang rusak. Itu sebabnya mangrove perlu direhabilitasi (revegetasi) dengan tanaman mangrove yang baru. 

BACA: Ancaman Mangrove oleh Tambak Udang

Selama ini banyak orang menduga mangrove sama dan identik dengan jenis Rhizophora sp, biasa dikenal dengan tanaman bakau. Pemahaman dan pendapat ini, sebenarnya tidak salah sepenuhnya, karena Rhizopora sp paling mudah dan banyak ditanam masyarakat selama ini.

Anakan mangrove dari alam banyak kita temukan di bawah pohon induk maupun dari biji. Pengalaman saya mendalami tanaman mangrove lebih dari lima tahun di Sinjai, Sulawesi Selatan, dan Muna di Sulawesi Tenggara, hanya jenis Rhizophora yang mudah dan mampu bertahan hidup untuk ditanam sepanjang habitatnya tidak tergenang oleh air laut sepanjang hari. 

Kenapa demikian? 

Menurut Bengen (2002), jenis-jenis pohon penyusun hutan mangrove di Indonesia jika dirunut dari arah laut ke arah daratan dapat dibedakan menjadi empat zonasi, yaitu:

Zona Api-api-Prepat (Avicennia-Sonneratia). Terletak paling luar/jauh atau terdekat dengan laut, keadaan tanah berlumpur agak lembek (dangkal), dengan substrat agak berpasir, sedikit bahan organik dan kadar garam agak tinggi. Zona ini biasanya didominasi oleh jenis api-api (Avicennia sp) dan prepat (Sonneratia sp), dan biasanya berasosiasi dengan jenis bakau (Rhizophora sp). 

Zona Bakau (Rhizophora). Biasanya terletak di belakang api-api dan prepat, keadaan tanah berlumpur lembek (dalam). Pada umumnya didominasi bakau (Rhizophora sp) dan di beberapa tempat dijumpai berasosiasi dengan jenis lain seperti tanjang (Bruguiera sp).

Zona Tanjang (Bruguiera). Terletak di belakang zona bakau, agak jauh dari laut dekat dengan daratan. Keadaan berlumpur agak keras, agak jauh dari garis pantai. Pada umumnya ditumbuhi jenis tanjang (Bruguiera sp) dan di beberapa tempat berasosiasi dengan jenis lain.

Zona Nipah (Nypa fructicant). Zona ini terletak paling jauh dari laut atau paling dekat ke arah darat. Zona ini mengandung air dengan salinitas sangat rendah dibandingkan zona lainnya, tanahnya keras, kurang dipengaruhi pasang surut dan kebanyakan berada di tepi-tepi sungai dekat laut. Pada umumnya ditumbuhi jenis nipah (Nypa fructicant) dan beberapa spesies palem lainnya.

Jadi jenis Rhizophora sp tidak mampu hidup dengan terendam air laut sepanjang hari karena jenis ini merupakan jenis yang hidup pada formasi zona yang kedua yang tidak mampu hidup dengan kadar salinitas yang tinggi.

Yang unik lagi, dalam kelompok ekosistem mangrove, muncul jenis nipah yang sesungguhnya bukan kelompok tanaman mangrove (bukan tanaman berkayu), tetapi masuk dalam kelompok mangrove karena formasinya masuk dalam zonasi keempat di belakang jenis Bruguiera sp dengan kadar salinitas yang sangat rendah. 

Siapa yang bertanggung jawab terhadap kegiatan rehabilitasi mangrove?

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah lama berkecimpung dalam rehabilitasi mangrove. Tahun 2020 menanam mangrove seluas 15.000 ribu hektare dengan nilai Rp 406,1 miliar di 34 provinsi di Indonesia.

Kementerian Kelautan dan Perikanan juga punya program rehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. KKP telah menanam 572.920 bibit mangrove pada area seluas 65,65 hektare di Kalimatan Barat dan Kalimantan Timur. KKP akan merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak agar luasan hutan mangrove di Indonesia terus bertambah. 

Sementara itu, BRGM merencanakan akan merehabilitasi mangrove seluas 600.000 hektare selama lima tahun di enam provinsi: Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Utara dan Papua Barat.

Rehabilitasi mangrove bukan pekerjaan yang mudah. Salah dalam pemilihan lokasi dan pemilihan jenis yang ditanam akan berakibat fatal dan peluang untuk hidup dan berhasil makin kecil. Mangrove memang hidup dipantai, tetapi tidak semua pantai bisa ditanami mangrove. 

Pertanyaannya bagaimana cara membagi kapling untuk rehabilitasi mangrove? Siapa komandannya? Bagaimana pertanggung jawabannya? Bagaimana peran pemerintah daerah? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, jika kita sepakat ekosistem mangrove harus kita jaga.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bagikan

Komentar

Artikel Lain