Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|24 Juni 2021

Peran Burung Mencegah Krisis Iklim

Burung bisa mencegah krisis iklim yang mengakibatkan pemanasan global. Bagaimana caranya?

PANEL ahli hukum dan sejumlah pengacara di PBB telah selesai merumuskan definisi ekosida. Menurut mereka, ekosida adalah perusakan lingkungan dalam skala besar memakai pengetahuan. Salah satu contoh ekosida adalah perburuan satwa langka yang dilindungi.

Salah satu keluarga satwa yang harus dilindungi adalah burung. Mengapa kita harus melindungi burung? Karena mereka adalah restorator alami bagi planet ini.

Studi yang dipimpin Juan González-Varo, dari Universitas de Cadiz Spanyol, dalam jurnal Nature menunjukkan kemampuan migrasi burung dengan daya jelajah jauh membuat persebaran biji pohon tersebar merata. Burung yang bermigrasi dari utara ke selatan dan sebaliknya, membuat biji tanaman tersebar di kedua belahan bumi.

Dengan menggabungkan informasi fenologis, studi González-Varo menganalisis migrasi 949 interaksi penyebaran benih antara 46 spesies burung dan 81 tanaman dari 13 komunitas hutan di Eropa.

Ia menyimpulkan, sebagian besar spesies tumbuhan (86%) di kawasan ini tersebar oleh burung yang bermigrasi ke selatan, sedangkan hanya 35% yang tersebar oleh burung yang bermigrasi ke utara. Secara filogenetik, subset terakhir benih berkerumun dalam garis keturunan yang memiliki periode berbuah yang tumpang tindih dengan migrasi musim semi.

Suhu dan iklim setempat yang akan mempengaruhi kemampuan tumbuh benih dan biji-bijian itu yang dibawa oleh burung-burung itu. Tetapi burung, dengan tanpa lelah, terus menyebarkan biji-bijian tak peduli apakah bumi dan cuacanya menerimanya.

Perubahan suhu akibat krisis iklim membuat tumbuhan juga beradaptasi dengan perubahan di sekelilingnya. González-Varo bahkan menyimpulkan bahwa masa depan bumi akan sangat tergantung pada evolusi burung yang mempengaruhi evolusi tumbuhan. 

Ketika suhu membeku di utara, burung-burung dari Rusia bermigrasi dan mencari makan di sekitar Flores, Nusa Tenggara Timur. Sebaliknya, ketika burung dari Australia juga datang ke Kepulauan Seribu di Jakarta untuk berkembang biak.

Pertukaran burung dari dua kutub bumi ini membuat persebaran biji tumbuhan dari kedua belahan bumi menjadi merata. Studi González-Varo fokus pada penyebaran benih di seluruh wilayah belahan bumi utara.

Karena bumi utara memiliki lebih banyak lahan dan gradien suhu musiman lebih curam, interaksi penyebaran benih oleh burung memiliki pola berbeda dibanding belahan selatan atau dalam sistem perairan.

Studi itu mencontohkan, burung pemakan biji dari genus Quelea bermigrasi dari selatan untuk menghabiskan musim kemarau di khatulistiwa Afrika Barat. Mereka lalu bergerak ke selatan lagi saat musim hujan. 

Kedatangan mereka di Afrika bagian selatan biasanya bertepatan dengan akhir musim hujan di wilayah ini, ketika benih rumput tahunan berlimpah. Menurut catatan redaksi Nature, temuan ini perlu penyelidikan lebih jauh apakah burung yang bermigrasi di belahan bumi selatan juga mempengaruhi redistribusi komunitas tumbuhan selama pemanasan global.

Begitu juga dengan persebaran tanaman air. Padang lamun menjadi salah satu garda depan dalam menyerap emisi gas rumah kaca di lautan. Penyebaran benih oleh migrasi burung belum mendapat penjelasan yang utuh, terutama jika memakai metode studi González-Varo dan rekan-rekannya.

Meski begitu, menurut Nature, studi ini memberikan contoh yang bagus tentang bagaimana burung yang bermigrasi membantu redistribusi tanaman ke lokasi baru yang biasanya sulit dijangkau oleh manusia. Studi ini juga menganalisis tawaran iklim yang sesuai dengan persebaran biji-biji itu.

Saat planet menghangat, menurut studi González-Varo, ada semacam mekanisme biologis dalam mengatur ulang komunitas tumbuhan di sebuah wilayah. Mekanisme ini penting untuk memprediksi distribusi spesies di masa depan sebagai bahan penting meneropong iklim dan dampak pemanasan global.

Dengan begitu pentingnya peran burung dalam mencegah pemanasan global, tak heran jika perburuan terhadapnya, masuk kategori kejahatan berat.

Burung Kepulauan Christmas yang sedang bermigrasi ke Kepualuan Seribu pada awal 2020. Terbang jauh dari pulau kecil di Samudra Hindia di selatan khatulistiwa, burung-burung ini mencari makan dan berkembang biak di kepualuan utara Jakarta (Foto: Asep Ayat)

Sebaliknya, perlindungannya akan menyelamatkan mereka sebagai penopang planet bumi. Apa yang bisa kita lakukan agar burung tetap menjadi restorator alami bagi bumi? Menyediakan rumah bagi mereka, yakni pohon.

Keberadaan burung amat tergantung pada habitat, yakni pohon. Banyak burung langka yang sensitif pada jenis dan ketinggian pohon. Jika kita menebang sebatang pohon, mungkin ada burung yang kehilangan rumah untuk hidup dan berkembang biak.

Di sekitar Taman Nasional Komodo, misalnya, burung-burung Rusia datang ke sana karena mereka menyukai pohon tinggi dan ketenangan. Ketika pohon ditebang dan kehadiran manusia memakai suara bising mesin gergaji, mereka akan pindah mencari habitat baru—kendati bagi burung, pindah menjadi sesuatu yang sulit. 

Karena itu, peran manusia dalam mencegah krisis iklim adalah menanam dan menjaga pohon. Dengan begitu, burung akan punya tempat untuk hidup dan berkeliaran menyebarkan biji di tempat-tempat yang tak bisa kita jangkau.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain