Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|29 April 2021

Burung Indonesia Bertambah Tapi Terancam Punah

Burung Indonesia bertambah 18 jenis karena pemekaran taksonomi. Sembilan jenis di antaranya makin terancam punah.

DUA kabar burung Indonesia tahun ini: bertambah 18 jenis dibanding tahun sebelumnya, tapi 9 di antaranya makin terancam punah. Menurut Burung Indonesia, organisasi pelestari burung dari Bogor, pertambahan jenis burung dalam setahun terakhir salah satunya karena pemekaran taknosomi. 

Dalam rilis 28 April 2021, Achmad Ridha Junaid dari Burung Indonesia menjelaskan bahwa pemekaran taksonomi terutama pada jenis burung cenderawasih kerah tengah (Lophorina feminina) dan perling dagu-ungu (Aplonis circumscripta) masing-masing satu jenis. Pemekaran tersebut menambah dua jenis baru dalam daftar spesies burung Indonesia hari ini.

Cendrawasih-kerah tengah sebelumnya dikategorikan sebagai anak jenis cenderawasih kerah (Lophorina superba) dan perling dagu-ungu dari perling ungu (Aplonis metallica). Menurut Ridha, keduanya dikategorikan sebagai jenis baru karena memiliki karakteristik morfologi yang berbeda dibanding kategori induknya.

Perkembangan pesat teknologi dan naiknya minat masyarakat terhadap pengamatan burung turut berkontribusi dalam perkembangan ornitologi dan konservasi. Laporan hasil pengamatan melalui observatorium sains masyarakat, seperti e-Bird, berkontribusi terhadap penambahan 16 jenis burung baru.

Burung Indonesia menyoroti satu di antaranya, yakni petrel irlandia-baru (Pseudobulweria becki) yang saat ini dikategorikan kritis atau critically endangered (CR) menurut Daftar Merah Jenis Terancam Punah Badan Konservasi Dunia (IUCN Red List of Threatened Species). Jenis ini terpantau kehadirannya di sekitar laut Halmahera, Maluku. Pengamatan para peneliti sebelumnya hanya menjumpai jenis burung ini di Kepulauan Bismarck, Papua Nugini dan Pulau Solomon.

Secara keseluruhan, berdasarkan status keterancaman, ada 179 jenis burung di Indonesia yang masuk ke dalam daftar jenis burung terancam punah secara global. Sebanyak 31 jenis di antaranya masuk dalam kategori kritis, satu langkah lagi menuju status kepunahan. Sementara 52 jenis lain masuk kategori genting atau endangered (EN) dan 96 jenis rentan punah atau vulnerable (VU).

Menurut Ridha, penambahan jenis burung adalah keberhasilan konservasi. “Tapi untuk sebagian populasi jenis burung populasinya tetap merosot di alam,” kata dia.

Penyebabnya selalu sama dari tahun ke tahun, yakni deforestasi, perburuan, dan penangkapan burung dari alam. Faktor ini terlihat pada peningkatan status keterancaman pada 9 jenis burung pada tahun ini.

Beberapa jenis yang terancam punah adalah perkici dada-merah (Trichoglossus forsteni), empuloh janggut (Alophoixus bres), empuloh pipi-kelabu (Alophoixus tephrogenys), cucak aceh (Pycnonotus snouckaerti), dan anis kembang (Geokichla interpres). Populasi empuloh janggut (foto) kini diperkirakan menurun hingga 50% di Pulau Jawa dan Bali.

Selain burung yang naik status keterancamannya, ada pula jenis yang status terancamnya menurun, seperti kowak jepang (Gorsachius goisagi), kepudang-sungu kai (Edolisoma dispar), dan bangau sandang-lawe (Ciconia episcopus). Menurut laporan IUCN pada 2020, jenis-jenis burung itu kini memiliki wilayah persebaran yang relatif luas dengan populasi relatif stabil.

Masalahnya, menurut Achmad Ridha, menurunnya kategori keterancaman tak selalu menandakan populasi burung tersebut pulih di alam. Penurunan itu, kata dia, bisa jadi karena penambahan informasi atau perbedaan dalam kriteria, seperti yang terjadi pada kowak jepang, kepudang-sungu kai, dan bangau sandang-lawe.

Misalnya, burung kepundang jawa (Oriolus cruentus) yang dimasukkan ke dalam kategori burung kurang data. Penyebabnya, kata Ridha, para peneliti jarang menjumpai jenis burung ini di habitatnya sehingga perlu penelitian lebih jauh. “Kini, kepudang jawa menjadi salah satu jenis burung dengan informasi paling minim di Pulau Jawa,” katanya.

@ForestDigest

Pandemi virus corona dan penegakan hukum bisa juga memicu menurunnya perburuan sehingga status burung di alam naik.

BirdLife International mencatat Indonesia merupakan rumah bagi setidaknya 17% jumlah jenis burung yang ada di dunia. Posisi dalam segi jumlah menempati nomor 4 terbanyak. Namun, jika dilihat dari jumlah burung endemik, Indonesia berada di posisi ke-1 negara yang memiliki jenis burung endemis terbanyak di dunia.

Hingga 2021, jumlah spesies burung endemis di Indonesia sebanyak 532 jenis. Menurut Ridha, naiknya catatan jumlah jenis endemis di terjadi pada 2020, yakni sebanyak 16 jenis. Setidaknya ada 7 jenis burung baru yang ditemukan di kawasan Wallacea. Sembilan jenis burung baru bersumber dari pemecahan taksonomi.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain