Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi|11 Juni 2021

Purun: Pengganti Polybag Bibit Pohon Ramah Lingkungan

Menanam pohon yang bisa menyerap emisi malah menghasilkan emisi jika polybag bibitnya dari plastik. Inovasi purun menjawab problem itu.

SALAH satu kegiatan inti restorasi hutan rawa gambut adalah penanaman pohon. Masalahnya, bibit pohon acap memakai polybag atau kantong bibit yang terbuat dari plastik. Alih-alih menyerap emisi, menanam pohon sejak awal menghasilkan emisi.

Salah satu produsen emisi adalah pembuatan plastik karena bahan baku produk ini berasal dari minyak bumi. Sementara minyak bumi adalah sumber energi atau kekayaan alam yang tak bisa diperbarui karena akan habis jika terus dikeruk.

Di Katingan-Mentaya Project, salah satu inisiatif restorasi ekosistem di Kalimantan Tengah, kebutuhan menanam pohon sebanyak 40.000 bibit untuk restorasi 157.000 hektare. Artinya, ada 40.000 kantong plastik yang terbuang jika bibit ditampung atau dibudidayakan di polybag. Jika satu polybag beratnya 0,091 gram, setahun beratnya 3,7 kilogram sampah yang baru terurai di alam selama 300 tahun. 

Menyadari potensi emisi penanaman pohon, pengelola Katingan-Mentaya Project mengubah polybag dengan bahan ramah lingkungan dengan memakai anyaman gulma. “Idenya muncul pada 2017 ketika kami ingin menghindari polybag plastik dan bertemu pembuatan anyaman,” kata Dwi Puji Lestari, Manajer Pengembangan dan Peneliti KMP.

Pembuat anyaman itu adalah seorang perempuan di desa di sekitar konsesi KMP yang diapit sungai Katingan dan Mentaya. Di desa ini para perempuan umumnya menganyam pelbagai produk dari bahan-bahan organik. Salah satunya memakai gulma, rumput dari spesies Lepironia sp.

Ide pun muncul untuk mengajak para penganyam membuat polybag dari gulma itu. Bahan bakunya juga melimpah karena gulma banyak ditemukan di rawa gambut yang tergenang. Para staf KMP menyebutnya biodegradable atau “purun” dalam bahasa lokal.

Pada 2017 itu pula KMP memesan 10.000 kantong bibit dari perempuan lima desa di sekitar konsesi. Ada 40 perempuan yang terlibat menganyam kantong bibit ini. Dua tahun kemudian, 30% bibit di persemaian telah dipindahkan dari polybag plastik ke kantong gulma itu.

Ide ini rupanya berdampak tak hanya pada lingkungan, tapi juga ekonomi. Masyarakat penganyam mendapatkan penghasilan tambahan.

Harganya memang relatif mahal. Satu kantong purun harganya Rp 1.000, lima kali lipat dari polybag plastik. “Tidak masalah karena ongkos lingkungan karena plastik pasti lebih besar dari lima kali lipat,” kata Puji. KMP sedang mengembangkan purun agar lebih tahan lama agar tak hancur sebelum bibit pohon bisa dikembangbiakkan di alam.

Masalah lain adalah penggantian kantong plastik dengan purun hanya bisa dilakukan secara bertahap. Proses produksinya relatif lambat karena bio-bag sepenuhnya dibuat dengan tangan. Apalagi bio-bag ini hanya bisa bertahan sekitar tiga bulan, sedangkan tanaman paling tidak harus tinggal di persemaian lebih dari enam bulan.

Karena bahan kantong biodegradasi banyak tersedia di lingkungan rawa, menurut Puji, replikasinya dimungkinkan untuk diterapkan di daerah lain dengan ekosistem serupa. Selain itu kantong biodegradasi ini juga bisa dibuat dari bahan nabati lain seperti pandan, bambu, atau gulma lain yang mengandung serat padat. 

Dengan mengubah polybag ke purun atau kantong bibit ramah lingkungan, KMP setidaknya sudah menghindari emisi akibat pemakaian polybag plastik. Tak hanya dalam pembuatannya, setelah jadi sampah, plastik juga akan menguapkan emisi metana—gas rumah kaca yang berbahaya mencederai atmosfer kita.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain