Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|18 Mei 2021

Diet Energi untuk Mitigasi Krisis Iklim

Studi ini mengingatkan bahwa pengurangan emisi melalui alih teknologi menimbulkan banyak risiko dalam mitigasi krisis iklim. Diet energi lebih berkelanjutan.

PARA ahli di Panel antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), lembaga PBB, telah merumuskan skenario kompleks dengan lebih dari 200 permodelan dalam integrated assessment model (IAM) untuk panduan mitigasi krisis iklim. Targetnya mencegah suhu bumi naik 1,50 Celsius pada 2050 dibanding masa praindustri 1800-1850.

Proposal yang ditawarkan pada ahli dalam Perjanjian Paris 2015 adalah mengurangi emisi karbon. Selain reforestasi, melindungi keragaman hayati, caranya melalui alih teknologi untuk mengerem laju produksi gas rumah kaca akibat pemakaian energi fosil. Cara-cara ini diklaim sebagai solusi menang-menang dengan tetap menumbuhkan ekonomi.

Lima tahun setelah proposal itu, sebuah studi di jurnal Nature Communications mengkritik mitigasi ala IPCC karena mengabaikan satu hal pokok yang tak tersentuh dalam semua model itu: dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. “Mengurangi karbon dioksida begitu saja adalah kontroversial dan perubahan teknologi yang disarankan belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Lorenz T. Keyßer dari Departemen Ilmu Sistem Lingkungan ETH Zurich Swiss dan Manfred Lenzen dari University of Sydney Australia. 

Seperti pernah ditulis Vaclav Smil, membangun turbin untuk menghasilkan listrik dari tenaga angin juga tak ramah lingkungan. Teknologi angin menjadi cara baru dalam teknologi energi untuk menggantikan bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara. Tapi membuat turbin besar memerlukan logam, plastik, aluminium yang menghabiskan material yang digali dari bumi juga.

Dilema mitigasi krisis iklim bukan hal baru. Daftarnya bisa kita tambah dengan memasukkan etika hingga tinjauan filosifis. Seperti ditunjukkan dalam Seaspiracy, sutradara Ali Tabrizi akhirnya mengambil kesimpulan ekstrem dengan menganjurkan tak makan ikan untuk menghentikan eksploitasi laut yang berlebihan. Peter Singer mengajarkan veganisme untuk menghentikan emisi gas rumah kaca dari peternakan.

Meratapi dilema tak menyelesaikan problem besar yang kita hadapi saat ini, yakni keadaan bumi diambang kehancuran akibat aktivitas manusia. Keyßer dan Lenzen menawarkan satu cara yang paling tidak merusak dan lebih pasti dibanding saran alih teknologi yang ditawarkan para ahli di IPCC. Mereka membandingkan proposal ini dengan model PBB itu.

Proposal baru itu bernama “degrowth” atau menurunkan pertumbuhan. Sebetulnya ide ini tak baru-baru amat. Peter A. Victor dari York University Kanada sudah menulis di jurnal Ecological Economics pada 2011 tentang ide ini, meski tak sekompleks yang dihitung oleh model Keyßer dan Lenzen.

Bahkan mengerem pertumbuhan dengan kembali ke teknologi madya dan kearifan lokal menjadi topik hangat tahun 1970-an, terutama setelah para Club of Rome menerbitkan peringatan bahaya kapitalisme dan industrialisasi. Di Indonesia, salah satu pelopornya adalah Sudjatmoko, pemikir sosial yang meminta pemerintah tak menciptakan industrialisasi dan jor-joran membuka investasi asing.

Degrowth biasanya dikaitkan atau diukur melalui jejak ekologi. Satuannya global hektare (gH), jumlah produksi biologi dan kapasitas bumi termasuk penyerapan sampahnya. Rata-rata jejak ekologis global per kapita penduduk negara maju sebanyak 6,4 global hektare, sementara negara berkembang hanya 1 global hektare per orang. Artinya, untuk memenuhi kebutuhan makan setahun, kita butuh 1 hektare lahan.

Bagi negara yang tinggi konsumsi dagingnya, jejak ekologi mereka akan tinggi karena peternakan membutuhkan lahan luas ketimbang makan sayuran. Begitu juga negara yang menghabiskan listrik banyak memiliki jejak ekologi yang besar. Sebab, kini 63% energi masih memakai fosil yang menggali bumi dan menghasilkan emisi.

Karena itu, dari perhitungan Peter Victor, skenario degrowth lebih manjur ketimbang pertumbuhan rendah karbon apalagi skenario tanpa mitigasi (business as usual). Dalam skenario Victor, gas rumah kaca akan turun hingga 80% dibanding produksi emisi 2010 pada 2035. Dalam skenario IPCC, untuk menekan kenaikan suhu bumi di bawah 1,5C dunia perlu menurunkan emisi hingga 45%. 

Skenario Keyßer dan Lenzen tak beda jauh. Karena membandingkan dengan skenario alih teknologi dari IPCC targetnya adalah mengurangi emisi sebanyak 45% pada 2050. Dari empat parameter yang mereka pakai, skenario degrowth jauh lebih masuk akal ketimbang yang maksimal hanya bisa menurunkan emisi sebanyak 40% pada 30 tahun mendatang.

Dengan risiko ketidakpastian dan dampaknya yang belum banyak diulas oleh banyak riset, menurut Keyßer dan Lenzen, transisi teknologi memiliki risiko yang belum terpetakan. Sehingga memunculkan ketidakpastian terutama mengukur keberhasilannya. Apalagi, belum memasukkan unsur biaya dan jenis gas rumah kaca lain selain CO2 yang menjadi target pengurangan.

Diet energi

Skema degrowth pada dasarnya mengurangi produksi dan konsumsi, termasuk diet energi. Dalam skenario degrowth2050, rata-rata konsumsi energi per kapita antara penduduk di belahan bumi utara dan selatan mesti sama sebanyak 30 gigajoule per tahun.

Saat ini ada ketimpangan pemakaian energi di negara utara yang kaya dan maju dengan penduduk negara di selatan yang miskin dan berkembang. Data tahun 2017 menunjukkan konsumsi energi per kapita penduduk kaya sebanyak 119 gigajoule per tahun sementara penduduk negara berkembang hanya 35 gigajoule per tahun.

Menurut Keyßer dan Lenzen, diet energi jauh lebih berkelanjutan karena bisa sekaligus mewujudkan keadilan iklim untuk pelan-pelan menuju nol emisi. Tantangan proposal ini adalah kemauan politik. Para politikus tentu akan menimbang usul ini karena tak populer. Menyuruh konstituen mengurangi kesenangan dan keinginan adalah bunuh diri politik.

Menganjurkan mengurangi pemakaian energi jelas seperti seruan Ali Tabrizi berhenti makan ikan untuk menghentikan eksploitasi berlebihan ekosistem laut dan perairan.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain