Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|06 April 2021

Film Netflix Seaspiracy: Problem Etis Makan Ikan

Film dokumenter Netflix Seaspiracy mengingatkan sikap etis kita pada eksploitasi laut. Benarkah berhenti makan ikan jadi solusi?

HARI ini, 6 April 2021, adalah Hari Nelayan Nasional. Kini, menurut data Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, jumlah nelayan tradisional Indonesia tinggal 2,2 juta orang, terus menyusut karena tersisih oleh industri perikanan besar, seperti cerita film dokumenter Netflix yang baru meluncur, Seaspiracy.

Film ini segera membuat heboh karena kesimpulannya yang menohok: berhenti makan ikan. Sutradara Ali Tabrizi membuat kesimpulan ini dengan menghimpun pendapat para ahli laut dan maritim serta menginvestigasi betapa jahatnya manusia yang terlibat dalam industri perikanan global.

Selama 1,5 jam, sutradara muda asal London ini mengeksplorasi kejahatan laut yang ditopang oleh industri raksasa, LSM, pemodal besar, hingga mitos dan pemahaman umum bahwa hewan laut adalah sumber protein hewani terbaik. Hasilnya adalah eksploitasi laut gila-gilaan.

Tabrizi memulai ceritanya dari Teluk Taiji di Jepang selatan. Di sini para nelayan menggiring hiu dan paus ke teluk lalu membantainya setiap pagi. Para nelayan hanya mengambil siripnya untuk dikirim ke Cina karena restoran di sana menjadi konsumen terbesar. 

Tak ada alasan meyakinkan akan bisnis sirip hiu. Dari seorang aktivis laut, Tabrizi mendapatkan penjelasan bahwa hiu dan lumba-lumba dibantai bukan karena nilai ekonominya, melainkan karena mereka memakan terlalu banyak ikan kecil. Dengan kata lain, hewan lucu tak berdosa itu dianggap pesaing oleh para nelayan Jepang.

Nilai bisnis ikan sebenarnya adalah ikan tuna sirip biru, ikan termahal di planet ini. Untuk mendapatkan ikan ini para nelayan memakai pukat besar sehingga tak hanya tuna yang terjaring, melainkan hiu, paus, dan lumba-lumba. Hewan-hewan yang terjaring itu kemudian mati dan dibuang ke laut begitu saja.

Tak berhenti hanya di situ, industri perikanan—yang legal maupun ilegal—adalah produsen sampah jaring plastik terbesar. Tabrizi menemukan data bahwa sampah plastik di laut yang terbanyak bukan sedotan atau bungkus plastik. Meski mereka turut meracuni laut, tapi sampah paling mematikan satwa liar di sana adalah jaring plastik yang dibuang para nelayan, dengan volume lebih dari 51%.

Jaring tak hanya menjerat hewan laut tapi juga meracuni alga dan karang dari mikroplastik yang terlepas. Mikroplastik lalu dimakan ikan dan ikan itu kemudian berakhir di meja makan kita, menumbuhkan kanker, memancing pelbagai sel ganas di tubuh manusia.

Industri pengolahan ikan juga mengirimkannya ke toko-toko. Sebelum itu, untuk kebutuhan marketing dan melayani keyakinan massal akan bisnis perikanan berkelanjutan, kemasannya mendapat label lestari dari lembaga sertifikasi, yang pengawasnya bisa disuap dan tak mengaudit dengan benar.

Seperti di industri kehutanan, bisnis sertifikasi perikanan adalah bisnis yang menggiurkan sehingga mereka bisa memodali LSM kelautan yang menyerukan “ayo makan ikan karena industrinya tak membunuh hiu dan paus". Organisasi LSM sengaja tak menyerukan dan menaruh fokus pada advokasi sampah jaring ikan karena pemodalnya adalah industri perikanan. Mereka berhenti sekadar mengampanyekan stop memakai plastik.

Kait-kelindan itu tak berhenti sampai di sana. Tabrizi menelusuri lebih jauh praktik gelap industri perikanan dengan memotret para anak buah kapal. Tak hanya mendapat gaji kecil, mereka juga dijadikan budak di sana. Penyiksaan dan pembunuhan adalah cerita pilu di kapal-kapal perikanan.

Maka, jika industri perikanan membahayakan laut dan manusia, apakah ia bisnis yang berkelanjutan? Tabrizi terdorong untuk melacak konsep itu. Setelah bertanya ke banyak ahli dan aktivis, ia menyimpulkan tak ada metode perikanan apa pun yang tergolong lestari. Tapi ia setuju dengan seorang pemburu paus yang mengatakan bahwa memburu paus secara tradisional tak sama dengan membunuh ayam atau sapi.

Perburuan paus hanya dilakukan sesekali dan dagingnya dimakan oleh banyak orang. Satu ekor paus sama dengan 200 ekor ayam. Yang satu hanya membunuh satu nyawa, yang satunya membunuh ratusan nyawa. Mana yang lebih tak beretika? Ini pertanyaan paling penting dalam Seaspiracy.

Pada akhirnya, Tabrizi harus memilih: setuju dengan pemburu paus dari Kepulauan Faroe itu atau kembali jeri pada industri gelap perikanan besar? Ia coba meyakinkan dilema itu dengan bertanya kepada ahli gizi: apakah benar manusia membutuhkan daging ikan? Apa yang terjadi jika semua manusia berhenti makan ikan?

Empat orang ahli menjelaskan sesuatu yang mengejutkan dan bertentangan dengan keyakinan umum. Seorang dokter gizi mengatakan jika kita berhenti makan ikan kita akan terbebas dari segala penyakit. Sebab, zat kimia dari darat paling mudah mengontaminasi hewan laut. Seorang ahli lain mengatakan bahwa ikan bukan sumber omega-3, asam lemak terbaik bagi tulang, jantung, dan otak manusia.

Omega-3 diproduksi oleh alga di dasar laut, sama seperti tumbuhan dan kacang-kacangan memproduksi asam lemak yang sama di darat. Ikan memakannya dan karena itu kita menyangka zat itu dikandung oleh mereka.

Maka jika tak ada satu pun nilai positif dalam pengelolaan ikan, untuk apa kita mengonsumsinya? Salah satu cara menghentikan konspirasi laut adalah dengan cara menyetop permintaan dalam siklus bisnis ini. Akankah ajakan ini bergaung dan jadi solusi menghentikan kerusakan laut, penghasil oksigen dan penyerap emisi karbon terbesar serta ekosistem utama penopang bumi? 

Tak ada jawaban pasti. Apalagi rantai makanan adalah hukum alam. Dengan manusia yang menempatkan diri sebagai predator tertinggi, konflik dengan mahluk hidup lain akan terjadi sepanjang umur spesies ini. Keserakan dan kesenangan membuat manusia berkonflik dengan mahluk lain, seperti temuan Ali Tabrizi di film Netflix Seaspiracy yang bisa Anda tonton di Hari Nelayan Nasional hari ini.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain