Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|06 Maret 2021

Semangat Belajar Petani Perhutanan Sosial

Pelatihan online perhutanan sosial dibuka kembali. Para petani Bengkulu menempuh medan sulit untuk menimba pengetahuan.

PEMBUKAAN pelatihan Peningkatan Kapasitas Petani dan Pendamping Perhutanan Sosial Pola Padat Karya gelombang II angkatan 4, 5, dan 6 dimulai tanggal 2 Maret 2021. Saya menjadi pengajar bagi anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Harapan dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Jaya Abadi Desa Tanjung Kemenyan, Bengkulu Utara dan Bengkulu Selatan.

Lokasi pelatihan di Argamakmur, ibu kota Kabupaten Bengkulu Utara, di rumah salah satu pendamping. Media belajar memakai Zoom. Saya memberi pembekalan soal bagaimana merancang bisnis perhutanan sosial hingga membuat rencana kerja usaha. Tapi sepanjang pelatihan, justru saya yang banyak belajar dari mereka.

Untuk bisa mengikuti pelatihan tepat waktu, para petani harus keluar kampung satu hari sebelumnya. Selain waktu tempuh 2,5-3 jam, jalan umumnya tanah yang licin, tanjakan, dan turunan. Hujan membuat perjalanan bisa sampai 5 jam. Dengan catatan sepeda motor tidak rusak atau ada kendaraan lain yang mogok karena terjebak lumpur. 

“Kami harus menyiapkan segalanya dengan teliti, dari mengecek ban sepeda motor, mesin, bahan bakar. Kalau perlu bawa cadangan. Selain itu makanan ringan dan air minum untuk berjaga-jaga kalau ada halangan. Sepanjang perjalanan tidak akan menemukan tempat makan selain kebun karet, durian, jengkol dan sawit,” kata Nyoman Mudiarta, pendamping di Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Bengkulu Utara, yang lima tahun terakhir bolak-balik ke desa itu.

Basirun, Ketua KTH Tunas Harapan, menceritakan sampai menjelang penutupan 5 Maret 2021 ia harus menerapkan strategi “lesperinggo” (teles di pe garing di nggo, basah dijemur dan kalau sudah kering dipakai lagi) karena sejak awal minggu hanya membawa dua lembar pakaian ganti. Karena susah membawa banyak barang dengan kendaraan roda dua menempuh medan ekstrem itu.

Agar bisa sampai ke lokasi pelatihan, para peserta dari Bengkulu Utara dan Selatan mesti berinovasi. Mereka mengikat ban sepeda motor dengan tali rami yang besar atau tambang. Bahkan jika jalan rusak parah karena genangan air, mereka mengikat ban dengan rantai. Masalahnya, bekas rantai mengular dan menahan air hujan. Akibatnya jalan jadi bubur lumpur.

Kondisi itu adalah keadaan sehari-hari yang mereka hadapi. Anak-anak mereka juga mengalaminya ketika hendak bersekolah. Atau ketika orang-orang tua membawa hasil panen kopi ke pasar kabupaten atau kecamatan. Mobil pengangkut kopi acap terbenam di dalam lumpur dan harus menunggu cuaca panas dan jalan kering agar bisa berjalankembali.

Akibatnya, harga bahan makanan mahal karena distribusi yang berat. Sebaliknya, harga komoditas kebun petani justru turun ketika sampai pasar karena ongkos angkut yang mahal.

Lain lagi cara anggota KTH Air Kiliran Desa Bandar Agung Kecamatan Ulu Mana Kabupaten Bengkulu Selatan. Untuk mencegah jalan tidak rusak akibat ban berantai, mereka gotong royong memasang pasak kayu sepanjang jalan. Jarak antar pasar sekitar 20 sentimeter. Pasak itu menahan ban dan rantai tak merusak tanah.

Miwan Toniko, pendamping KTH Air Kiliran, mengatakan teknik itu telah membantu mereka menahan harga hasil kebun. Saat panen kopi pengangkutannya jadi lebih mudah dan aman.

Difasilitasi KKI Warsi, KTH ini mendapat pelatihan pengembangan pohon asuh serta penghitungan cadangan karbon. Dengan pengasuhan pohon, mereka mendapatkan alternatif penghasilan tanpa harus merusak hutan. Pengasuhan pohon mendorong masyarakat bersungguh-sungguh menjaga hutan serta mengembangkannya secara berkelanjutan. 

Dengan pelatihan online ini mereka kian paham bagaimana skema perhutanan sosial. Sebab, di pelatihan ini mereka belajar membuat rencana kerja usaha dan perencanaan bisnis atas hasil kebun mereka.

Mereka juga saling belajar dengan kelompok lain dari kabupaten lain. Seperti anggota KUPS Jaya Abadi yang mendapatkan pengetahuan mengolah kopi santan. Sementara mereka mengajari anggota KTH Air Kiliran budidaya kopi dengan teknik sambung pucuk.

Pelatihan ini telah menyadarkan saya bahwa belajar secara egaliter lebih menyenangkan. Banyak model perhutanan sosial yang layak jadi contoh. Perhutanan sosial telah menyatukan masyarakat yang mengelola hutan negara. Pelatihan mempertemukan kearifan dan pengetahuan lokal  yang saling mengisi untuk kemajuan usaha perhutanan sosial. 

Lebih dari itu, para petani kian memahami bahwa hutan harus dijaga agar memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Pelatihan ini menjadi bukti mereka mendapatkan manfaat ketiganya: sosial, ekonomi, dan ekologi.

Dari para pendamping saya juga mendapatkan pelajaran resolusi konflik. Toteng Gunawan, yang rumahnya dipakai pelatihan, bercerita bahwa sewaktu pertama masuk ke desa-desa di Bengkulu Utara, masyarakat mencurigainya. Petugas masuk kampung adalah tanda bakal ada penggusuran.

Menurut Toteng, masyarakat sadar mereka tinggal di kawasan hutan negara, sehingga selalu ketakutan dan curiga kepada orang asing yang datang ke kampung mereka. Bisa dibayangkan, katanya, setelah menempuh perjalanan sulit, lelah, dan badan kotor serta kuyup, sampai di kampung malah dicurigai.

Jalan berlumpur di Bengkulu Utara (Foto: KTH Tunas Harapan)

Untung kepala desa serta tokoh masyarakat menerima dengan tangan terbuka dan memberikan penginapan. Seiring waktu, dengan pendekatan intens, Toteng berhasil memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa ada solusi bagi masyarakat yang berkebun di hutan negara. Yaitu, skema perhutanan sosial.

Dengan pengertian itu, masyarakat kemudian mau berkelompok, memetakan wilayah, menggali potensi serta bersepakat mengusulkan skema kemitraan kehutanan. Dengan pendampingan penyuluh, mereka bahkan mendapatkan izin perhutanan sosial. Penduduk menggarap hutan dengan menanam pelbagai komoditas. Karet, durian, jengkol, kopi, coklat, kayu bawang, gaharu dan aneka tanaman muda lainnya.

Kini masyarakat berterima kasih kepada Toteng. Izin perhutanan sosial membuat mereka tenang menggarap kebun. “Kami menganggap Pak Toteng bukan pendamping lagi, tapi sudah seperti orang tua, saudara serta guru. Karena itu kami tidak merasa canggung menginap dan belajar di rumah beliau,” kata Basirun.

Perhutanan sosial tak hanya menyatukan masyarakat di dalam hutan untuk hidup guyub. Mereka juga saling berbagi pengetahuan untuk meningkatkan taraf hidup.

Anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial

Bagikan

Komentar

Artikel Lain