Kabar Kampus | April-Juni 2018

Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa

Angle membantu artikel menjadi fokus sehingga pembaca tak kehilangan arah dalam membacanya. Angle pula yang menolong penulis menemukan benang merah dari pelbagai jawaban yang mereka dapatkan atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka buat.

Zahra Firdausi

Rimbawan suka jalan-jalan

MAHASISWA selalu dekat dengan dunia tulis menulis. Sebab mahasiswa adalah agen perubahan yang seharusnya menyampaikan ide-ide melalui tulisan atau foto atau gambar yang dimuat di media sehingga gagasan tersebut bisa tersebar dan dibaca publik. Apalagi zaman sekarang ada media sosial sehingga penyebaran ide bisa lebih independen. 

Hanya saja, media sosial adalah alat. Kontennya tetap harus dibuat semenarik mungkin. Dengan latar belakang tersebut,  mahasiswa Fakultas Kehutanan mengadakan pelatihan jurnalistik pada 15 April 2018 di Ruang Sidang Sylva Gedung Fakultas Kehutanan IPB Dramaga, Bogor.

Pembicaranya adalah Pemimpin Redaksi Forest Digest Bagja Hidayat dan Redaktur Foto R. Eko Tjahjono. Bagja, alumnus Fahutan angkatan 33, memberikan tip seputar menulis untuk media populer: bagaimana merumuskan ide, mencari bahan, riset, wawancara, reportase, hingga menyusunnya dalam sebuah tulisan yang enak dibaca. “Menulis itu diawali dengan rasa ingin tahu, penasaran, dan sedikit curiga sehingga muncul pertanyaan yang harus dicarikan jawaban,” kata Bagja. “Jawaban itulah yang harus disusun dalam tulisan sehingga menjadi informasi bagi pembaca.”

Sebelum menulis, kata Bagja, pertama-tama adalah menyiapkan angle, atau sudut pandang agar tulisan menjadi fokus. Kata sebuah pepatah, tak ada hal baru di dunia ini, sebab yang baru adalah bagaimana cara kita melihatnya. Cara melihat itu penting dalam menulis. Jurnalistik menyediakan sebuah rumus kuno yakni 5W+1H: what, when, where, who, why, dan how. Untuk memudahkan membuat angle, pakai salah satu pertanyaan itu.

Misalnya, dalam Forest Digest edisi 07 ini. Tema utamanya adalah soal gambut. Gambut tentu banyak sisi yang bisa kita lihat. Redaksi memilih satu angle yakni: Ke mana arah kebijakan pengelolaan gambut? Dari satu pertanyaan ini muncul banyak pertanyaan yang jawabannya dicari melalui riset dan wawancara dengan narasumber yang relevan dan kompeten. Riset dan jawaban mereka lalu diramu menjadi tulisan seperti tersaji dalam beberapa artikel di edisi ini.

Angle membantu artikel menjadi fokus sehingga pembaca tak kehilangan arah dalam membacanya. Angle pula yang menolong penulis menemukan benang merah dari pelbagai jawaban yang mereka dapatkan atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka buat. Setelah bahan terkumpul, saatnya membuat outline atau kerangka tulisan agar bahan-bahan tersebut tidak mubazir dan tersusun dengan informasi yang penting dan relevan. Membuat outline adalah menyisir bahan yang perlu dan tidak perlu dalam menunjang angle.

Sementara Eko, alumnus Fahutan angkatan 25, membedah soal teknik fotografi yang bermakna dan komunikatif dengan pembaca. Menurut Eko fotografi jurnalistik merupakan gambar yang memiliki nilai berita atau bisa menjadi berita itu sendiri, melengkapi suatu berita dan dimuat dalam suatu media.

Dalam teknik fotografi jurnalistik beberapa hal yang harus diperhatikan adalah kuasai substansi dari tema dan narasi, kuasai trik fotografi dan kenali alat yang dipakai, selalu siap merekam momen, menguasai software pengolah foto yang umum dipakai, dan selalu memakai kerangka berpikir yang bersifat fotografi. Sehingga foto jurnalistik tak semata indah dari segi komposisi dan teknik, tapi juga mengandung informasi yang tak terkatakan secara lisan atau tersurat secara tulisan.

Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga pukul 14 ini dihadiri 30 mahasiswa. Mereka langsung diminta mengamalkan pengetahuan menulis dan foto dari pelatihan tersebut dengan mengirimkan artikel dan foto ke panitia. Redaksi Forest Digest akan menilai artikel dan foto tersebut dalam sebuah evaluasi agar mereka paham kekurangan dan kelebihan karyanya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.