Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|28 Desember 2020

9 Buku Pilihan Kebijakan Publik

Buku-buku yang membicarakan kebijakan publik dari perspektif keberlanjutan. Berguna untuk menghindari bias dan mengenali konflik kepentingan.

BUKU-buku yang saya baca pada 2020 mengungkap fakta dan jalan pemikiran mengenai berbagai hal terkait tata pemerintahan dan lingkungan hidup. Seperti membuka cermin, yang tampak di sana adalah berbagai wajah, sesekali wajah kita, entah sebagai bagian dari solusi atau masalah. Mungkin salah satu buku atau beberapa di antaranya telah Anda baca.

Economics and Sustainability: Social-ecological perspective. Karl Bruckmeier, professor Sekolah Tinggi Ekonomi di Moskow, membahas kelumpuhan ekonomi agregat secara global. Bahkan transformasi ekonomi dan reorganisasi sistematisnya tak berdaya akibat konflik kepentingan, kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan dan konsekuensi pertumbuhan ekonomi, serta minimnya pengalaman dan pengetahuan praktis tentang bentuk-bentuk pertumbuhan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang terkunci oleh “perbaikan teknis” terbukti hanya menjadi ilusi rekayasa solusi pelbagai kemerosotan sosial-ekologis. Sebab, perbaikan teknis tak mengubah hubungan kekuasaan politik dan ekonomi dengan jenis-jenis penggunaan sumber daya yang menjadi masalahnya. Hal itu antara lain karena wacana ekonomi tidak mengikuti perdebatan wacana ekologi. Ekspektasi bahwa kerugian alam bisa disubstitusikan dengan bentuk modal lain—seperti modal buatan, modal sosial, dan teknologi—ternyata juga hanya ilusi. Keberlanjutan manajemen sumber daya alam terkait erat dengan tata kelola dan kebijakan politik.

Blind Spot, Biased Attention and the Politic of Non-coordination. Disunting Tobias Bach dan Kai Wegrich, buku ini menguraikan peran birokrasi yang menentukan mati hidupnya kebijakan publik. Sayangnya ada berbagai bias dalam kerja-kerja birokrasi. Antara lain, bias persepsi selektif akibat birokrat hanya fokus pada tugasnya sendiri, bias efek yang tidak diinginkan, bias politik yang selalu mementingkan lembaganya sendiri sehingga tidak sinergi dengan lembaga lain dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, serta bias titik buta (blind spot) yang membuat birokrasi keliru menentukan masalah, sehingga keliru pula membuat kebijakan sebagai solusi. Kita jarang membahas peran birokrasi, padahal kinerja mereka menentukan efektivitas peran kebijakan publik secara keseluruhan. Apakah itu soal sumber daya alam, pendidikan, perdagangan, pangan, kesehatan. Semua itu menjadi kepentingan orang banyak yang pelaksanaannya amat tergantung pada kerja birokrasi. Buku ini memberi teladan dan menuntun kita mengenali bias-bias itu sehingga pembuat keputusan politik dan para birokrat akan menghindarinya ketika menyusun kebijakan publik. 

Green Swans: The Coming Boom in Regenerative Capitalism. John Elkington mengeksplorasi bentuk-bentuk baru kapitalisme yang cocok di masa depan. Ia meramalkan krisis ekonomi dunia melalui sebuah pertanyaan: apakah demokrasi dan keberlanjutan bisa hidup berdampingan dengan kapitalisme? Menurut dia, akhir yang mungkin adalah kapitalisme akan goyah atau hancur total. Kapitalisme bisa muncul kembali jika ia menjadi bentuk yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan keadilan sosial. Elkington menyebutnya “kapitalisme regeneratif”. Caranya,perusahaan-perusahaan yang menjadi sokoguru kapitalisme itu memiliki dan mewujudkan sistem nilai yang memastikan bahwa tujuan bisnis berkontribusi pada kemajuan masyarakat. Shared value, apalagi shareholder value, tulis Elkington,bukan pemandu tata kelola perusahaan yang memadai untuk mengarungi tantangan dunia saat ini dan mendatang.

Science on the Ropes: Decline of Scientific Culture in the Era of Fake News. Carlos Elías membahas sains sebagai ilmu alam, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Menurut dia, menurunnya pemakaian STEM turut meningkatkan gangguan dalam hubungan sosial manusia berupa kemunculan hoax dan berita palsu. Berita palsu dan disinformasi akan mengancam dan mengikis budaya masyarakat yang secara alamiah mencari kebenaran melalui rasionalitas dan metode ilmiah. Universitas serta pengaruh media telah memupuk budaya selebritas yang menempatkan emosi di atas rasionalitas. Kontrapengetahuan ini melahirkan “pandemi kredibilitas”. Literatur postmodernisme, yang melampaui sekadar ilmu fisika dan kimia, turut mendorong munculnya berita palsu—yang disebut Presiden Donald Trump sebagai fakta alternatif—yang menurunkan, sekaligus sebagai akibat, memudarnya minat orang muda pada ilmu-ilmu eksakta.

Philosophy of Science for Scientists. Ironi dalam dunia ilmu pengetahuan. Lars-GÓ§ran Johansson menunjukkan bahwa artikel-artikel di jurnal ilmiah tak dibaca publik, selain oleh penilai dan editor jurnal itu sendiri. Penelitian dan tujuan penerbitannya di jurnal ilmiah hanya sekadar memenuhi karier akademik para penulisnya. Akibatnya, para peneliti tidak berusaha keras menyebarkan hasil kajian mereka untuk khalayak yang lebih luas, dengan bahasa populer yang mudah dicerna orang banyak. Menurut Johansson, para peneliti mesti mengubah paradigma ini, agar hasil-hasil penelitian tak berakhir sekadar di jurnal sebagai kebanggaan akademis yang tak sampai ke khalayak untuk turut menjadi percakapan masyarakat.

Social Sustainability, Past and Future: Undoing Unintended Consequences for the Earth’s Survival. Buku ini mengingatkan agar kita menghindari jebakan sains yang menyajikan argumen linier tentang sebab dan akibat dalam fenomena publik. Sebab, sistem sosio-lingkungan itu dinamis. Manusia menjadi bagian dari sistem yang kompleks sehingga perlu kita pelajari dalam kerangka teoretis yang sesuai dengan fenomena tiap peristiwa. Menurut Sander der Leeuw, teka-teki masa depan adalah masalah sosial, bukan lingkungan. Masyarakat modern menciptakan degradasi lingkungan saat ini karena kita tak memakai cara pikir yang relevan untuk masalah-masalah tersebut. Tanpa cara berpikir yang relevan, penduduk bumi akan kehilangan pendorong transformatif yang memainkan peran penting menuju pembangunan berkelanjutan.

The Future After COVID: Futurist Expectations for Changes, Challenges, and Opportunities After the COVID-19 Pandemic. Jason Schenker menganalisis masa depan dunia setelah pandemi virus corona covid-19. Ia menguraikan, terutama, hal-hal yang terkait dengan kepemimpinan dan keberlanjutan yang berubah karena pandemi. Misalnya, cara orang bekerja. Menurut dia, seorang pemimpin atau pengelola suatu unit kerja perlu tahu bagaimana memproyeksikan kepemimpinan mereka. Krisis akibat pandemi membawa nilai positif dalam kepedulian kita terhadap keberlanjutan dalam investasi global. Pandemi telah mengubah prediksi. Karena itu penting memahami tren jangka panjang untuk menentukan skenario dan asumsi ketika rencana terhalang oleh kejadian luar biasa yang mematikan. 

Conservation Research, Policy and Practice. Para peneliti merasa berada di menara gading sehingga mereka menyampaikan bukti hasil telaah untuk para pengambil kebijakan. Menurut buku ini, cara pikir seperti itu ketinggalan zaman. Di zaman tsunami informasi, cara baru agar hasil-hasil ilmu pengetahuan turut mempengaruhi kebijakan adalah menjemput bola. Para peneliti juga harus memetakan siapa yang harus didekati untuk menunjukkan bukti ilmiah agar kebijakan terpengaruh secara empiris. Sebab, para pembuat kebijakan acap hanya menyandarkan keputusan pada bukti yang tak dicari dan tak menguji dampaknya.

Tujuh Nasihat untuk Peneliti Konservasi

A Bias Radar for Responsible Policy-Making Foresight-Based Scientific Advice. Selain bias titik buta, Lieve van Woensel menunjukkan banyak bias lain yang mempengaruhi pembuatan keputusan. Ada “bias penelitian” (dari sampling, eksperimen, pelaporan, sponsor). Ada “bias budaya dan nilai” (ideologi, kelompok, bias konfirmasi, bias stereotip), “bias perhatian” (visi, blind spot, target), “bias minat” (bias untuk diri sendiri, bias taktis, bias konflik kepentingan), “bias ketersediaan (bias media, bias pengetahuan, bias otoritas)” dan “bias asosiatif (bias romantis, bias etis)”. Woensel memprovokasi kita dengan memberikan cara-cara baru mendorong publik percaya kepada sains, yaitu dengan menciptakan ilmuwan yang tepercaya, aktivis yang tepercaya, dan media sosial yang menuntun opini publik dalam sebuah topik kontroversial. Dengan bertumpu pada pengetahuan, kebijakan akan punya basis ilmiah sebelum diterapkan mengatur hidup orang-seorang.

Guru Besar Kebijakan Kehutanan Fakultas Kehutanan IPB. Bukunya yang terbit pada 2018, "Merangkai Stanza Lagu Kebangsaan", berisi esai-esai replektif tentang kebijakan, politik pengelolaan sumber daya alam, dan kuasa pengetahuan

Bagikan

Komentar

Artikel Lain