Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi|01 Desember 2020

Hasil Manis Gula Semut

Penduduk di Desa Besawang di Kalimantan Tengah mengembangkan gula semut. Mereka berhenti membalak kayu di hutan yang risikonya lebih besar.

DI siang mendung pertengahan bulan ini, Iyan dan Surai duduk di gazebo pusat latihan petani gula kelapa Desa Basawang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Mereka menunggu jadwal menyadap nira kelapa pada sore. Sambil menunggu itu keduanya mengingat-ingat kapan memulai usaha gula semut pada 2018 yang kini menjadi tumpuan hidup banyak keluarga di desa itu.

Keduanya kompak mengakui pada awalnya pekerjaan menyadap nira kelapa dan mengolahnya menjadi gula sungguh berat, baik secara fisik maupun mental. Dari hal sepele, misalnya, mengatasi rasa jeri tiap kali memanjat pohon kelapa setinggi empat meter. “Sampai gemetar kaki-kaki ini,” kata Iyan. “Gemetarannya sampai satu bulan.”

Selama bulan pertama, Iyan dan Surai mengadaptasikan tubuh mereka terhadap pekerjaan yang baru ini. Kulit telapak kaki mereka jadi tebal karena sering memanjat. Tidak jarang otot-otot di kedua tungkai kaki mereka terasa panas setiap kali selesai menyadap nira.

Desa Basawang tidak termasuk ke dalam wilayah konsesi Katingan-Mentaya Project (KMP).  Tapi PT Rimba Makmur Utama, pengelola KMP, memilihnya menjadi lokasi pusat latihan pembuatan gula kelapa sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat.

Tadinya, pusat latihan akan dibangun di salah satu desa di dalam zona proyek. Tapi karena terkendala birokrasi, manajemen Rimba Makmur memutuskan menjadikan Basawang sebagai lokasi pelatihan. “Selain karena berada di tengah perkebunan kelapa milik penduduk, akses jalannya juga cukup baik,” kata Hirason Horuodono, Manajer Pengembangan Bisnis KMP yang mengawal proyek pelatihan produksi gula kelapa ini sejak awal.

Hirason membenarkan kisah Iyan dan Surai, bahwa pekerjaan produksi gula kelapa tidak m. Butuh niat kuat, ketekunan, dan kedisiplinan. Pola pekerjaannya rutin. Setiap pagi dan sore penduduk harus memanjat dan menyadap nira. “Tidak bisa hari ini disadap, besok tidak. Tidak akan ada hasilnya. Niranya tidak akan keluar,” kata Hirason. Selain itu, agar nira keluar, ada perlakuan khusus terhadap bunga kelapa di tiap pohon selama kurang lebih seminggu sebelum disadap.

Dengan pola dan beban kerja seperti itu, Hirason mengaku tak heran saat program pelatihan mulai ditawarkan, animo penduduk sedikit. Dari sekitar 18 orang yang diajak untuk melihat-lihat fasilitas pusat latihan, hanya beberapa orang yang memutuskan untuk ikut dalam program ini.

Satu hal yang membantu Hirason menyosialisasikan pembuatan gula kelapa ini adalah faktor sejarah dan budaya. Penduduk desa umumnya keturunan Jawa-Madura, yang sudah memiliki pemahaman bahwa selain tebu, kelapa juga bisa diolah menjadi orang-orang tua. Selang waktu berjalan, penduduk mulai tergoda ikut setelah petani angkatan pertama mulai bisa merasakan hasilnya dan pasar sudah mulai terbentuk.

Untuk program pelatihan KMP tak berjalan sendiri. Ada mitra terlibat, yakni ELF Fund sebagai donatur dan Yayasan Puter Indonesia yang berperan sebagai mentor petani, terutama dalam mendirikan koperasi yang akan menampung hasil produksi serta menjadi penghubung ke pembeli. Sementara KMP berperan dalam pelatihan penyadapan, pembuatan, dan perbaikan kualitas gula.

Setelah berjalan beberapa bulan dan petani bisa menyadap, mereka mulai merasakan hasilnya. Surai membawa pulang Rp 100.000 per hari. Sebelum ikut menyadap nira, penghasilannya tak menentu. “Saya dulunya kerja apa saja, Pak. Dari berladang hingga bertani kopra. Kadang juga masuk hutan, ambil kayu,” kata dia.

Selain harga kopra naik-turun, upah membalak hutan tak bisa menjamin pengeluaran harian maupun keselamatannya. Surai menghabiskan hingga dua pekan dalam sekali waktu di dalam hutan, menghadapi serangan nyamuk dengan berbagai ukuran, berjumpa dengan ular, hingga beruang madu yang terusik dan kelaparan. Risiko yang paling menakutkan Surai adalah bertemu polisi hutan.

Keadaan itu yang membuat Surai memilih ikut dalam pelatihan pembuatan gula kelapa, walaupun awalnya dia ragu terhadap kemampuannya memanjat pohon kelapa. “Menjadi petani gula kelapa butuh nyali dan komitmen tinggi,” kata Hirason.

Saat ini, menurut catatan Hirason, ada sekitar 70 petani gula kelapa yang tersebar di lima desa di dalam wilayah konsesi KMP maupun di luarnya. Tak semua aktif berproduksi. Faktor musim maupun ketersediaan pekerjaan lain menjadi beberapa faktor penyebabnya. Hanya sekitar 30 petani yang konsisten menyadap nira.

Di musim normal, tiap petani bisa menghasilkan sekitar 180-300 kilogram gula setiap bulan. Mereka beri nama Mentaya Sweet. Sementara di musim dengan curah hujan tinggi, produksinya turun hingga menjadi sekitar 90-150 kilogram.

Untuk memastikan konsistensi produksi, KMP berperan sebagai distributor utama bagi Mentaya Sweet. Tetapi secara berkesinambungan para petani juga didorong membentuk koperasi yang berperan sebagai unit usaha masyarakat.

Selain menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan keuntungan yang adil bagi petani, koperasi membuat Mentaya Sweet bisa bergerak lebih optimal untuk menjadi pemantik dan pendorong produk pangan organik yang dihasilkan warga.

“Dalam rencana kami, Mentaya Sweet akan menjadi sentra produk-produk organik yang diolah dari kelapa. Kalau petani sudah mandiri produksinya, kami cuma bantu pemasarannya yang pelan-pelan juga kami lepas untuk fokus ke pengembangan produk lain,” papar Hirason.

Surai dan Iyan bertekad terus menekuni pekerjaan ini. Mereka kapok masuk hutan dan membalak kayu. Buat mereka, menjadi petani gula kelapa lebih enak dan nyaman. “Pagi manjat kelapa lalu istirahat, baru sore manjat lagi,” katanya. Dengan pekerjaan rutin itu, hidup keluarga dengan dua anak itu tercukupi.

Artikel ini terbit atas kerja sama Forest Digest dengan Katingan-Mentaya Project.

Intisiatif restorasi ekosistem seluas 157.000 hektare di Kalimantan Tengah yang dikelola PT Rimba Makmur Utama sejak 2013

Bagikan

Komentar

Artikel Lain