Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|20 November 2020

Perempuan Lebih Rentan Terdampak Pemanasan Global

Pemanasan global berdampak pada siapa saja, dengan akibat yang tidak sama. Perempuan lebih rentan.

PEMANASAN global menyerang siapa saja, ke arah mana saja. Namun, akibatnya tak seimbang antar gender dan kelas masyarakat. Perempuan, anak-anak, orang tua, dan mereka yang miskin, paling rentan terkena dampak pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim. 

Studi yang dikumpulkan Carbon Brief, lembaga kajian yang fokus pada perubahan iklim, tentang riset dampak pemanasan global berdasarkan gender terdapat kesimpulan bahwa perempuan lebih menderita atau terkena dampak lebih serius dari pemanasan global.

Riset dari tahun 2016 menunjukkan 68% atau 89 riset menghasilkan kesimpulan perempuan paling terkena dampak paling parah. Pemanasan global berwujud musim yang menyeleweng dan wajah mengerikan berupa pelbagai bencana: rob, topan, suhu ekstrem, badai, banjir, longsor, hingga pandemi virus.

Studi yang dikumpulkan dari pelbagai negara itu menunjukkan perempuan paling menderita setelah bencana, yakni tekanan mental, kekerasan, kelaparan, terserang penyakit mematikan, hingga bunuh diri. Dalam banyak kasus yang sama, laki-laki lebih tahan terhadap berbagai dampak tersebut.

Dampak perubahan iklim terhadap laki-laki hanya dicatat oleh 23% atau 30 studi. Sisanya, 8% riset menyimpulkan dampaknya sama terhadap laki-laki dan perempuan. 

Kepada Carbon Brief, Kim van Dallen mengatakan bahwa perubahan iklim kian mendorong ketimpangan dalam banyak hal. “Ini lebih berkaitan dengan peran sosial daripada perbedaan fisiologis. Saya cenderung mengatakan perubahan iklim memperburuk ketidaksetaraan yang ada, baik itu gender atau ketidaksetaraan lainnya,” kata mahasiswa doktoral University of Cambridge ini.

Kim mencontohkan dampak perubahan iklim berupa bencana terhadap perempuan hamil. Saat bencana mereka acap kehilangan hak mendapatkan layanan kesehatan. Akses terhadap bersih dan perlindungan terhadap janin, misalnya, juga hilang karena mereka tinggal di pengungsian.

Masalahnya, laki-laki atau remaja laki-laki juga punya kerentanan yang sama. Sebanyak 30 riset mencatat remaja laki-laki dan laki-laki dewasa lebih mungkin terimbas dampak perubahan iklim—misalnya, cuaca panas yang ekstrem—karena mereka bekerja di ruang terbuka.

Pendeknya, perubahan iklim menyerang siapa saja, tapi dengan akibat yang berbeda-beda. Maka, 130 studi itu menyimpulkan bahwa pemanasan global menjadi mematikan pada kombinasi ini: perempuan miskin yang tinggal di negara miskin. Namun, menurut beberapa studi, perempuan di negara maju juga lebih rentan dibanding laki-laki.

Sebuah studi pada 2012, misalnya, mencatat saat bencana perempuan lebih banyak tewas di sembilan negara Eropa dibanding laki-laki penduduk negara-negara itu. Sementara studi di Amerika dan Australia mencatat jumlah korban bencana alam paling banyak adalah laki-laki.

Dampak pemanasan global berdasarkan gender.

Pemanasan global bukan keadaan yang masih jauh. Ia sudah nyata di depan mata. Studi dan laporan-laporan stasiun pemantauan cuaca melaporkan tahun 2020 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah. Dalam tiga juta tahun terakhir, jumlah konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mencapai jumlah tertinggi yang menaikkan suhu bumi menjadi 1,10Celsius dibandingkan tahun 1750.

Naiknya konsentrasi gas rumah kaca akibat dari naiknya emisi akibat pembakaran energi untuk memenuhi kebutuhan manusia, terutama mencapai kemajuan dan peradaban. Naiknya jumlah penduduk yang membutuhkan okupasi lahan untuk pertanian, perkebunan, dan permukiman membuat bumi kehilangan penyerap emisi berupa hutan dan pepohonan.

Di sisi lain, industri ekstraktif yang mengeksploitasi sumber daya alam secara langsung makin masif dan kian dibuka untuk menghasilkan benefit secara ekonomi. Indonesia turut dalam eksploitasi itu. Pemakaian energi tak terbarukan dari batu bara makin digenjot. UU Cipta Kerja membuka keran investasi seluasnya untuk menyerap angkatan kerja baru sebanyak 2,2 juta orang per tahun.

Sejalan dengan itu, Indonesia berjanji menurunkan emisi sebanyak 1,1 Giga ton setara CO2 pada 2030. Untuk mencapai keduanya, Indonesia mesti menempuh jalan inovasi dan model pembangunan yang ramah lingkungan: memberdayakan masyarakat, pengalihan sumber energi tak terbatas, dan cara pandang memanfaatkan sumber daya alam.

Masalahnya, UU Cipta Kerja membuat tujuan-tujuan pembangunan cenderung mengabaikan alam dan lingkungan. Sistem ekonomi yang sentralistik akan membuka peluang eksploitasi berlebihan tanpa kontrol yang membuat ancaman pemanasan global kian dekat dan datang lebih cepat.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain