Kolom | Juli-September 2018

Jiwa Korsa Fahutan Kita

Kedekatan sebagai satu corps itu menjadi penting. Ketika nanti mahasiswa Fahutan sedang di hutan dan ada masalah, mereka sudah terbiasa tolong menolong.

Dudung Darusman

Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB

SAYA masuk Institut Pertanian Bogor pada 1969, atau angkatan 6 jika merujuk pada tahun berdirinya IPB. Kuliah tingkat persiapan hingga tingkat dua di kampus Baranangsiang, baru pada tingkat III pindah ke Dramaga. Waktu itu kendaraan umum baru sampai jembatan Ciherang, sehingga untuk bisa sampai ke Dramaga mesti dilanjutkan dengan jalan kaki.

Pada zaman saya menjadi pembantu dekan III (1981-1983) ada kebijakan dari Menteri Pendidikan tentang normalisasi kehidupan kampus. Mahasiswa dan dosen dilarang punya aktivitas selain belajar dan mengajar. Jika ingin punya kegiatan organisasi harus keluar dari kampus. Padahal mahasiswa menyalurkan pemikirannya lewat organisasi tersebut. Larangan itu juga termasuk larangan kegiatan Masa Prabakti Mahasiswa atau masa orientasi, yang sekarang disebut Bina Corps Rimbawan (BCR).

Waktu itu saya menyadari betul bahwa kehutanan itu beda. Mahasiswa Fakultas Kehutanan itu disiapkan berbeda dengan lapangan yang berbeda dari fakultas lain. Sehingga saya tetap izinkan kegiatan-kegiatan itu di Fahutan. Tentu saya menghimbau agar tidak ada kekerasan atau acara yang membahayakan secara berlebihan. Tujuan saya mengizinkan semata-mata untuk membangun jiwa korsa kita. Di satu sisi saya harus meyakinkan pimpinan dekanat untuk tujuan baik itu, di sisi lain mahasiswa juga mengerti dengan kondisi tersebut. Alhamdulillah, semua bisa berjalan aman dan lancar.

Di Fahutan ada tradisi Kemping. Karena kegiatan seperti itu dibatasi, Fahutan memisahkan Kemping dengan Mapram. Saat larangan kegiatan kampus mereda, mahasiswa menguatkan kegiatan Kemping itu menjadi agenda tahunan. Karena itulah masa orientasi di Fahutan berlangsung selama dua tahun. Tapi, saya kira, kegiatan semacam BCR itu sudah ada sejak angkatan 1 bahkan sejak angkatan Universitas Indonesia.

Sejak awal sekali, pimpinan Fahutan sudah sadar kegiatan seperti Kemping itu sangat berharga bagi mahasiswa. Sampai-sampai pimpinan di rektorat kurang suka kepada Fahutan. Belakangan ada yang mengatakan bahwa sebenarnya bukan tidak suka, tapi mereka iri karena di Fahutan pembentukan jiwa korsa itu sudah menjadi tradisi. Salah satu fakultas lain di IPB kemudian melakukan pembinaan yang hampir mirip dengan Fahutan setelah mereka sadar efek baik dari pembinaan semacam itu.

Saya melihat dampak baik dari pembinaan korsa adalah mahasiswa junior hormat kepada kakak angkatan, antar mahasiswa bisa kenal satu sama lain, kompak, dengan dosen juga hormat. Di antara dosen juga seperti itu. Kami dekat tapi tetap saling hormat karena sejak mahasiswa sudah dididik dalam pembinaan. Repot memang mengadakannya, tapi di balik itu ada hal-hal positif yang tidak bisa dibentuk dengan cara lain.

Sebab kondisi di lapangan kehutanan menuntut hal-hal seperti itu. Kedekatan sebagai satu corps itu menjadi penting. Ketika nanti mahasiswa Fahutan sedang di hutan dan ada masalah, mereka sudah terbiasa tolong menolong. Pernah ada kejadian mahasiswa tersesat di Gunung Salak. Tapi mereka bisa bertahan tiga hari berkat rasa kebersamaan dalam kondisi sulit. Jika tidak ada nilai-nilai itu mungkin keadaannya jauh lebih buruk. Sehingga kegiatan itu saya rasa penting termasuk untuk meningkatkan silaturahmi.

Bagi mahasiswa junior masa orientasi atau Ospek itu memang menyebalkan. Sebagai mahasiswa junior saya pernah merasakannya juga. Salah sedikit dibentak, dihina, dan dihukum. Tapi, memang, begitulah caranya membentuk jiwa korsa. Jika ada cara lain untuk membentuk korsa dengan tujuan yang sama, mungkin perlu dicoba. Tapi saya kira cara yang tradisional itu yang berhasil.

Sebab, saya kemudian sadar bahwa di dunia kenyataan kita juga berhadapan dengan hal-hal menyebalkan seperti itu. Kalau kita bisa merasakan sakitnya maka kita juga harus dapat bertahan. Ada kakak kelas saya yang tidak sempat ikut Ospek di angkatannya, kemudian ikut di angkatan saya, karena merasa seangkatan dengan panitia, dia balik melawan. Dia habis kena hukuman sejak awal kegiatan sampai akhir. Ujung-ujungnya ia sadar untuk apa itu semua dilakukan.

Apakah sekarang jiwa korsa Fahutan sudah menurun? Saya cenderung menjawab tidak. Di zaman saya mahasiswa, yang tampak di permukaan dan yang sering ikut kumpul dalam banyak kegiatan juga tidak banyak. Tetapi bukan berarti hatinya tidak ikut. Ada istilah silent majority yang berarti sama satu pikiran tetapi dia diam. Namun yang diam tidak bisa disimpulkan bahwa tidak ada kebersamaan. Saya kira sekarang juga sama. Ketika ada acara, mungkin alumni atau mahasiswa tidak datang semua, tapi ketika ada penggalangan dana karena ada musibah, saya kira cepat sekali mendapatkannya. Artinya mahasiswa dan alumni tetap ada kedekatan dan kepercayaan.

Saya menyelesaikan studi Master dari Wisconsin, USA tahun 1984, dan lulus Doktor di IPB tahun 1989. Tahun 1989 sampai 1996 saya menjadi Dekan Fakultas Kehutanan. Selama menjabat dekan dua periode itu tidak terlalu banyak gejolak sehingga saya bisa fokus pada penataan akademik. Reformasi 1998 tidak terlalu berdampak pada kehidupan kampus. Mahasiswa memang berangkat ke Jakarta dan difasilitasi oleh pimpinan IPB.

Saat itu dosen yang doktor di Fahutan sedikit sekali. Sedangkan di Fateta sudah banyak doktor sehingga seolah-olah grade Fateta lebih tinggi. Saya betul-betul memperjuangkan itu. Ada kurang lebih 16 calon studi doktor di zaman saya yang saya programkan untuk disekolahkan. Saya berpikir tidak apa-apa membuat dosen-dosen sedikit repot dengan sekolah lagi tetapi untuk kepentingan generasi selanjutnya. Sehingga konstelasi dosen dapat berubah. Waktu itu minat orang ke Fateta, Agronomi, atau jurusan bisnis sangat tinggi. Sehingga menyedot mahasiswa yang pintar memilih ke sana.

Saya cari beasiswa dan mendapatkannya dari Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Sehingga menarik calon mahasiswa lainnya untuk melanjutkan sekolah dengan mekanisme nilai IP. Semakin tinggi nilai IP, semakin banyak juga fasilitas yang didapatkan dari beasiswa tersebut. Waktu itu Rp. 60.000 sudah cukup untuk bayar kos dan makan.

Pada masa sebelum saya menjadi dekan saya lihat mahasiswa yang masuk Fahutan dan IPB bukan yang terbaik. Dulu yang terbaik bukan IPB, melainkan UI dan ITB. Tapi semakin ke sini, saya lihat semakin bagus. Mungkin karena gizi anak sekarang lebih baik, meskipun terlihat juga mereka terlalu santai dan kurang daya juangnya.

Tapi itu pikiran selintas. Kadang saya merenungkan bahwa jangan sampai juga mereka habis tenaga untuk serius. Mungkin santai adalah cara anak sekarang agar kreatif. Bisa jadi dengan santai mereka jauh lebih berkembang dan kreatif menciptakan teknologi baru.

Ada juga yang mengatakan mahasiswa dan alumni Fahutan yang dulu kepedulian sosialnya lebih tinggi. Artinya, kepedulian mahasiswa sekarang lebih rendah. Menurut saya bisa jadi seperti itu jika mengacu pada ukuran-ukuran lama. Tetapi, jangan-jangan, sikap kurang peduli karena berdasarkan ukuran lama. Jangan-jangan anak-anak sekarang bisa menyelamatkan masyarakat justru dengan sikap mereka seperti itu karena lebih kreatif dan akrab dengan teknologi.

Saya yakin generasi sekarang jauh lebih baik dan kita tidak bisa menilai mereka dengan ukuran-ukuran lama yang sudah tidak cocok. Jika tekun dan kerja keras dipaksakan kepada mereka seperti nilai-nilai yang diterapkan kepada generasi saya, mungkin kreativitas tidak akan muncul pada generasi sekarang.

Maka, menurut saya, membangun jiwa korsa juga harus disesuaikan dengan zaman dengan tidak melupakan nilai pentingnya yakni kebersamaan, jiwa tolong menolong, dan peduli satu sama lain.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain