Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|04 Oktober 2020

Pesan Konservasi dalam Sehelai Batik

Batik yang menjadi identitas Indonesia, bisa menjadi alat diplomasi dan konservasi. Agar terjangkau, ekobatik perlu usaha konservasi.

SETIAP 2 Oktober, kita merayakan Hari Batik Nasional. Selain sebagai sumber ekonomi masyarakat dan perdagangan nasional, batik juga jadi alat diplomasi internasional. Nelson Mandela, pemimpin Afrika Selatan, menjadikan batik sebagai pakaian resminya dalam pertemuan-pertemuan dunia.

Di luar diplomasi, batik juga punya peran dalam membawa pesan lingkungan hidup dan konservasi. Bisa kita lihat dari proses pembuatan maupun motifnya.

Pembuatan batik yang ramah lingkungan menjadi mata rantai dalam produksi yang berkontribusi bagi lingkungan sekaligus mengedukasi para perajin dan pengusaha. Ada setidaknya dua aspek yang menjadi unsur penting eco-friendly batik, ‘ecobatik’, yang juga terkadang secara komersial disebut ‘green batik’.

Pertama, pewarna alam natural. Beberapa negara, seperti Jerman, melarang pemakaian bahan pewarna kimia/buatan untuk produk-produk batik yang akan masuk ke negara ini. Beberapa sumber pewarna alami yang biasa digunakan dalam produksi batik antara lain warna coklat serat kelapa atau daun teh, merah dari buah noni dan annatto, merah kekuningan dari kayu manis, kuning dari kunyit, biru dari daun indigo, dan coklat kemerahan dari kulit mangga. Limbah mangrove juga bisa menjadi bahan pewarna batik, sehingga ini juga menjadi salah satu strategi konservasi di wilayah pesisir untuk pemberdayaan masyarakat.

Sejumlah pengusaha batik di Laweyan, Surakarta, telah menerapkan prinsip produksi batik ramah lingkungan dan mendorong penanaman pohon-pohon yang menghasilkan pewarna alami ini. Kita tahu, kimono Okinawa di Jepang terinspirasi cara orang Solo membuat batik memakai pewarna alami dari kayu secang (Biancaea sappan).

Aspek ramah lingkungan yang kedua adalah pengelolaan limbah produksi. Sebelum dibuang, prinsip batik ramah lingkungan menuntut limbah diberi perlakuan sehingga tidak membahayakan lingkungan dan menyebabkan polusi.

Selain kedua aspek tersebut, batik ramah lingkungan juga menekankan penggunaan semua sumber daya secara hemat dan efisien, termasuk bahan baku, energi, dan air untuk meminimalkan limbah, jejak karbon, dan biaya produksi. Dalam siaran pers baru-baru ini, Kementerian Perindustrian berkomitmen mendukung produksi batik ramah lingkungan dengan menyediakan berbagai pelatihan dan fasilitasi bagi para perajin batik di berbagai sentra batik.

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 39/2019 juga telah mengatur secara terperinci standar industri hijau bagi industri batik, yang bisa menjadi dasar bagi pengusaha yang ingin memperoleh sertifikat industri hijau.

Sayangnya, produksi batik dengan prinsip ekobatik juga memiliki keterbatasan. Pewarna alami tidak bisa sekaya warna buatan. Selain itu, ketersediaan bahan baku pewarna alami yang tidak pasti dan lebih panjangnya proses pengolahan pewarna alami membuat biaya jadi  bengkak. Akibatnya, harga jual ekobatik relatif mahal (antara Rp 500 ribu-Rp 6 juta), sehingga hanya menjangkau kalangan tertentu, juga untuk tujuan pasar luar negeri.

Meski ekobatik tak menyentuh semua kalangan, ia tetap bisa membawa pesan konservasi lewat motif, baik dengan teknik batik tulis, batik cap, maupun kombinasi keduanya. Ada 5.849 ragam motif batik yang terdata dan dapat dilihat dari aplikasi Map of Batik (bisa diunduh dari Google Play dan Apple Store), yang keragamannya dipengaruhi oleh, antara lain, posisi geografis, budaya, dan kepercayaan masyarakat setempat.

Dalam “Sejarah Batik dan Motif Batik di Indonesia” ada penjelasan tentang perkembangan motif batik yang erat kaitannya dengan alam sekitar, yang diterjemahkan antara lain ke dalam motif tumbuhan menjalar, motif tumbuhan air, motif bunga, motif binatang, dan motif bentang alam.

Batik sebagai alat diplomasi dan kampanye konservasi.

Salah satu motif batik klasik tradisional yang menunjukkan hubungan manusia dengan hutan adalah motif alas-alasan. ‘Alas’ dalam bahasa Jawa berarti hutan. Dalam “Alas and Gunung: Their Representation in the Javanese Traditional Batik”, Guntur (2015) menguraikan bagaimana motif alas-alasan menunjukkan kedekatan budaya dan filosofi Jawa dengan hutan dan unsur alam, yaitu kombinasi dari keyakinan spiritual dan kesadaran historis dalam upaya meraih harmoni antar manusia, lingkungan, dan Tuhan.

Sementara batik tradisional tetap mempertahankan pakem membatik dengan motif klasik, dalam perkembangannya batik modern memiliki keleluasaan dalam mengikuti tren fashion atau batik ‘kekinian’, sekaligus berpotensi lebih mengakomodasi pesan-pesan konservasi. Berbagai wilayah di Indonesia juga memiliki motif-motif batik yang mewakili kekhasan daerah–termasuk dalam hal kaitannya dengan alam.

Di Lampung, batik tulis Andanan di Pesawaran menampilkan satwa endemik gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan badak Sumatera (Dicerhorinus sumatranus), berikut tumbuhan pakan alaminya, menjadi salah satu menu wisata sekaligus edukasi konservasi di sana.

Batik juga sarat dengan nilai-nilai pemberdayaan perempuan yang tak tergantikan. Di Lasem, batik memudar karena generasi muda lebih senang bekerja di pabrik. Anak-anak perempuan tak punya waktu belajar membatik kepada ibu mereka karena belajar sehari penuh di sekolah. Selain karena promosi dan modal usaha yang sulit.

Batik Randublatung, Blora, Jawa Tengah, bermotif gelondongan kayu jati.

Beberapa kali saya memberikan suvenir kemeja batik bergambar satwa langka Indonesia untuk kolega asing, dengan tambahan informasi singkat tentang status penting satwa tersebut. Mereka sangat terkesan, tidak hanya karena cantiknya corak dan warna batik khas Indonesia, tapi juga ‘cerita perjuangan konservasi’ di balik motif satwa.

Cerita konservasi perlu lebih dikemas dan dijual, untuk menambah nilai sehelai kain batik yang berpindah tangan dari perajin ke pemakainya. Selain menjadi alat diplomasi, batik juga menjadi medium gerakan konservasi.

Rimbawan tinggal di Kanada

Bagikan

Komentar

Artikel Lain