Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|22 September 2020

Bersiap Menyongonsong Pandemi Berikutnya

Laporan terbaru WWF, Living Planet Index 2020, mencatat 2/3 satwa menghilang dalam kurun 1970-2016. Kehilangan satwa membuat virus kehilangan inang dan sarang, sehingga mereka segera menginvasi tubuh manusia.

WORLD Wildlife Fund for Nature (WWF) menerbitkan laporan tahunan yang mereka sebut The Living Planet Index pada 11 September 2020. Dalam laporan yang disediakan Zoological Society of London tersebut populasi global turun 2/3 atau dua-per-tiga atau 67% penurunan dalam kurun 1970-2016 atau kurang dari setengah abad.

Populasi global yang turun adalah mamalia, burung, amfibi, reptil, dan ikan. Para ilmuwan di WWF memakai data 4.392 spesies dan 20.811 populasi untuk menghasilkan indeks tersebut. Indeks penurunan 67% adalah proporsi rata-rata populasi satwa yang diteliti selama 46 tahun tersebut. Jadi bukan angka kehilangan tiap individu.

Faktor utama penurunan satwa adalah pemakaian lahan serta perdagangan liar. Deforestasi dan pertanian tak berkelanjutan adalah penyebab lain menghilangnya satwa liar. Artinya, semua penyebab diakibatkan oleh pemakaian sumber daya alam dan cara hidup manusia, dalam menciptakan makanan, permukiman, maupun memenuhi gaya hidup.

“The Living Planet Report 2020 menggarisbawahi bahwa peningkatan kerusakan alam akibat ulah manusia memiliki dampak bencana tidak hanya pada populasi satwa liar tetapi juga pada kesehatan manusia dan semua aspek kehidupan kita,” kata Marco Lambertini, Direktur Jenderal, WWF Internasional, dalam rilis WWF.

Marco menambahkan bahwa, “Penurunan serius populasi spesies satwa liar ini adalah indikator alam sedang terurai dan planet kita memancarkan tanda peringatan merah dari kegagalan sistem. Dari ikan di lautan dan sungai hingga lebah yang memainkan peran penting dalam produksi pertanian, penurunan jumlah satwa liar berdampak langsung pada nutrisi, ketahanan pangan, dan mata pencarian miliaran orang.”

Laporan kali ini menitikberatkan pada dampak serius munculnya pandemi baru. Kemunculan virus corona adalah fakta pandemi terjadi akibat hilangnya satwa liar. Menurut Marco, jika kita tak melakukan upaya-upaya terstruktur, masif, dan terkoordinasi, penurunan satwa liar akan terus terjadi. Akibatnya, kita akan menghadapi kembali dengan pandemi yang lebih ganas di tahun-tahun mendatang.

Maka, menyelamatkan alam dan lingkungan, menjaganya dari kerusakan, adalah cara terbaik umat manusia terhindar dari penyakit ganas mematikan. Kehilangan satwa liar juga tak hanya memunculkan pandemi, juga mengakibatkan perubahan iklim.

Iklim sangat tergantung pada siklus alam. Jika satu populasi burung menghilang di suatu hutan, hutan itu akan meranggas karena kehilangan satu restorator alamiahnya yang menyebarkan biji dan kotorannya diperlukan untuk membusukkan daun serta serasah. Daun dan serasah yang tak busuk membuat cacing tidak hidup. Tanah yang kehilangan cacing akan kehilangan kesuburannya sehingga pohon tak memiliki nutrisi untuk tumbuh.

The Living Planet Report 2020 disusun oleh 12 ahli dari seluruh dunia, yang berusaha menyajikan gambaran umum secara komprehensif tentang keadaan dunia. Menurut para ahli itu, hilangnya satwa liar akibat degradasi habitat di darat karena penggundulan hutan, yang didorong oleh cara manusia menghasilkan makanan.

Spesies terancam punah yang ditangkap oleh laporan itu termasuk gorila dataran rendah bagian timur. Di Taman Nasional Kahuzi-Biega, Kongo, jumlahnya berkurang 87% pada 1994-2015. Musnahnya gorila sebagian besar karena perburuan ilegal. Di Ghana, burung beo abu-abu Afrika jumlahnya turun hingga 99 persen antara 1992-2014 karena perdagangan burung liar dan hilangnya habitat mereka.

Laporan Living Planet Index mencatat lebih detail bahwa dari 67% penurunan populasi selama 46 tahun tersebut, turunnya habitat air tawar sebanyak 84%. Ini angka penurunan populasi rata-rata paling tajam dibanding jenis lain. Contohnya populasi sturgeon, ikan purba penghasil kaviar, di sungai Yangtze Tiongkok, yang menurun 97% antara 1982-2015 karena pembuatan waduk dan dam.

“Indeks Planet Hidup adalah salah satu ukuran paling komprehensif dari keanekaragaman hayati global,” kata Dr Andrew Terry, Direktur Konservasi ZSL. “Penurunan rata-rata 67% dalam 50 tahun terakhir merupakan bencana besar, dan bukti nyata kerusakan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia terhadap alam.”

Jika manusia mengubah dalam membuat kebijakan politik dan gaya hidup, kata Terry, populasi satwa liar akan terus menurun. Akibatnya ekosistem terancam. “Dengan komitmen, investasi, dan keahlian, tren ini dapat dibalik,” kata Terry.

The Living Planet Index 2020 oleh WWF dan Zoo Society of London.

Menurut artikel Bending the curve of terrestrial biodiversity needs an integrated strategy yang terbit di Nature, para ahli dari 40 LSM dan lembaga akademis membuat model yang menjelaskan bahwa untuk menstabilkan dan membalikkan hilangnya satwa oleh manusia, hanya akan mungkin jika kita lebih berani dalam upaya konservasi dan mengubah cara kita memproduksi dan mengonsumsi makanan. Perubahan yang diperlukan termasuk membuat produksi dan perdagangan pangan lebih efisien dan berkelanjutan secara ekologis, mengurangi limbah, dan mendukung pola makan yang lebih sehat dan lebih ramah lingkungan.

The Living Planet Report 2020 diluncurkan menjelang Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-75 yang mengambil tema “Masa Depan yang Kita Inginkan”. Konferensi yang khusus membahas keanekaragaman hayati akan berlangsung pada 30 September 2020 secara virtual. Pertemuan ini penting karena akan menunjukkan seberapa serius para pemimpin dunia menunjukkan ambisi melindungi alam dan ekosistem.

Laporan ini bisa menjadi dasar pijakan para pemimpin dunia dalam membuat janji dan komitmen melindungi alam di masa mendatang. Tanpa kesediaan politik melindungi alam, penurunan satwa liar akan terus terjadi dan pada akhirnya manusia akan musnah akibat tak ada lagi pendukung hidup lainnya di bumi.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain