Surat dari Darmaga | 09 Agustus 2020

Mengelola Keangkeran Hutan

Hutan itu angker ternyata menjadi sugesti dan persepsi beberapa orang. Bisa jadi nilai tambah untuk ekowisata atau menjadi modal memelihara kelestarian.

Wiene Andriyana

Rimbawan tinggal di Kanada

SEORANG teman di Ottawa sekali waktu bertanya mengapa saya punya minat pada hutan dan kehutanan. “Apa tak takut? Hutan kan seram? Banyak mahluk gaib dan gelap.” Dalam bayangannya, hutan Indonesia itu mistis, keramat, tempat para hantu dan berbagai makhluk halus.

Saya tertawa mendengarnya. Saya tunjukkan foto cantik berbagai taman nasional di Indonesia. Ia baru tahu jika taman nasional adalah bagian dari hutan. Dan hutan menyimpan panorama yang indah, seperti di foto-foto kartu pos atau kalender.

Rupanya, persepsi tentang hutan itu gelap dan seram agak berlaku umum. Dari teman-teman Indonesia yang bermukim di Kanada, 5 dari 20 orang punya pandangan serupa. Mereka yang punya pikiran seperti itu mungkin karena pengaruh dari berita dan tayangan-tayangan televisi.

Barangkali karena para ahli juga mengesampingkan soal pemahaman ini. Dalam sebuah tulisannya, Profesor Hariadi Kartodihardjo mengutip Jack Westoby, ahli kehutanan dari FAO, yang mengatakan bahwa para rimbawan memandang hutan semata dilihat secara biologi: pohon dan ekosistem yang ada di dalamnya.

Jika pun ada selain biologi, studi lain menyangkut soal antropologi, sosiologi, psikologi, atau turisme. Sekian tahun belajar secara formal tentang ilmu kehutanan, saya juga tak pernah mempelajari cara mengelola hutan dari sisi keangkeran, meskipun perlu dicari metode yang pas agar tak menyimpang secara ilmiah. Sebab secara antropologi dan sosiologi, paradigma manusia terhadap keangkeran hutan mungkin tetap bisa dipelajari, dengan tujuan mencapai kelestarian.

Ketika penelitian untuk disertasi di Randublatung, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, banyak kolega yang mengingatkan tiap kali saya hendak ke sana wawancara para narasumber, “Hati-hati loh, di sana hutannya angker.” Meski tak pernah bertemu hal-hal aneh selama penelitian, saya merasakan juga aura mistis di sana. Mungkin akibat sugesti dari cerita-cerita mistis orang lain tentang hutan ini.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan “angker” sebagai “tampak seram dan tidak semua orang dapat menjamahnya karena dianggap berhantu”. Sementara “hantu” adalah “roh jahat”. Bahkan ada lema “hantu rimba”. Secara alamiah kita punya perasaan takut pada hantu, meski pun tak pernah bertemu dengan mereka. Barangkali justru karena itu: kita takut karena pikiran kita membayangkan ketakutan.

Pada 2013 BBC membuat liputan tentang lima hutan yang dianggap paling angker di dunia (world most-haunted forest). Ternyata hutan Indonesia tidak termasuk di dalamnya. Mereka adalah: Aokigahara atau lautan pohon (Jepang), black forest (Jerman), Isla de las Munecas atau pulau boneka (Meksiko), hutan Wychwood (Inggris) dan Hoia-Baciu Woods (Romania).

Tiap hutan memiliki cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi legenda yang dikenal mendunia. Legenda Aokigahara, misalnya, hutan larangan di kaki Gunung Fuji, yang terkenal karena menjadi tempat orang Jepang bunuh diri. Sudah difilmkan pada 2015 dengan judul “Sea of Trees” yang kontroversial.

Menurut Rob Gilhooly, reporter Japan Times, hutan Aokigahara meruapkan aura depresi dan putus asa. Sehingga mereka yang datang ke sana tak segan untuk bunuh diri. Mungkin karena terkait dengan pandangan bangsa Jepang menganggap menghilangkan nyawa sendiri bagian dari menjaga kehormatan diri.

Lain lagi dengan cerita hutan Hoia-Baciu di wilayah Transylvania. Hutan yang lama diabaikan terkenal sebagai tempat berhantu selama berabad-abad. Beberapa orang dilaporkan menghilang tanpa jejak ketika masuk ke hutan ini. Tahun 1968 ada laporan masyarakat melihat benda asing yang dianggap UFO—pesawat mahluk luar angkasa—berada di atas hutan ini.

Saya tertarik pada hutan Hoia-Baciu ini karena: 1) keangkeran hutan ini tidak serta merta bernuansa negatif (dibandingkan misalnya hutan bunuh diri di Jepang); 2) terdapat upaya otoritas terkait untuk mengelola keangkeran tersebut menjadi potensi wisata, yang terkait dengan salah satu jenis wisata minat khusus, yaitu dark tourism.

Dalam literatur ilmiah, terdapat definisi yang berbeda-beda untuk dark tourism atau wisata gelap, meski pada dasarnya adalah kunjungan wisata ke suatu tempat yang memiliki kaitan dengan unsur kematian, spiritual, dan hal-hal yang bersifat mengerikan. Termasuk di dalamnya adalah wisata napak tilas ke tempat bekas peperangan, wisata kuburan, wisata hantu, wisata kunjungan ke penjara dan wisata holocaust. Contoh wisata gelap yang paling popular di dunia adalah kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Polandia, dan kastil drakula di Romania.

Dalam literatur terkait dark tourism, hutan tidak sering menjadi objek utama, selain Aokigahara itu. Hutan Hoia-Baciu di Romania mencoba menerapkan prinsip dark tourism untuk memberdayakan hutan sekaligus mendongkrak wisata dan ekonomi kota tempat hutan ini berada.

Sejak tahun 2012, ada sebuah proyek yang mengintegrasikan keangkeran Hoia-Baciu ke dalam menu wisata kota terdekatnya, Cluj-Napoca. Selain mengusung nilai misteri, mistis dan spiritual untuk wisata, proyek ini juga untuk menyelamatkan hutan dari penebangan dan pekerjaan konstruksi.

Dengan persiapan yang matang yang melibatkan masyarakat dan otoritas kota setempat dan didukung berbagai upaya promosi besar-besaran (termasuk “menjual” lokasi hutan tersebut yang berada di wilayah drakula Transylvania) hutan ini berhasil menarik peminat wisata gelap dari luar Romania, khususnya Amerika Serikat. Liputan BBC itu banyak dirujuk agen yang mempromosikan wisata ini. Juga peran Dacre Stoker (cicit Bram Stoker, penulis novel Dracula yang melegenda) sebagai duta proyek hutan Hoia-Baciu yang kian menambah populer.

Di Kanada juga ada wisata gelap. Saya mengikutinya saat mengunjungi hutan Mont Tremblant, dengan berjalan dalam trail sepanjang 1.5 kilometer selama kurang lebih 1 jam pada malam hari. Orang di sana menyebutnya tur Tonga Lumina.

Kami mulai berjalan jam 9.30 malam. Sugesti yang dibangun dalam wisata ini adalah konon hutan ini dijaga seorang raksasa. Ia akan memastikan kelestarian dan keseimbangan hutan terus terjaga. Ia akan marah jika manusia mulai merusak dan mengganggu hutan.

Tur ini dirancang sedemikian rupa sehingga sangat interaktif, bersahabat, dan menarik untuk kunjungan keluarga karena sarat dengan edukasi tentang hutan. Jadi, boro-boro menyeramkan justru informasinya bermanfaat. Apalagi banyak permainan cahaya dan teknologi terkini di dalamnya. Mungkin niatnya mau menakut-nakuti pengunjung.

Saya terkesan karena pengelola wisata berupaya memanfaatkan semua potensi hutan untuk berbagai aktivitas dari pagi sampai malam. Dengan harga tiket yang tidak murah, 28 dolar Kanada ($CAN) untuk orang dewasa, $CAN 18 untuk remaja, dan $CAN 12 untuk anak-anak, pengunjung mesti antre untuk ikut tur ini. Tiket sering kali habis sebelum semua orang membelinya.

Ada pasar untuk wisata hutan angker. Untuk konteks Indonesia, saya belum menemukan sumber-sumber terpercaya tentang wisata jenis ini, yang dikelola secara khusus sebagai nilai jual untuk wisata. Keangkeran hutan hanya dijadikan latar oleh pemandu tentang cerita mistis dan mitos sebuah hutan.

Akibatnya, persepsi bahwa hutan itu angker kian mudah merasuk ke dalam benak tiap orang berkat acara televisi yang menjual tantangan keberanian berhadapan dengan mahluk gaib. Atau kanal-kanal di You Tube yang kian banyak mengusung tempat-tempat angker, termasuk hutan.

Keangkeran hutan Indonesia sudah dikemas secara positif melalui nilai-nilai kearifan lokal masyarakat sekitarnya. Beragam studi dan literatur juga menyinggung keangkeran hutan secara positif dengan nilai-nilai sakral dan spiritual yang kemudian berdampak positif bagi kelestariannya. Misalnya oleh Manuaba dkk pada 2012 lewat Mitos, Masyarakat Adat, dan Pelestarian Hutan. Dengan kata lain, keangkeran hutan sarat dengan nilai-nilai penghormatan kepada hutan itu sendiri.

Pandangan bahwa hutan itu angker tidak bisa dihindari. Mungkin konsep dark tourism tidak serta merta pas dikembangkan dalam konteks hutan Indonesia karena beragam faktor termasuk kesesuaian dengan budaya dan nilai-nilai bangsa kita. Bisa jadi juga wilayah angker tersebut juga berada pada zona inti, yang tidak mungkin dikelola sebagai potensi wisata.

Maksud saya, keangkeran bisa jadi nilai tambah dalam ekoturisme, menjadi semacam heritage tourism. “Hutan itu angker” yang ada di benak beberapa orang bisa dinarasikan dan dibingkai secara tepat dengan nilai historis, spiritual, tradisi, dan budaya masyarakat adat untuk membentuk koneksi emosi antar pengunjung dengan hutan.

Bertepatan dengan selebrasi hari masyarakat adat sedunia—sejalan dengan semakin diakuinya kekuatan kontribusi masyarakat adat untuk kelestarian hutan—tampaknya wacana heritage tourism berpotensi menjadi sesuatu yang relevan di masa mendatang.

Dengan cara ini, edukasi tentang hutan akan mudah ditularkan. Tidak sebaliknya: hutan dibenci karena orang takut kepadanya. Bagi yang percaya, keangkeran hutan juga akan membantu memelihara kelestariannya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain