Kabar Baru

Jika Petani Hutan Sosial Belajar Virtual

Senin, 18 Mei 2020 20:48 WIB

Petani hutan sosial di Jawa Barat mendapat pelatihan dan pendampingan secara virtual. Beradaptasi dengan teknologi di masa pandemi.

Joko Susilo

Widyaiswara Balai Pendidikan dan Latihan Lingkungan HIdup dan Kehutanan Kadipaten, Jawa Barat.

TAK ada yang menyangka pandemi virus corona covid-19 mengubah banyak hal. Serangkaian jadwal pelatihan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berantakan karena kebijakan pembatasan sosial untuk mencegah penularan virus corona. Improvisasi dan kompromi pun harus ditempuh agar corona tak menghalangi apa yang sudah direncanakan.

Salah satunya adalah pelatihan petani dan pendamping perhutanan sosial. Imbas corona tak hanya di level birokrasi yang mesti membuat kebijakan, di tingkat tapak para petani juga kehilangan penghasilan akibat matinya ekowisata dan tak terjualnya komoditas hasil hutan bukan kayu yang menjadi sumber ekonomi mereka.

Untuk mencegah krisis makin lebar, pelatihan jarak jauh menjadi pilihan. Dibuka oleh Menteri LHK pada 27 April 2020, pelatihan melalui aplikasi zoom ini sudah memasuki babak akhir dengan melibatkan hampir 3.000 petani dan pendamping. Saya salah satu tutor di pelatihan itu. Saya mendengar cerita-cerita petani, yang menyedihkan tapi lebih banyak yang menggembirakan.

Seperti cerita Nandang Kosim. Ia dan masyarakat Desa Suntenjaya di Kabupaten Bandung Barat awalnya adalah perambah hutan. Saat ini mereka telah menjadi bagian dari kelompok yang akan melindungi kawasan hutan di sekitar mereka. Setelah mendapatkan izin perhutanan sosial, mereka menanami lahan hutan dengan sistem tumpang sari kopi.

Ada macam varian kopi yang mereka tanam. Kopi Buhun Tipika, kopi Ateng super. Warga Desa Suntenjaya bisa menghasilkan 18-20 ton kopi per tahun. Kopi Suntenjaya bahkan bisa  menembus pasar internasional.

Kini Nandang dan para petani sedang menyiapkan ekowisata kopi. Mereka telah memetakan kawasan potensi wisata memakai drone. Nandang melaporkannya ketika sesi kelas online. Mereka rajin mengirimkan pesan melalui WhatsApp ketika mengecek pengiriman tugas atau konsultasi masalah-masalah lain.

“Sudah upload belum, Pak?” tanyanya. Tentu maksudnya ia mengabarkan bahwa tugasnya sudah dikirim melalui learning management system (LMS) dan bertanya apakah saya sudah menerimanya.

“Sudah masuk, pak.” Saya membalas.

“Alhamdulillah, hatur nuhun Bapak. Besok siap online lagi.”

Terasa kebahagiaan mengalir melalui pesan-pesan WhatsApp. Mereka mengerjakan tugas dan mematuhi instruksi para tutor. Dalam tiga hari belajar saya mendengar mereka mengucapkan kata-kata baru semacam e-learning, LMS, online zoom meeting, lupa password, upload, dan download. Terasa sekali mereka bangga bisa mengucapkannya dalam percakapan kami.

Sebagai tutor tentu saya merasa senang juga. Para petani bisa beradaptasi dengan cepat memakai teknologi. Sebuah kemajuan yang tak ternilai.

Pendampingan tahap awal ini membawa mereka pada perlunya sosialisasi, perlunya identifikasi potensi, perlunya penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Hutan dan Lingkungan berupaya memahamkan mereka terkait penandaan batas dan pembagian zonasi/blok pada kawasan hutan sosial. Kerjasama, akses modal dan akses pasar adalah hal-hal baru yang mereka pelajari selama belajar jarak jauh ini melalui diskusi dengan tutor dan petani hutan sosial lain di Jawa Barat.

Pelajaran virtual ini juga sampai pada tahap monitoring dan evaluasi kegiatan para petani untuk memantau perubahan-perubahan setelah menjalankan program, terutama menyangkut kesesuaian rencana kerja, hambatan, tantangan, hingga upaya-upaya perbaikan. Mereka harus melaporkan semuanya sehingga proses mengelola hutan sosial menjadi tercatat.

Semoga mereka mampu mengingat serta mengimplementasikan ketika kembali ke hutan-hutan yang mereka kelola.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain