Laporan Utama | April-Juni 2018

Kearifan Lokal yang Tak Tepermanai

Indonesia menjadi contoh keberhasilan menangani kebakaran di lahan gambut. Nenek moyang kita jauh lebih intelek.

Firli Azhar Dikdayatama

Manusia Video

SELALU ada hikmah di balik musibah. Setelah menangung malu karena diledek sebagai negara pengekspor asap, Indonesia dinyatakan berhasil menangani kebakaran masif di lahan gambut pada 2015.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menceritakan bagaimana pemerintah terpukul karena kebakaran itu lalu bangkit mencari cara memadamkannya. “Pada 2017 kami berhasil menurunkan titik api hingga 93,6 persen,” katanya dalam

Pertemuan Mitra Kerja Global Peatland Initiative (GPI) di Brazaville, Republik Kongo, pada akhir Maret lalu.

GPI adalah prakarsa global yang diinisiasi beberapa negara, badan internasional, dan para ahli yang berkomitmen menjaga lahan gambut tetap lestari di seluruh dunia. Lahan gambut sebagai cadangan karbon organik yang terbesar di dunia harus dijaga supaya tidak terbakar. Negara anggota GPI akan bekerja sama dalam usaha konservasi, restorasi, dan manajemen lahan gambut yang lebih baik.

Siti menjadi pembicara kunci dalam Dialog Tingkat Menteri tersebut. Menurut dia, keberhasilan memadamkan api itu terletak pada dua faktor: inisiatif kerja sama dengan swasta dan penegakan hukum yang efektif. Ada 500 kasus kebakaran hutan dan lahan gambut yang dibawa ke pengadilan. Putusan hakim paling fenomenal adalah denda US$ 1,2 juta kepada sebuah perusahaan pemilik konsesi lahan.

Indonesia, kata Siti, punya ekosistem gambut yang lengkap, mulai dari gambut pesisir Sumatera, Kalimantan, dan Papua, gambut delta di Sungai Mahakam Kalimantan Timur, Kapuas di Kalimantan Barat, hingga gambut di dataran tinggi seperti Papua. “Gambut rawa di Kalimantan mempunyai kemiripan dengan gambut yang ada di Kongo,” kata Menteri Siti.

Menurut rilis Kementerian Lingkungan, Pemerintah Republik Demokratik Kongo tertarik belajar mengenai kerangka institusional mengelola gambut. Salah satunya adalah pendirian Badan Restorasi Gambut (BRG) sebagai bagian tak terpisahkan yang mendukung strategi besar manajemen lahan gambut.

Sampai 2018, program yang dijalankan BRG telah mencakup 2,49 juta hektare, 1,39 juta hektare restorasi dilakukan oleh sektor swasta. "Perusahaan pemegang konsesi sangat proaktif memulai kolaborasi dalam memperbaharui teknologi dan juga mengedukasi para petani untuk manajemen lahan gambut yang berkelanjutan,” kata Siti.

Dalam forum itu, Menteri Siti juga menyampaikan bahwa Indonesia berkomitmen melakukan penelitian dalam restorasi dan manajemen lahan gambut, serta pengembangan sistem monitoring ketinggian permukaan air dan vegetasi (teknik Sesame dan Morpalaga), pembentukan web dan portal online untuk peta dan penggunaan lahan gambut, yang berisi informasi mengenai biofisik, sosial, status legal, dan aspek administrasi di beberapa kabupaten yang menjadi percontohan.

"Indonesia juga memiliki ‘Desa Peduli Gambut’ sebagai model manajemen lahan gambut terintegrasi yang melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan konservasi lahan gambut,” ujar Menteri Siti.

Masyarakat yang tinggal di sekitar gambut juga memiliki teknik budidaya lahan gambut yang terbukti berhasil dipraktikkan di negara-negara empat musim. Teknik yang disebut paludikultur itu sejatinya sudah diterapkan oleh masyarakat Indonesia secara berabad-abad.

Hanya saja, kata Deputi IV BRG Haris Gunawan, jarang ada penelitian yang mendalami teknik-teknik ini sehingga istilah dan tekniknya diilmiahkan oleh negara lain yang lebih maju bidang risetnya. “Paludikultur itu teknik budidaya paling cocok dengan jalan restorasi,” kata dia.

Paludikultur menggabungkan pelbagai teknik budidaya tanaman, perikanan, dan agroforestri di lahan gambut tanpa merusak ekosistemnya, justru kian memperkaya keanekaragaman hayati di dalamnya. Kearifan masyarakat lokal bersekutu dengan alam ternyata telah lebih dahulu mempraktikkan teknik ilmiah dalam mengelola alam.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain