Laporan Khusus | Januari-Maret 2020

Sertifikasi Hutan: Seberapa Penting?

Forest Stewardship Council merupakan sertifikasi hutan dan hasil hutan berskala internasional. Meningkatkan manfaat ekonomi petani.

Indra Setia Dewi

Manajer Komunikasi dan Pemasaran FSC

FOREST Stewardship Council (FSC) didirikan pada 1993. Berkantor pusat di Bonn, Jerman, ia adalah jawaban atas polemik deforestasi dan degradasi hutan antara aktivis lingkungan dan pebisnis global. Perdebatan itu memuncak pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi tahun 1990 di Rio de Jenairo, Brazil.

Setelah konferensi itu, para pelaku lingkungan sepakat perlunya kemitraan untuk menjaga keberlanjutan hutan, sekaligus membuat langkah strategis memanfaatkan mekanisme pasar untuk merangsang timbulnya gerakan kesadaran lingkungan. Kini FSC punya 46 kantor cabang nasional dan 6 regional.

FSC berdiri sebagai organisasi nirlaba yang berbasis keanggotaan dengan misi mempromosikan pengelolaan hutan yang ramah lingkungan, bermanfaat secara sosial, dan berkelanjutan secara ekonomi. Penilaian FSC bersifat sukarela dengan menerapkan 10 prinsip:

  1. Memenuhi aturan yang berlaku baik global, nasional, dan lokal
  2. Memiliki hak pengelolaan yang sah dan legal
  3. Menghargai hak tradisional atau adat
  4. Menghargai kemapanan dalam masyarakat dan pemenuhan hak dasar pekerja
  5. Menjaga suberdaya alam agar bermanfaat secara berkelanjutan
  6. Mengelola dan mengurangi dampak ekologis
  7. Membuat dan melaksanakan rencana pengelolaan
  8. Mengawasi secara rutin terhadap dampak pengelolaan hutan terhadap tumbuhan, satwa, tanah, dan air.
  9. Pemeliharaan hutan dengan nilai konservasi tinggi
  10. Mengelola hutan tanaman untuk mengurangi tekanan terhadap hutan alam.

Sepuluh prinsip tersebut diturunkan menjadi international generic indicator (IGI) yang berlaku secara global. IGI lalu diadaptasi menjadi FSC Standar Nasional yang disusun oleh Standard Development Group yang beranggotakan pemangku kepentingan masing-masing negara untuk menjamin kesesuaian konteks dan penerimaan prinsip FSC di setiap negara. Standar FSC berlaku untuk semua bentuk pengelolaan hutan: alam, tanaman, rakyat/perhutanan sosial, serta produk hutan baik barang (kayu dan hasil hutan bukan kayu) maupun jasa lingkungan hutan.

Standar Nasional FSC untuk Indonesia dibangun bekerja sama dengan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan saat ini dalam tahap akhir penyelesaian sehingga tahun bisa diberlakukan Perum Perhutani merupakan unit manajemen hutan pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi FSC pada 1999, disusul PT Diamond Raya Timber di Riau pada 2001.

Hingga 2019, total luas hutan yang telah mendapatkan sertifikasi FSC di dunia adalah 201.887.000 hektare, sedangkan di Indonesia seluas 2.955.291 hektare. Luas tersebut meliputi 20 unit  hutan alam, 7 unit hutan tanaman. Sedangkan untuk hutan berbasis masyarakat sebanyak 13 unit, dengan luas lebih dari 28.000 hektare.

Tidak hanya produk berbasis kayu yang telah mendapatkan sertifikasi FSC di Indonesia, pengelolaan hutan non-kayu berbasis masyarakat pun telah mendapatkannya, yakni Kelompok Mitra Pengaman Hutan Sesaot di Lombok untuk komoditi jasa lingkungan dan Perkumpulan Petani Rotan Katingan. Dalam waktu dekat, karet alam, bambu, jasa lingkungan keanekaragaman hayati, dan karbon, juga akan mendapatkan sertifikat FSC.

Khusus untuk pengelolaan hutan dengan skala kecil dan intensitas rendah, FSC menerapkan skema SLIMF (small or low intensity managed forest). Termasuk dalam skema SLIMF ini adalah hutan rakyat. Di Asia Pasifik, FSC mengembangkan standar khusus pengelolaan hutan untuk usaha kecil. Standar ini hanya untuk individu petani dengan maksimal lahan adalah 50 hektare. Dengan standar ini, petani bisa mengakses skema sertifikasi dengan lebih mudah.

FSC juga memiliki sertifikat lacak balak (FSC-Chain of Custody) yang berguna untuk memastikan industri maupun pedagang memakai dan menjual bahan baku dari hutan yang tersertifikasi FSC. Industri yang telah disertifikasi dengan skema ini lebih dari 40.700 unit di dunia, dan 317 unit di Indonesia. Meliputi produk kayu berupa panel dan gergajian, furnitur, kertas, kemasan kertas, dan produk lain yang memakai bahan baku kayu.

Produk yang telah tersertifikasi standar FSC bisa memakai label FSC untuk membedakannya dari produk lain yang belum tersertifikasi. Untuk menjaga kredibilitas labelnya, FSC mempunyai standar merek dagang sebagai panduan menggunakan label yang berlaku di seluruh dunia. 

Penilaian sertifikasi FSC di lapangan dilakukan oleh lembaga sertifikasi yang telah terakreditasi oleh Assurance Services International (http://www.asi-assurance.org/s. Di Indonesia ada delapan lembaga yang sudah memiliki akreditasi ini.

Bagi hutan rakyat, sertifikasi juga bisa memberikan manfaat tambahan. Salah satunya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. Tidak saja untuk pasar global juga untuk pasar dalam negeri. Superindo, retail besar di Indonesia, telah menyediakan produk peralatan dapur dari kayu dengan merek 365 yang berlabel FSC.

Produk 365 diproduksi oleh PT KWaS. Kayunya dipasok oleh PT Sosial Bisnis Indonesia (SOBI) yang mengelola hutan rakyat bersama Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) di Kulonprogo. Semua rantai telah mendapatkan sertifikasi FSC. Dengan menerapkan standar FSC bersama PT SOBI, pengelola hutan rakyat mendapatkan manfaat berupa harga yang lebih baik. Selain itu, dengan standar FSC yang ketat, pengelola hutan rakyat juga menjadi sadar pentingnya menerapkan standar keselamatan untuk penebangan, sehingga prosedur penebangan yang standar keamanan pun diterapkan, misalnya, pemakaian perlengkapan alat pelindung diri yang wajib dipakai selama bekerja.

Anggota KWLM juga diwajibkan menanam tiga bibit pohon, sebagai pengganti tiap pohon yang ditebang. Koperasi menyediakan bibit secara gratis. KWLM telah membagikan lebih dari 20.000 bibit di lahan anggotanya di enam kecamatan. 

Selain KWLM, hutan rakyat tersertifikasi FSC yang mendapatkan manfaat sertifikasi secara ekonomi hutan yang dikelola PT Xylo Indah Pratama di Sumatera Selatan. Mereka memasok bahan baku produk pensil ke PT Faber-Castell yang dipasarkan untuk pasar global maupun lokal.

Seperti dituturkan kepada Wike Andiani dari Forest Digest.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain